Cerita WNI Kala Covid 'Menggila' Lagi di Jerman dan Rusia
CNN Indonesia
Kamis, 25 Nov 2021 11:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jerman kembali melakukan lockdown ketika kasus Covid-19 naik lagi. (AFP/ODD ANDERSEN)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rusia dan Jerman merupakan beberapa negara Eropa yang tengah mengalami lonjakan kasus Covid-19. Walaupun sama-sama mengalami lonjakan kasus, kenaikan angka kematian di negara ini berbeda.
Mengutip Worldometers, kenaikan angka kasus harian Covid-19 di Rusia mencapai 33.996 kasus per Selasa (23/11). Sementara itu, penambahan kasus kematian akibat infeksi corona di hari yang sama mencapai 1.243 kasus.
Berpindah ke Jerman, penambahan kasus positif harian Covid-19 di negara itu mencapai 54.268 kasus pada Selasa (23/11). Namun, kenaikan kasus kematian harian di hari yang sama hanya 343 kasus, terpaut jauh dengan Rusia yang mencapai ribuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun angka kematian yang dihadapi Jerman dan Rusia berbeda, keduanya masih memiliki masalah yang beririsan, yakni kelompok anti-vaksin.
Sebelumnya, para dokter terkemuka Rusia mengundang sejumlah tokoh dari kalangan selebritas hingga politikus anti-vaksin untuk meninjau rumah sakit di area zona merah Covid-19.
Dalam surat terbuka yang dirilis media pemerintah Rusia, TASS, 11 dokter dari berbagai kota mengundang puluhan tokoh publik yang menyatakan diri sebagai anti-vaksin untuk meluangkan waktu guna mengunjungi pusat perawatan pasien Covid-19 yang terkena dampak langsung pandemi.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn menegaskan hanya ada tiga hal yang berlaku bagi warga negaranya saat ini yakni divaksinasi, sembuh dari Covid-19, atau meninggal dunia karena virus serupa SARS itu.
"Mungkin, sampai akhir tahun ini di musim dingin, seperti yang sering dianggap sinis, hampir semua orang di Jerman akan divaksinasi, disembuhkan, atau meninggal (karena Covid)," kata Spahn seperti dikutip CNN.
Muhammad Machally, salah satu warga negara Indonesia yang kini tinggal di Jerman, mengatakan banyak warga negara itu yang khawatir dengan penyebaran virus corona.
"Kalo warga sini, saya amati banyak banget yang khawatir dan takut pas angka (infeksi Covid-19) naik. Setiap mau ketemu selalu minta tes cepat/swab test. Tapi di sini ada juga beberapa kelompok penyangkal corona, namanya Querdenker," tutur Machally ketika diwawancarai CNNIndonesia.com, Selasa (23/11).
Machally juga menuturkan, kelompok penolak vaksin di Jerman muncul karena beberapa masyarakat percaya dengan teori konspirasi.
"Tapi ada beberapa kelompok yang kayanya setuju sama teori-teori konspirasi tentang vaksin dan corona. Tidak mau gara-gara itu tadi, kemakan teori-teori konspirasi. Padahal vaksin 100 persen ada buat setiap warganya sama orang asing yang tinggal di Jerman, gratis," cerita Machally.
Beberapa teori konspirasi yang sempat Machally dengar antara lain ialah vaksin dapat menyebabkan keturunan orang yang menerimanya mengalami keterbelakangan mental. Ada pula beberapa orang yang tidak percaya dengan keberadaan virus corona. Bahkan, ada pula orang yang percaya vaksin memiliki microchip, tambah Machally.
Selain itu, Machally menyinggung soal penyebab kenaikan angka kasus harian positif Covid-19 di Jerman. Ia menilai pelonggaran pembatasan sosial yang terjadi pada musim panas hingga akhir Oktober menjadi salah satu penyebab lonjakan itu.
Tak hanya itu, ia juga menuturkan ada beberapa warga Jerman yang kemudian tak lagi terlalu ketat menjaga diri mereka dari virus, seperti mulai tidak pakai masker dan tak menggunakan hand sanitizer.
Berpindah ke Rusia, salah satu WNI yang kini tinggal di negara itu, Rendi Casmono, mengakui kalau Rusia memang mengalami lonjakan kasus Covid-19.
"Kasusnya sendiri sebenarnya di sini aku bisa bilang mungkin masih cukup tinggi. Sebenarnya di Rusia, khususnya Moskow ya karena saat ini memang aku tinggalnya di Moskow. Kasusnya memang secara global Rusianya sendiri memang cukup tinggi," kata Rendi ketika diwawancara CNNIndonesia.com, Rabu (24/11).
Rendi juga menyinggung angka vaksinasi di Rusia yang masih rendah. Ia juga menceritakan kalau pemerintah Rusia mencanangkan program vaksinasi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Ia mencontohkan, vaksinasi dapat dilakukan di salah satu pusat perbelanjaan bahkan di beberapa fasilitas umum seperti stadion. Walaupun demikian, ia juga mengerti akan keraguan yang muncul di masyarakat Rusia terkait vaksin.
"Jadi terkait masih ragu atau enggaknya, saya rasa di semua negara. Tidak cuma Rusia sebenarnya, pasti ada saja keraguan terhadap sesuatu yang baru," tambah Rendi.
Rendi juga menyinggung vaksinasi gratis di Rusia baru hanya diberikan untuk warga negara itu.
"Vaksin di sini untuk masyarakat Rusianya tuh gratis, tapi untuk masyarakat luar yang tinggal di Rusia itu tetap bayar," ucapnya lagi.
Ketika ditanya soal pemberlakuan penutupan wilayah (lockdown) di Rusia, Rendi menceritakan kalau kantor di negara itu ditutup. Tak hanya itu, restoran juga harus melayani pengunjung dengan sistem take away saja. Ia juga mengatakan hanya supermarket dan toko penjual barang pokok yang boleh buka kala lockdown.
Rusia sendiri sempat melakukan lockdown selama seminggu untuk menangani penyebaran virus corona. Namun, lockdown masih belum kembali diberlakukan.
"Untuk kondisi penduduk sudah normal. Maksudnya ya mereka diwajibkan menggunakan masker di daerah-daerah ramai, lalu di toko-toko tertutup, tempat tertutup, dan area transportasi publik. Itu mereka diwajibkan menggunakan masker."
"Kemudian untuk aktivitas, yang kantor sudah mulai kerja di kantor lagi, yang kuliah, ada sebagian yang offline, ada juga sebagian yang masih online," cerita Rendi.
Rusia merupakan negara Eropa yang juga sempat diberitakan memiliki tingkat vaksinasi yang rendah.
Menurut Our World in Data per Selasa (23/11), hanya 37 persen penduduk Rusia yang baru menerima vaksin lengkap. Sementara itu berdasarkan laporan yang sama, angka vaksinasi di Jerman baru sekitar 67 persen.
Jakarta, CNN Indonesia --
Rusia dan Jerman merupakan beberapa negara Eropa yang tengah mengalami lonjakan kasus Covid-19. Walaupun sama-sama mengalami lonjakan kasus, kenaikan angka kematian di negara ini berbeda.
Mengutip Worldometers, kenaikan angka kasus harian Covid-19 di Rusia mencapai 33.996 kasus per Selasa (23/11). Sementara itu, penambahan kasus kematian akibat infeksi corona di hari yang sama mencapai 1.243 kasus.
Berpindah ke Jerman, penambahan kasus positif harian Covid-19 di negara itu mencapai 54.268 kasus pada Selasa (23/11). Namun, kenaikan kasus kematian harian di hari yang sama hanya 343 kasus, terpaut jauh dengan Rusia yang mencapai ribuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun angka kematian yang dihadapi Jerman dan Rusia berbeda, keduanya masih memiliki masalah yang beririsan, yakni kelompok anti-vaksin.
Sebelumnya, para dokter terkemuka Rusia mengundang sejumlah tokoh dari kalangan selebritas hingga politikus anti-vaksin untuk meninjau rumah sakit di area zona merah Covid-19.
Dalam surat terbuka yang dirilis media pemerintah Rusia, TASS, 11 dokter dari berbagai kota mengundang puluhan tokoh publik yang menyatakan diri sebagai anti-vaksin untuk meluangkan waktu guna mengunjungi pusat perawatan pasien Covid-19 yang terkena dampak langsung pandemi.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn menegaskan hanya ada tiga hal yang berlaku bagi warga negaranya saat ini yakni divaksinasi, sembuh dari Covid-19, atau meninggal dunia karena virus serupa SARS itu.
"Mungkin, sampai akhir tahun ini di musim dingin, seperti yang sering dianggap sinis, hampir semua orang di Jerman akan divaksinasi, disembuhkan, atau meninggal (karena Covid)," kata Spahn seperti dikutip CNN.
Muhammad Machally, salah satu warga negara Indonesia yang kini tinggal di Jerman, mengatakan banyak warga negara itu yang khawatir dengan penyebaran virus corona.
"Kalo warga sini, saya amati banyak banget yang khawatir dan takut pas angka (infeksi Covid-19) naik. Setiap mau ketemu selalu minta tes cepat/swab test. Tapi di sini ada juga beberapa kelompok penyangkal corona, namanya Querdenker," tutur Machally ketika diwawancarai CNNIndonesia.com, Selasa (23/11).
Machally juga menuturkan, kelompok penolak vaksin di Jerman muncul karena beberapa masyarakat percaya dengan teori konspirasi.
"Tapi ada beberapa kelompok yang kayanya setuju sama teori-teori konspirasi tentang vaksin dan corona. Tidak mau gara-gara itu tadi, kemakan teori-teori konspirasi. Padahal vaksin 100 persen ada buat setiap warganya sama orang asing yang tinggal di Jerman, gratis," cerita Machally.
Beberapa teori konspirasi yang sempat Machally dengar antara lain ialah vaksin dapat menyebabkan keturunan orang yang menerimanya mengalami keterbelakangan mental. Ada pula beberapa orang yang tidak percaya dengan keberadaan virus corona. Bahkan, ada pula orang yang percaya vaksin memiliki microchip, tambah Machally.
Selain itu, Machally menyinggung soal penyebab kenaikan angka kasus harian positif Covid-19 di Jerman. Ia menilai pelonggaran pembatasan sosial yang terjadi pada musim panas hingga akhir Oktober menjadi salah satu penyebab lonjakan itu.
Tak hanya itu, ia juga menuturkan ada beberapa warga Jerman yang kemudian tak lagi terlalu ketat menjaga diri mereka dari virus, seperti mulai tidak pakai masker dan tak menggunakan hand sanitizer.
Lonjakan Covid dan Vaksinasi di Rusia
Angka kematian akibat Covid-19 di rusia melonjak tinggi. (AP Photo)
Berpindah ke Rusia, salah satu WNI yang kini tinggal di negara itu, Rendi Casmono, mengakui kalau Rusia memang mengalami lonjakan kasus Covid-19.
"Kasusnya sendiri sebenarnya di sini aku bisa bilang mungkin masih cukup tinggi. Sebenarnya di Rusia, khususnya Moskow ya karena saat ini memang aku tinggalnya di Moskow. Kasusnya memang secara global Rusianya sendiri memang cukup tinggi," kata Rendi ketika diwawancara CNNIndonesia.com, Rabu (24/11).
Rendi juga menyinggung angka vaksinasi di Rusia yang masih rendah. Ia juga menceritakan kalau pemerintah Rusia mencanangkan program vaksinasi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Ia mencontohkan, vaksinasi dapat dilakukan di salah satu pusat perbelanjaan bahkan di beberapa fasilitas umum seperti stadion. Walaupun demikian, ia juga mengerti akan keraguan yang muncul di masyarakat Rusia terkait vaksin.
"Jadi terkait masih ragu atau enggaknya, saya rasa di semua negara. Tidak cuma Rusia sebenarnya, pasti ada saja keraguan terhadap sesuatu yang baru," tambah Rendi.
Rendi juga menyinggung vaksinasi gratis di Rusia baru hanya diberikan untuk warga negara itu.
"Vaksin di sini untuk masyarakat Rusianya tuh gratis, tapi untuk masyarakat luar yang tinggal di Rusia itu tetap bayar," ucapnya lagi.
Ketika ditanya soal pemberlakuan penutupan wilayah (lockdown) di Rusia, Rendi menceritakan kalau kantor di negara itu ditutup. Tak hanya itu, restoran juga harus melayani pengunjung dengan sistem take away saja. Ia juga mengatakan hanya supermarket dan toko penjual barang pokok yang boleh buka kala lockdown.
Rusia sendiri sempat melakukan lockdown selama seminggu untuk menangani penyebaran virus corona. Namun, lockdown masih belum kembali diberlakukan.
"Untuk kondisi penduduk sudah normal. Maksudnya ya mereka diwajibkan menggunakan masker di daerah-daerah ramai, lalu di toko-toko tertutup, tempat tertutup, dan area transportasi publik. Itu mereka diwajibkan menggunakan masker."
"Kemudian untuk aktivitas, yang kantor sudah mulai kerja di kantor lagi, yang kuliah, ada sebagian yang offline, ada juga sebagian yang masih online," cerita Rendi.
Rusia merupakan negara Eropa yang juga sempat diberitakan memiliki tingkat vaksinasi yang rendah.
Menurut Our World in Data per Selasa (23/11), hanya 37 persen penduduk Rusia yang baru menerima vaksin lengkap. Sementara itu berdasarkan laporan yang sama, angka vaksinasi di Jerman baru sekitar 67 persen.