Kisah WNI Tampung 140 Orang Korban Banjir Malaysia
CNN Indonesia
Kamis, 23 Des 2021 16:51 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi banjir Malaysia. (AP/Vincent Thian)
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang warga negara Indonesia (WNI) di Malaysia, Fathurrozaq bin Supardi, menyediakan tumpangan bagi sekitar 140 orang ketika Negeri Jiran dilanda banjir selama beberapa hari belakangan.
Fathurrozaq mengatakan bahwa rumahnya terletak di daerah tinggi, tepatnya di kawasan Sungai Udang, Selangor. Karena itu, banyak orang datang untuk mendapatkan tempat berlindung di rumahnya.
"Ada sekitar 140 orang lah. Ya, saya cuma bisa bantu itu. Kasihan mereka rumahnya hancur," kata Fathurrozaq kepada CNNIndonesia.com, Kamis (23/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia kemudian bercerita, "Tapi sekarang sudah tak banyak lah. Sekarang sudah balik satu per satu. Malam ini sepertinya sudah tidak ada lagi."
Fathurrozaq juga menyediakan makanan bagi para pengungsi. Namun, para pengungsi sendiri juga saling bantu untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka.
Ia bercerita bahwa ada beberapa WNI juga yang mengungsi di rumahnya. Menurutnya, warga yang terkena dampak banjir di area itu belum mendapat bantuan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia.
"Saya memang buka warung, dan sebagian orang Jiran dan tetangga Alhamdulillah (membantu), tapi petugas dari kedutaan belum ada (yang membantu)," tuturnya.
Salah satu WNI di Klang Kampung Jawa di Selangor, Maryam (bukan nama sebenarnya) juga terdampak imbas banjir di Negeri Jiran.
Maryam baru menyadari rumahnya kebanjiran saat ia akan membuatkan susu untuk anaknya di dapur pada Jumat (17/12) dini hari.
"Anak minta susu sekali. Saya bangun masuk ke dapur air sudah selutut," tutur dia.
Ia kemudian buru-buru membangunkan anak-anak dan suaminya agar bergegas pindah ke tempat yang lebih aman.
Kisah Maryam mencari tempat berlindung hingga anaknya trauma banjir bisa dibaca di halaman selanjutnya >>>
Maryam dan sang suami terus berusaha menguras air di bagian depan dan belakang rumah, tapi banjir terus menghampiri.
"Air terus masuk. Setelah itu pukul 05.30 (waktu setempat) air mulai tinggi sampai pukul 09.00," ucapnya.
Air mulai surut saat pukul 09.00. Namun, ketika pukul 18.45, air masuk ke rumah Maryam lagi hingga keesokan harinya. Banjir yang terus melanda membuat Maryam dan keluarga mengungsi ke rumah kerabat yang lebih aman.
"Hari Sabtu ke Minggu air tambah tinggi, sampai ke lutut. Kami pergi mengungsi," katanya.
Ia mengaku baru pertama menghadapi banjir seperti itu. Anaknya mengalami trauma saat mendapati rumah penuh air.
"Anak saya trauma, di mana-mana air. Waktu banjir dia diam, heran banyak air," ujarnya.
Namun kini, Maryam dan keluarga sudah bisa kembali ke rumah. Ia dan suami lantas membersihkan tempat tinggal dari sisa-sisa banjir. Meski sudah dibersihkan, mereka belum bisa meletakkan kembali barang-barang sebagaimana biasanya.
Pemerintah setempat, katanya, meminta warga berjaga-jaga dan tetap mengamankan barang-barang yang diperlukan karena ada potensi banjir susulan. Mereka pun tidur secara bergantian mengantisipasi banjir susulan.
Banjir di Malaysia terjadi mulai Jumat pekan lalu. Hingga kini, ada sejumlah titik yang masih terendam banjir.
Beberapa pengamat mengatakan banjir dipicu oleh perubahan iklim yang ekstrem. Di luar faktor alam itu, sejumlah pihak juga menyalahkan koordinasi di jajaran pemerintahan dan drainase yang buruk.
Imbas banjir di Malaysia, 27 orang meninggal dan 40 ribu penduduk mengungsi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang warga negara Indonesia (WNI) di Malaysia, Fathurrozaq bin Supardi, menyediakan tumpangan bagi sekitar 140 orang ketika Negeri Jiran dilanda banjir selama beberapa hari belakangan.
Fathurrozaq mengatakan bahwa rumahnya terletak di daerah tinggi, tepatnya di kawasan Sungai Udang, Selangor. Karena itu, banyak orang datang untuk mendapatkan tempat berlindung di rumahnya.
"Ada sekitar 140 orang lah. Ya, saya cuma bisa bantu itu. Kasihan mereka rumahnya hancur," kata Fathurrozaq kepada CNNIndonesia.com, Kamis (23/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia kemudian bercerita, "Tapi sekarang sudah tak banyak lah. Sekarang sudah balik satu per satu. Malam ini sepertinya sudah tidak ada lagi."
Fathurrozaq juga menyediakan makanan bagi para pengungsi. Namun, para pengungsi sendiri juga saling bantu untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka.
Ia bercerita bahwa ada beberapa WNI juga yang mengungsi di rumahnya. Menurutnya, warga yang terkena dampak banjir di area itu belum mendapat bantuan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia.
"Saya memang buka warung, dan sebagian orang Jiran dan tetangga Alhamdulillah (membantu), tapi petugas dari kedutaan belum ada (yang membantu)," tuturnya.
Salah satu WNI di Klang Kampung Jawa di Selangor, Maryam (bukan nama sebenarnya) juga terdampak imbas banjir di Negeri Jiran.
Maryam baru menyadari rumahnya kebanjiran saat ia akan membuatkan susu untuk anaknya di dapur pada Jumat (17/12) dini hari.
"Anak minta susu sekali. Saya bangun masuk ke dapur air sudah selutut," tutur dia.
Ia kemudian buru-buru membangunkan anak-anak dan suaminya agar bergegas pindah ke tempat yang lebih aman.
Kisah Maryam mencari tempat berlindung hingga anaknya trauma banjir bisa dibaca di halaman selanjutnya >>>
Kisah Anak WNI Trauma Banjir Malaysia
Ilustrasi banjir Malaysia. (AP/Vincent Thian)
Maryam dan sang suami terus berusaha menguras air di bagian depan dan belakang rumah, tapi banjir terus menghampiri.
"Air terus masuk. Setelah itu pukul 05.30 (waktu setempat) air mulai tinggi sampai pukul 09.00," ucapnya.
Air mulai surut saat pukul 09.00. Namun, ketika pukul 18.45, air masuk ke rumah Maryam lagi hingga keesokan harinya. Banjir yang terus melanda membuat Maryam dan keluarga mengungsi ke rumah kerabat yang lebih aman.
"Hari Sabtu ke Minggu air tambah tinggi, sampai ke lutut. Kami pergi mengungsi," katanya.
Ia mengaku baru pertama menghadapi banjir seperti itu. Anaknya mengalami trauma saat mendapati rumah penuh air.
"Anak saya trauma, di mana-mana air. Waktu banjir dia diam, heran banyak air," ujarnya.
Namun kini, Maryam dan keluarga sudah bisa kembali ke rumah. Ia dan suami lantas membersihkan tempat tinggal dari sisa-sisa banjir. Meski sudah dibersihkan, mereka belum bisa meletakkan kembali barang-barang sebagaimana biasanya.
Pemerintah setempat, katanya, meminta warga berjaga-jaga dan tetap mengamankan barang-barang yang diperlukan karena ada potensi banjir susulan. Mereka pun tidur secara bergantian mengantisipasi banjir susulan.
Banjir di Malaysia terjadi mulai Jumat pekan lalu. Hingga kini, ada sejumlah titik yang masih terendam banjir.
Beberapa pengamat mengatakan banjir dipicu oleh perubahan iklim yang ekstrem. Di luar faktor alam itu, sejumlah pihak juga menyalahkan koordinasi di jajaran pemerintahan dan drainase yang buruk.
Imbas banjir di Malaysia, 27 orang meninggal dan 40 ribu penduduk mengungsi.