Cerita Warga Dengar 'Bom' Gunung Api Tonga hingga Rumah Disapu Tsunami
CNN Indonesia
Senin, 17 Jan 2022 09:42 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ribuan warga pesisir Peru dan Jepang diminta evakuasi ke dataran tinggi usai peringatan tsunami di sejumlah negara imbas erupsi gunung api Tonga. (Foto: REUTERS/RODRIGO GARRIDO)
Jakarta, CNN Indonesia --
Warga Tonga berlarian pergi ke dataran tinggi pada Sabtu (15/1), setelah erupsigunung apibawah laut memicu gelombang tinggi tsunami dan peringatan di beberapa negara Pasifik dan Amerika.
Letusan terakhir gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai terjadi hanya dalam beberapa jam setelah peringatan tsunami pada Jumat (14/1) dicabut.
Mere Taufa, salah satu warga Tonga bercerita dia sedang mempersiapkan makan malam saat air laut akibat tsunami mulai memasuki rumahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taufa mengatakan beberapa menit sebelum air pasang, dia dan saudara laki-lakinya mendengar letusan besar yang mereka kira adalah ledakan bom.
"Itu sangat besar, tanah bergetar, rumah kami bergoyang, itu datang dengan gelombang. Adik lelaki saya berpikir ada bom yang meletus di dekat (kami), ujar Taufa kepada media online Stuff, dikutip dari AFP.
Taufa bercerita, air memenuhi rumahnya beberapa menit kemudian dan ia melihat tembok rumah tetangganya roboh.
"Kami langsung tahu ini tsunami. Air menyembur ke rumah kami," katanya.
"Kami bisa mendengar teriakan dari segala arah, orang-orang berteriak agar ingin selamatkan diri, meminta semua orang pergi ke dataran tinggi," ujarnya lagi.
Sementara itu, Raja Tonga Topou VI dilaporkan telah dievakuasi dari Istana Kerajaan di Nuku'alofa. Ia dikawal polisi ke sebuah vila yang jauh dari pantai.
Erupsi pertama bertahan hingga setidaknya delapan menit dan mengeluarkan gumpalan gas, abu, dan asap beberapa kilometer di udara. Warga di pinggir pantai juga didesak untuk pergi ke dataran yang lebih tinggi.
Di sisi lain, Victorina Kioa dari Komisi Pelayanan Publik Tonga pada Jumat (14/1) mendesak warga untuk menjauhi daerah berbahaya seperti wilayah pesisir berdataran rendah, karang, dan pantai.
Kepala Layanan Geologi Tonga, Taaniela Kula juga mengimbau warga untuk berada di dalam ruangan, menggunakan masker saat di luar, dan menutup penyimpan cadangan air hujan dan sistem pemanenan air hujan.
Dampak letusan Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha'apai dapat dibaca di halaman berikutnya >>>
Gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai terletak di sebuah pulau tak berpenghuni yang berjarak sekitar 65 kilometer dari ibu kota Tonga, Nuku'alofa. Gunung ini erupsi pertama kali pada Jumat (14/1) dan memuntahkan gumpalan abu vilkanik setinggi 20 kilometer ke udara.
Foto citra satelit yang beredar di media sosial juga menunjukkan letusan dahsyat gunung tersebut.
Letusan kedua terjadi pada Sabtu (15/1) pukul 17.26 waktu setempat. Letusan kali ini memicu tsunami Tonga dan berdampak pada sejumlah wilayah lainnya.
Akibat erupsi gunung tersebut, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik mengeluarkan "peringatan tsunami" untuk wilayah Samoa Amerika. Badan ini menuturkan ada ancaman fluktuasi air laut dan arus laut kuat yang bisa menimbulkan bahaya di pantai.
Peringatan yang sama juga dikeluarkan oleh otoritas Selandia Baru, Fiji, Vanuatu, Jepang, Australia, Peru, hingga Amerika Serikat.
Di Suva, Fiji, seorang pejabat mengatakan erupsi yang terjadi sangat hebat dan terdengar seperti 'suara petir besar'. Padahal, Suva berjarak lebih dari 800 kilometer dari gunung api Tonga.
Beberapa pejabat Fiji juga memperingatkan masyarakat untuk menutup tangki penampung air mengantisipasi terjadi hujan asam.
Efek erupsi dan tsunami ini mengakibatkan listrik serta jaringan telepon dan internet terputus sejak Sabtu. Ini membuat sebagian besar warga tidak terjangkau dalam kepanikan.
Sejumlah ahli menganggap butuh dua pekan setidaknya untuk memulihkan jaringan komunikasi dan internet Tonga.
Hingga kini, sejumlah pihak seperti Australia dan Selandia Baru melaporkan tidak ada korban jiwa akibat tsunami dan gunung meletus di Tonga.
Namun, kerusakan signifikan tercatat akibat bencana tersebut.
Warga Tonga berlarian pergi ke dataran tinggi pada Sabtu (15/1), setelah erupsigunung apibawah laut memicu gelombang tinggi tsunami dan peringatan di beberapa negara Pasifik dan Amerika.
Letusan terakhir gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai terjadi hanya dalam beberapa jam setelah peringatan tsunami pada Jumat (14/1) dicabut.
Mere Taufa, salah satu warga Tonga bercerita dia sedang mempersiapkan makan malam saat air laut akibat tsunami mulai memasuki rumahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taufa mengatakan beberapa menit sebelum air pasang, dia dan saudara laki-lakinya mendengar letusan besar yang mereka kira adalah ledakan bom.
"Itu sangat besar, tanah bergetar, rumah kami bergoyang, itu datang dengan gelombang. Adik lelaki saya berpikir ada bom yang meletus di dekat (kami), ujar Taufa kepada media online Stuff, dikutip dari AFP.
Taufa bercerita, air memenuhi rumahnya beberapa menit kemudian dan ia melihat tembok rumah tetangganya roboh.
"Kami langsung tahu ini tsunami. Air menyembur ke rumah kami," katanya.
"Kami bisa mendengar teriakan dari segala arah, orang-orang berteriak agar ingin selamatkan diri, meminta semua orang pergi ke dataran tinggi," ujarnya lagi.
Sementara itu, Raja Tonga Topou VI dilaporkan telah dievakuasi dari Istana Kerajaan di Nuku'alofa. Ia dikawal polisi ke sebuah vila yang jauh dari pantai.
Erupsi pertama bertahan hingga setidaknya delapan menit dan mengeluarkan gumpalan gas, abu, dan asap beberapa kilometer di udara. Warga di pinggir pantai juga didesak untuk pergi ke dataran yang lebih tinggi.
Di sisi lain, Victorina Kioa dari Komisi Pelayanan Publik Tonga pada Jumat (14/1) mendesak warga untuk menjauhi daerah berbahaya seperti wilayah pesisir berdataran rendah, karang, dan pantai.
Kepala Layanan Geologi Tonga, Taaniela Kula juga mengimbau warga untuk berada di dalam ruangan, menggunakan masker saat di luar, dan menutup penyimpan cadangan air hujan dan sistem pemanenan air hujan.
Dampak letusan Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha'apai dapat dibaca di halaman berikutnya >>>
Dampak letusan Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha'apai
Belasan kapal yang tengah berlabuh di beberapa pelabuhan di Jepang tenggelam akibat gelombang tinggi imbas erupsi gunung api Tonga. (Foto: REUTERS/KYODO)
Gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai terletak di sebuah pulau tak berpenghuni yang berjarak sekitar 65 kilometer dari ibu kota Tonga, Nuku'alofa. Gunung ini erupsi pertama kali pada Jumat (14/1) dan memuntahkan gumpalan abu vilkanik setinggi 20 kilometer ke udara.
Foto citra satelit yang beredar di media sosial juga menunjukkan letusan dahsyat gunung tersebut.
Letusan kedua terjadi pada Sabtu (15/1) pukul 17.26 waktu setempat. Letusan kali ini memicu tsunami Tonga dan berdampak pada sejumlah wilayah lainnya.
Akibat erupsi gunung tersebut, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik mengeluarkan "peringatan tsunami" untuk wilayah Samoa Amerika. Badan ini menuturkan ada ancaman fluktuasi air laut dan arus laut kuat yang bisa menimbulkan bahaya di pantai.
Peringatan yang sama juga dikeluarkan oleh otoritas Selandia Baru, Fiji, Vanuatu, Jepang, Australia, Peru, hingga Amerika Serikat.
Di Suva, Fiji, seorang pejabat mengatakan erupsi yang terjadi sangat hebat dan terdengar seperti 'suara petir besar'. Padahal, Suva berjarak lebih dari 800 kilometer dari gunung api Tonga.
Beberapa pejabat Fiji juga memperingatkan masyarakat untuk menutup tangki penampung air mengantisipasi terjadi hujan asam.
Efek erupsi dan tsunami ini mengakibatkan listrik serta jaringan telepon dan internet terputus sejak Sabtu. Ini membuat sebagian besar warga tidak terjangkau dalam kepanikan.
Sejumlah ahli menganggap butuh dua pekan setidaknya untuk memulihkan jaringan komunikasi dan internet Tonga.
Hingga kini, sejumlah pihak seperti Australia dan Selandia Baru melaporkan tidak ada korban jiwa akibat tsunami dan gunung meletus di Tonga.
Namun, kerusakan signifikan tercatat akibat bencana tersebut.