Dubes Uni Eropa untuk RI Blak-blakan soal Invasi Rusia di Ukraina
Tim | CNN Indonesia
Jumat, 18 Mar 2022 13:39 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket, buka-bukaan mengenai posisi blok tersebut di tengah invasi Rusia di Ukraina. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah gempuran Rusia, Ukraina terus memohon agar diterima menjadi anggota Uni Eropa. Blok tersebut pun terus menjadi sorotan karena segala drama tarik ulur keanggotaan Ukraina.
Tarik ulur keanggotaan ini sebenarnya sudah lama terjadi, terutama karena berbagai perbedaan kepentingan para anggota UE yang menjegal langkah Ukraina untuk masuk ke dalam rumah blok Eropa tersebut.
Namun kini, dorongan untuk menerima Ukraina semakin kuat. Invasi Rusia membawa konflik langsung ke depan pintu Uni Eropa, yang tentu memicu ketidakstabilan di kawasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
UE sendiri memiliki klausul yang mirip NATO, yaitu serangan terhadap salah satu anggota berarti gempuran terhadap blok tersebut secara keseluruhan.
Jika Ukraina menjadi anggota, maka UE dapat dengan cepat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melawan invasi Rusia.
Di tengah genting situasi, Ukraina pun meminta percepatan proses keanggotaan, tapi UE tetap enggan karena berbagai halangan. Blok itu pun kini menghadapi dilema.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket, membahas masalah ini dalam bincang-bincang bersama CNNIndonesia.com. Berikut kutipannya.
Bagaimana sikap Uni Eropa terhadap invasi Rusia di Ukraina?
Ini merupakan invasi besar-besaran Rusia di negara berdaulat di Eropa. Invasi dari udara, laut, dan udara. Penolakan juga begitu kuat. Ini merupakan agresi militer yang ilegal, tak dapat dibenarkan, dan tanpa provokasi oleh Rusia terhadap Ukraina. Bukan hanya kami yang berpikir seperti itu. Sebanyak 141 negara lain anggota Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Rusia secara politik terisolasi di titik ini.
Walaupun tekanan sudah sedemikian besar, Rusia masih terus menggempur Ukraina, bahkan sekarang sudah memasuki pekan ketiga. Menurut Anda, apakah Rusia akan berhenti menyerang Ukraina?
Tidak ada jalan lain. Agresi Rusia harus berhenti. Rusia harus sepakat gencatan senjata dan harus sepakat penarikan pasukan dari Ukraina tanpa syarat. Itu satu-satunya jalan untuk kembali ke kenormalan. Itu satu-satunya jalan untuk menghentikan penderitaan rakyat Ukraina. Ribuan warga sipil tewas. Ratusan ribu warga terperangkap di kota yang menjadi target serangan. Koridor kemanusiaan untuk mereka menyelamatkan diri juga diserang oleh militer Rusia. Situasi ini sangat menyedihkan dari sudut pandang kemanusiaan. Hanya penghentian penembakan dan gencatan senjata jalan keluar dari masalah ini.
Untuk menekan Rusia, puluhan negara, termasuk anggota Uni Eropa menjatuhkan sanksi. Namun hingga kini, Rusia masih saja menggempur Ukraina. Menurut Anda, apakah sanksi dan boikot efektif untuk menekan Rusia?
Tujuan kami adalah menghancurkan kapabilitas rezim Rusia untuk mendanai perang ini, bukan untuk menyerang rakyatnya. Kami punya bukti jelas bahwa sanksi dari UE dan 40 negara lainnya di seluruh dunia, berdampak sangat besar. Nilai Rubel turun 15 persen. Inflasi naik, pasar saham tutup, warga dan perusahaan sulit menarik uang tunai dari bank. Kami mengunci perusahaan yang penting untuk Kremlin dari sistem transfer uang SWIFT. Utang Rusia sudah sampai ke tingkat yang disebut "junk" oleh credit rating agencies. Dampaknya ada. Kami yakin dengan sedikit lagi waktu, efeknya akan sangat besar sehingga Rusia akan menghentikan serangannya secara bertahap.
Sanksi saja memang tidak cukup. Kami tetap harus menjalankan upaya politik dan diplomasi terkait Rusia. Contohnya, tiga negara UE datang ke Kyiv untuk mendukung Ukraina dan menyatakan kepada Rusia bahwa EU tidak menerima agresi militer ini.
Selanjutnya, yang juga penting, adalah bantuan kemanusiaan untuk rakyat Ukraina, baik mereka masih di dalam, atau sudah di tempat pengungsian di luar Ukraina, terutama di dalam area UE. Berdasarkan data UE, sekitar 4,5 juta orang kehilangan tempat tinggal di dalam Ukraina. Mereka terpaksa meninggalkan rumahnya karena pertempuran ini. Sekitar 2,2 juta orang Ukraina datang ke negara-negara UE, terutama negara-negara di perbatasan timur, seperti Polandia, Hungaria, Slovakia, Bulgaria, dan Romania. Jumlahnya sangat banyak. Respons dari negara-negara UE dan rakyatnya sangat baik. Mereka mendatangi para pengungsi. Mereka menyediakan rumah. Mereka juga membantu secara finansial. Mereka menyiapkan dana yang dapat membantu para pengungsi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Terakhir, UE sudah mengaktifkan sistem "berbagi beban", yang kami rancang ketika ada krisis pengungsi dari Suriah pada 2015 lalu. Sistem ini memastikan negara-negara UE berbagi beban dalam upaya menyambut para pengungsi.
Seberapa lama ini semua akan berakhir? Sampai kapan kami harus melakukannya? Saya tak bisa menentukannya. Satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaan ini adalah Presiden Putin. Hanya dia yang punya kunci untuk menghentikan konflik dan perang ini, dan memerintahkan penarikan pasukannya dari tanah kedaulatan Ukraina.
Pengungsi memang masalah besar, termasuk bagi warga Uni Eropa yang sebelumnya sudah menerima pengungsi saat krisis imigran pada 2015 lalu. Sekarang, warga juga harus berhadapan dengan kenaikan harga makanan dan gas akibat sanksi yang dijatuhkan ke Rusia. Apakah negara UE akan terus menekan Rusia melihat dampak sanksi tersebut terhadap masyarakat?
Di level individu, simpati dan solidaritasnya sangat besar terhadap warga Ukraina yang menderita lebih parah ketimbang kami akibat agresi militer ini. Saya ke Berlin pekan lalu, dan saya dapat merasakan itu. Saya bisa melihat di jalanan, restoran mengibarkan bendera Ukraina, toko-toko dan orang-orang menyematkan bendera Ukraina kecil di bajunya. Semua ini hidup di dalam masyarakat Eropa. Mengapa?
Karena bagi Eropa, ini merupakan krisis sistemis. Ini krisis terhadap keamanan, dan stabilitas, sistem, pemerintahan di Benua Eropa. Tak hanya di Eropa, tapi lebih luas, bahkan internasional, di mana 140 negara memilih di PBB untuk mengecam agresi ini. Ini krisis sistemis yang nyata bagi kami. Kami tahu kami harus menderita demi keluar dari krisis ini. Sanksi kami merugikan Rusia, tapi sanksi itu juga melukai ekonomi kami. Namun, efek krisis ini jika terus terjadi, jika agresi militer terhadap negara berdaulat yang tanpa provokasi dan ilegal ini masih terus terjadi, tentu risikonya lebih besar ketimbang dampak sanksi terhadap perekonomian kami.
Untuk membantu menangani perang ini, Presiden Volodymyr Zelensky terus mendesak percepatan keanggotaan Ukraina di Uni Eropa. Namun, tampaknya banyak hambatan dan perbedaan pendapat, padahal percepatan ini dapat menegaskan komitmen UE untuk membantu Ukraina di tengah invasi. Mengapa demikian? Mungkinkah proses keanggotaan Ukraina dipercepat?
Pandangan saya agak berbeda. Semua anggota mendukung penuh masa depan Ukraina di dalam Uni Eropa. Terbaru, pada pekan lalu, kepala negara dan pemerintahan UE bertemu dalam pertemuan khusus yang digelar Presiden Prancis. Semua mendukung tujuan itu. Tujuan itu bagian dari kesepakatan hubungan khusus resmi antara kami dan Ukraina. Tujuan ini terus kami kejar dalam rangka mendukung transformasi Ukraina secara ekonomi dan institusional.
Sekarang kami selangkah lebih maju. Kami sudah mengundang Ukraina untuk mengajukan aplikasi resminya untuk menjadi anggota. Ukraina sudah melakukannya, dan kami senang. Sekarang, kami sedang dalam proses untuk mengambil langkah selanjutnya. Ini adalah proses yang rumit karena bergabung dengan Uni Eropa bukan seperti bergabung dengan kelab tenis atau sepak bola. Anda cukup membayar iuran dan langsung ambil raket dan bermain. Tidak. Ada banyak pekerjaan yang harus dikerjakan secara institusional dan ekonomi sebelum itu [Ukraina menjadi anggota].
Sekarang, jelas kasus Ukraina memang sangat spesial dan mendesak. Para pemimpin Eropa harus menanggapi pertanyaan ini dengan kreativitas. Saya belum punya jawabannya. Belum ada yang punya jawabannya. Namun, kami paham ini mendesak.
Beberapa pengamat menganggap, UE lamban merespons permintaan keanggotaan ini karena ada beberapa negara anggota, seperti Polandia, Jerman, dan Italia, masih bergantung pada gas Rusia. Apakah benar?
Lanjutan wawancara dengan Dubes UE bisa dibaca di halaman berikutnya >>>
Beberapa pengamat menganggap, UE lamban merespons permintaan keanggotaan ini karena ada beberapa negara anggota, seperti Polandia, Jerman, dan Italia masih bergantung pada gas Rusia. Apakah benar?
Saya rasa ini dua hal yang berbeda. Mengenai keanggotaan Ukraina di Uni Eropa, saya sudah menjawabnya tadi. Ini memang proses politik yang sekarang masih berjalan. Kedua, masalah ketergantungan Eropa terhadap minyak dan gas Rusia. Itu fakta yang harus kami hadapi. Kami sudah menyadarinya. Sekarang, kami menganggap ada desakan untuk menangani masalah ini. Kami harus mengurangi ketergantungan kami terhadap gas dan minyak Rusia dengan diversifikasi suplai dengan berupaya sekuat mungkin untuk efisiensi energi, juga menggunakan pasar minyak internal kami dengan lebih baik, dan menciptakan jalur pipa terkoneksi dan jalur listrik yang kini belum ada. Masih ada beberapa aspek yang bisa kami kembangkan. Ini adalah agenda yang sangat konkret yang membutuhkan kerja keras. Kami bertekad bulat melakukan ini. Kami punya target bisa mencapainya sebelum musim dingin selanjutnya di Eropa, memastikan bahwa pada musim dingin selanjutnya, suplai gas kami sudah aman. Kami sudah menjalankan rencana ini, dan mempercepatnya belakangan ini.
Jadi, seluruh anggota UE mendukung Ukraina masuk menjadi anggota?
Ya. Itu yang diputuskan para pemimpin negara anggota pada pekan lalu.
Presiden Zelensky meminta jalur khusus untuk mempercepat keanggotaan. Bisakah diproses dengan cepat mengingat situasinya sekarang genting?
Sangat sulit menjawabnya sekarang. Sekarang sangat bergantung pada sikap Rusia. Rusia harus menghentikan agresinya di Ukraina dan menarik militernya dari tanah Ukraina, menaati gencatan senjata, dan duduk di meja negosiasi dengan konstruktif. Ini adalah tahap pertama.
Tahap kedua, jalur spesifik untuk mempersiapkan keanggotaan UE. Ada banyak tahapan teknis dan kami tahu situasi ini sangat kritis bagi Ukraina dan kami. Kami tahu ada desakan khusus untuk persiapan keanggotaan ini. Kami tahu kami harus mencari solusi yang bertanggung jawab dan kreatif dalam waktu bersamaan.
Rusia sudah menjabarkan tiga permintaannya agar mereka mau menghentikan serangan. Apakah ada solusi yang bisa ditawarkan UE untuk membantu agar Rusia menghentikan serangannya?
Sepertinya UE tak punya posisi untuk menawarkan solusi. Solusinya ada di tangah Presiden Putin untuk menghentikan perang ini dan untuk menarik pasukan Rusia dari Ukraina, dan menghormati perbatasan, dan menciptakan atmosfer yang baik untuk negosiasi. Tentu UE mendukung negosiasi ini, tapi langkah pertama harus diambil Moskow.
Baru-baru ini, Zelensky mengatakan bahwa Rusia bisa saja menyerang negara anggota NATO lain. Beberapa anggota NATO juga merupakan anggota UE. Bagaimana UE melihat ancaman itu?
Saya tak ingin mengomentari itu, tapi kami tahu posisi kami, yaitu Eropa yang damai. Kami sudah membangunnya setelah Perang Dunia II, juga Rusia. Kami tahu bagaimana masyarakat kami menderita selama perang. Tak hanya di Eropa, di Rusia juga jutaan orang tewas. Kami pikir, dengan kehadiran Dewan Keamanan PBB setelah perang dunia, perang semacam ini tak akan terjadi lagi. Kami kira, semua sudah belajar dari pengalaman masa lalu. Sekarang, kita melihat Rusia mengabaikan pelajaran itu. Kita harus menghadapi itu. Akibatnya, kami sekarang sibuk merevisi kebijakan keamanan dan pertahanan UE. Kami tak pernah membayangkan ini dua bulan lalu. Sekarang, ini menjadi penting di tengah agresi militer Rusia terhadap negara tetangga UE. Ukraina berbatasan dengan lima negara anggota UE jika dihitung dengan perbatasan maritim. Ada kekhawatiran konflik bisa meluas. Rusia juga berbatasan dengan lima negara anggota UE lainnya. Jadi, krisis yang disebabkan Rusia ini membuat UE berpikir kembali terkait pendekatan keamanan dan infrastruktur keamanan, dan bagaimana kami harus bekerja sama sesama anggota UE dalam pertahanan kolektif kami, dan bagaimana kami harus memposisikan diri di luar ancaman. UE akan bekerja sama dengan NATO, tapi kami tidak sama dengan NATO. Tidak semua anggota UE adalah anggota NATO. Namun, kerja sama dengan NATO tentu harus ada.
Di Eropa sekarang sentimennya mempertahankan diri dari Rusia, dan membela Ukraina. Namun, kini di Indonesia mulai muncul sentimen baru yang menganggap negara Barat memakai standar ganda dalam menanggapi konflik Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina. Sebagian warga bahkan membela Rusia. Bagaimana Anda melihatnya?
Saya tidak melihat kemiripan antara kedua konflik ini. Untuk masalah Israel-Palestina, UE berpandangan sama dengan Indonesia. Solusi dua negara, di mana kedua negara hidup berdampingan secara damai dan harmonis, itu adalah posisi kami, dan itu sama dengan Indonesia. Dalam kasus Rusia, kami juga sependapat dengan Indonesia. Indonesia memilih mendukung resolusi Majelis Umum PBB untuk mengecam invasi Rusia di Ukraina. Indonesia tak hanya memilih resolusi itu, tapi juga mensponsori. Kami juga. Mengapa? Karena kami yakin, sudah ada banyak aturan dalam PBB mengenai penghormatan terhadap kedaulatan negara lain. Perdamaian dan hidup berdampingan sebagai tetangga adalah prinsip yang didukung UE. Itu juga yang didukung Indonesia. Kami sangat berharap dapat bekerja sama lebih dekat dengan Indonesia untuk menanggapi krisis ini. Kami harap kami dapat bekerja sama untuk gencatan senjata dan penarikan pasukan yang diakui di PBB sebagai tahap pertama untuk menghentikan konflik.
Saya di Eropa pekan lalu. Saya menyadari ketika kembali ke Jakarta yang berjarak 10 ribu kilometer dari Eropa, betapa berbeda jika lokasi Anda dekat atau jauh dari area konflik. Di Eropa, kalian bisa merasakannya. Konflik itu disiarkan tanpa henti di televisi, dari subuh hingga tengah malam, dari segala sisi. Kami diperlihatkan kejahatan pasukan Rusia di Ukraina. Mereka mengebom area-area sipil, sekolah, rumah sakit, toko-toko kecil, dan tempat-tempat tinggal hancur. Orang-orang mengungsi akibat konflik ini ke negara-negara Uni Eropa. Kalian bisa merasakan konflik itu. Tentu saja, di sini, yang berjarak 10 ribu kilometer, pasti berbeda. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah konflik ini berada di dalam diri orang-orang Eropa di mana pun mereka berada. Tak hanya di Ukraina dan Eropa, tapi juga di Rusia, di mana banyak penduduk tak setuju dengan yang terjadi, dan yang dilakukan Presiden Putin ke negara tetangga mereka. Orang-orang Rusia mengatakan, mereka [warga Ukraina] adalah saudara-saudara mereka, tapi perang ini masih terjadi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah gempuran Rusia, Ukraina terus memohon agar diterima menjadi anggota Uni Eropa. Blok tersebut pun terus menjadi sorotan karena segala drama tarik ulur keanggotaan Ukraina.
Tarik ulur keanggotaan ini sebenarnya sudah lama terjadi, terutama karena berbagai perbedaan kepentingan para anggota UE yang menjegal langkah Ukraina untuk masuk ke dalam rumah blok Eropa tersebut.
Namun kini, dorongan untuk menerima Ukraina semakin kuat. Invasi Rusia membawa konflik langsung ke depan pintu Uni Eropa, yang tentu memicu ketidakstabilan di kawasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
UE sendiri memiliki klausul yang mirip NATO, yaitu serangan terhadap salah satu anggota berarti gempuran terhadap blok tersebut secara keseluruhan.
Jika Ukraina menjadi anggota, maka UE dapat dengan cepat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melawan invasi Rusia.
Di tengah genting situasi, Ukraina pun meminta percepatan proses keanggotaan, tapi UE tetap enggan karena berbagai halangan. Blok itu pun kini menghadapi dilema.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket, membahas masalah ini dalam bincang-bincang bersama CNNIndonesia.com. Berikut kutipannya.
Bagaimana sikap Uni Eropa terhadap invasi Rusia di Ukraina?
Ini merupakan invasi besar-besaran Rusia di negara berdaulat di Eropa. Invasi dari udara, laut, dan udara. Penolakan juga begitu kuat. Ini merupakan agresi militer yang ilegal, tak dapat dibenarkan, dan tanpa provokasi oleh Rusia terhadap Ukraina. Bukan hanya kami yang berpikir seperti itu. Sebanyak 141 negara lain anggota Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Rusia secara politik terisolasi di titik ini.
Walaupun tekanan sudah sedemikian besar, Rusia masih terus menggempur Ukraina, bahkan sekarang sudah memasuki pekan ketiga. Menurut Anda, apakah Rusia akan berhenti menyerang Ukraina?
Tidak ada jalan lain. Agresi Rusia harus berhenti. Rusia harus sepakat gencatan senjata dan harus sepakat penarikan pasukan dari Ukraina tanpa syarat. Itu satu-satunya jalan untuk kembali ke kenormalan. Itu satu-satunya jalan untuk menghentikan penderitaan rakyat Ukraina. Ribuan warga sipil tewas. Ratusan ribu warga terperangkap di kota yang menjadi target serangan. Koridor kemanusiaan untuk mereka menyelamatkan diri juga diserang oleh militer Rusia. Situasi ini sangat menyedihkan dari sudut pandang kemanusiaan. Hanya penghentian penembakan dan gencatan senjata jalan keluar dari masalah ini.
Untuk menekan Rusia, puluhan negara, termasuk anggota Uni Eropa menjatuhkan sanksi. Namun hingga kini, Rusia masih saja menggempur Ukraina. Menurut Anda, apakah sanksi dan boikot efektif untuk menekan Rusia?
Tujuan kami adalah menghancurkan kapabilitas rezim Rusia untuk mendanai perang ini, bukan untuk menyerang rakyatnya. Kami punya bukti jelas bahwa sanksi dari UE dan 40 negara lainnya di seluruh dunia, berdampak sangat besar. Nilai Rubel turun 15 persen. Inflasi naik, pasar saham tutup, warga dan perusahaan sulit menarik uang tunai dari bank. Kami mengunci perusahaan yang penting untuk Kremlin dari sistem transfer uang SWIFT. Utang Rusia sudah sampai ke tingkat yang disebut "junk" oleh credit rating agencies. Dampaknya ada. Kami yakin dengan sedikit lagi waktu, efeknya akan sangat besar sehingga Rusia akan menghentikan serangannya secara bertahap.
Sanksi saja memang tidak cukup. Kami tetap harus menjalankan upaya politik dan diplomasi terkait Rusia. Contohnya, tiga negara UE datang ke Kyiv untuk mendukung Ukraina dan menyatakan kepada Rusia bahwa EU tidak menerima agresi militer ini.
Selanjutnya, yang juga penting, adalah bantuan kemanusiaan untuk rakyat Ukraina, baik mereka masih di dalam, atau sudah di tempat pengungsian di luar Ukraina, terutama di dalam area UE. Berdasarkan data UE, sekitar 4,5 juta orang kehilangan tempat tinggal di dalam Ukraina. Mereka terpaksa meninggalkan rumahnya karena pertempuran ini. Sekitar 2,2 juta orang Ukraina datang ke negara-negara UE, terutama negara-negara di perbatasan timur, seperti Polandia, Hungaria, Slovakia, Bulgaria, dan Romania. Jumlahnya sangat banyak. Respons dari negara-negara UE dan rakyatnya sangat baik. Mereka mendatangi para pengungsi. Mereka menyediakan rumah. Mereka juga membantu secara finansial. Mereka menyiapkan dana yang dapat membantu para pengungsi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Terakhir, UE sudah mengaktifkan sistem "berbagi beban", yang kami rancang ketika ada krisis pengungsi dari Suriah pada 2015 lalu. Sistem ini memastikan negara-negara UE berbagi beban dalam upaya menyambut para pengungsi.
Seberapa lama ini semua akan berakhir? Sampai kapan kami harus melakukannya? Saya tak bisa menentukannya. Satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaan ini adalah Presiden Putin. Hanya dia yang punya kunci untuk menghentikan konflik dan perang ini, dan memerintahkan penarikan pasukannya dari tanah kedaulatan Ukraina.
Pengungsi memang masalah besar, termasuk bagi warga Uni Eropa yang sebelumnya sudah menerima pengungsi saat krisis imigran pada 2015 lalu. Sekarang, warga juga harus berhadapan dengan kenaikan harga makanan dan gas akibat sanksi yang dijatuhkan ke Rusia. Apakah negara UE akan terus menekan Rusia melihat dampak sanksi tersebut terhadap masyarakat?
Di level individu, simpati dan solidaritasnya sangat besar terhadap warga Ukraina yang menderita lebih parah ketimbang kami akibat agresi militer ini. Saya ke Berlin pekan lalu, dan saya dapat merasakan itu. Saya bisa melihat di jalanan, restoran mengibarkan bendera Ukraina, toko-toko dan orang-orang menyematkan bendera Ukraina kecil di bajunya. Semua ini hidup di dalam masyarakat Eropa. Mengapa?
Karena bagi Eropa, ini merupakan krisis sistemis. Ini krisis terhadap keamanan, dan stabilitas, sistem, pemerintahan di Benua Eropa. Tak hanya di Eropa, tapi lebih luas, bahkan internasional, di mana 140 negara memilih di PBB untuk mengecam agresi ini. Ini krisis sistemis yang nyata bagi kami. Kami tahu kami harus menderita demi keluar dari krisis ini. Sanksi kami merugikan Rusia, tapi sanksi itu juga melukai ekonomi kami. Namun, efek krisis ini jika terus terjadi, jika agresi militer terhadap negara berdaulat yang tanpa provokasi dan ilegal ini masih terus terjadi, tentu risikonya lebih besar ketimbang dampak sanksi terhadap perekonomian kami.
Untuk membantu menangani perang ini, Presiden Volodymyr Zelensky terus mendesak percepatan keanggotaan Ukraina di Uni Eropa. Namun, tampaknya banyak hambatan dan perbedaan pendapat, padahal percepatan ini dapat menegaskan komitmen UE untuk membantu Ukraina di tengah invasi. Mengapa demikian? Mungkinkah proses keanggotaan Ukraina dipercepat?
Pandangan saya agak berbeda. Semua anggota mendukung penuh masa depan Ukraina di dalam Uni Eropa. Terbaru, pada pekan lalu, kepala negara dan pemerintahan UE bertemu dalam pertemuan khusus yang digelar Presiden Prancis. Semua mendukung tujuan itu. Tujuan itu bagian dari kesepakatan hubungan khusus resmi antara kami dan Ukraina. Tujuan ini terus kami kejar dalam rangka mendukung transformasi Ukraina secara ekonomi dan institusional.
Sekarang kami selangkah lebih maju. Kami sudah mengundang Ukraina untuk mengajukan aplikasi resminya untuk menjadi anggota. Ukraina sudah melakukannya, dan kami senang. Sekarang, kami sedang dalam proses untuk mengambil langkah selanjutnya. Ini adalah proses yang rumit karena bergabung dengan Uni Eropa bukan seperti bergabung dengan kelab tenis atau sepak bola. Anda cukup membayar iuran dan langsung ambil raket dan bermain. Tidak. Ada banyak pekerjaan yang harus dikerjakan secara institusional dan ekonomi sebelum itu [Ukraina menjadi anggota].
Sekarang, jelas kasus Ukraina memang sangat spesial dan mendesak. Para pemimpin Eropa harus menanggapi pertanyaan ini dengan kreativitas. Saya belum punya jawabannya. Belum ada yang punya jawabannya. Namun, kami paham ini mendesak.
Beberapa pengamat menganggap, UE lamban merespons permintaan keanggotaan ini karena ada beberapa negara anggota, seperti Polandia, Jerman, dan Italia, masih bergantung pada gas Rusia. Apakah benar?
Lanjutan wawancara dengan Dubes UE bisa dibaca di halaman berikutnya >>>
Ketergantungan Eropa dengan Gas Rusia hingga soal Barat Dituduh Standar Ganda
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket, buka-bukaan mengenai posisi blok tersebut di tengah invasi Rusia di Ukraina. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Beberapa pengamat menganggap, UE lamban merespons permintaan keanggotaan ini karena ada beberapa negara anggota, seperti Polandia, Jerman, dan Italia masih bergantung pada gas Rusia. Apakah benar?
Saya rasa ini dua hal yang berbeda. Mengenai keanggotaan Ukraina di Uni Eropa, saya sudah menjawabnya tadi. Ini memang proses politik yang sekarang masih berjalan. Kedua, masalah ketergantungan Eropa terhadap minyak dan gas Rusia. Itu fakta yang harus kami hadapi. Kami sudah menyadarinya. Sekarang, kami menganggap ada desakan untuk menangani masalah ini. Kami harus mengurangi ketergantungan kami terhadap gas dan minyak Rusia dengan diversifikasi suplai dengan berupaya sekuat mungkin untuk efisiensi energi, juga menggunakan pasar minyak internal kami dengan lebih baik, dan menciptakan jalur pipa terkoneksi dan jalur listrik yang kini belum ada. Masih ada beberapa aspek yang bisa kami kembangkan. Ini adalah agenda yang sangat konkret yang membutuhkan kerja keras. Kami bertekad bulat melakukan ini. Kami punya target bisa mencapainya sebelum musim dingin selanjutnya di Eropa, memastikan bahwa pada musim dingin selanjutnya, suplai gas kami sudah aman. Kami sudah menjalankan rencana ini, dan mempercepatnya belakangan ini.
Jadi, seluruh anggota UE mendukung Ukraina masuk menjadi anggota?
Ya. Itu yang diputuskan para pemimpin negara anggota pada pekan lalu.
Presiden Zelensky meminta jalur khusus untuk mempercepat keanggotaan. Bisakah diproses dengan cepat mengingat situasinya sekarang genting?
Sangat sulit menjawabnya sekarang. Sekarang sangat bergantung pada sikap Rusia. Rusia harus menghentikan agresinya di Ukraina dan menarik militernya dari tanah Ukraina, menaati gencatan senjata, dan duduk di meja negosiasi dengan konstruktif. Ini adalah tahap pertama.
Tahap kedua, jalur spesifik untuk mempersiapkan keanggotaan UE. Ada banyak tahapan teknis dan kami tahu situasi ini sangat kritis bagi Ukraina dan kami. Kami tahu ada desakan khusus untuk persiapan keanggotaan ini. Kami tahu kami harus mencari solusi yang bertanggung jawab dan kreatif dalam waktu bersamaan.
Rusia sudah menjabarkan tiga permintaannya agar mereka mau menghentikan serangan. Apakah ada solusi yang bisa ditawarkan UE untuk membantu agar Rusia menghentikan serangannya?
Sepertinya UE tak punya posisi untuk menawarkan solusi. Solusinya ada di tangah Presiden Putin untuk menghentikan perang ini dan untuk menarik pasukan Rusia dari Ukraina, dan menghormati perbatasan, dan menciptakan atmosfer yang baik untuk negosiasi. Tentu UE mendukung negosiasi ini, tapi langkah pertama harus diambil Moskow.
Baru-baru ini, Zelensky mengatakan bahwa Rusia bisa saja menyerang negara anggota NATO lain. Beberapa anggota NATO juga merupakan anggota UE. Bagaimana UE melihat ancaman itu?
Saya tak ingin mengomentari itu, tapi kami tahu posisi kami, yaitu Eropa yang damai. Kami sudah membangunnya setelah Perang Dunia II, juga Rusia. Kami tahu bagaimana masyarakat kami menderita selama perang. Tak hanya di Eropa, di Rusia juga jutaan orang tewas. Kami pikir, dengan kehadiran Dewan Keamanan PBB setelah perang dunia, perang semacam ini tak akan terjadi lagi. Kami kira, semua sudah belajar dari pengalaman masa lalu. Sekarang, kita melihat Rusia mengabaikan pelajaran itu. Kita harus menghadapi itu. Akibatnya, kami sekarang sibuk merevisi kebijakan keamanan dan pertahanan UE. Kami tak pernah membayangkan ini dua bulan lalu. Sekarang, ini menjadi penting di tengah agresi militer Rusia terhadap negara tetangga UE. Ukraina berbatasan dengan lima negara anggota UE jika dihitung dengan perbatasan maritim. Ada kekhawatiran konflik bisa meluas. Rusia juga berbatasan dengan lima negara anggota UE lainnya. Jadi, krisis yang disebabkan Rusia ini membuat UE berpikir kembali terkait pendekatan keamanan dan infrastruktur keamanan, dan bagaimana kami harus bekerja sama sesama anggota UE dalam pertahanan kolektif kami, dan bagaimana kami harus memposisikan diri di luar ancaman. UE akan bekerja sama dengan NATO, tapi kami tidak sama dengan NATO. Tidak semua anggota UE adalah anggota NATO. Namun, kerja sama dengan NATO tentu harus ada.
Di Eropa sekarang sentimennya mempertahankan diri dari Rusia, dan membela Ukraina. Namun, kini di Indonesia mulai muncul sentimen baru yang menganggap negara Barat memakai standar ganda dalam menanggapi konflik Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina. Sebagian warga bahkan membela Rusia. Bagaimana Anda melihatnya?
Saya tidak melihat kemiripan antara kedua konflik ini. Untuk masalah Israel-Palestina, UE berpandangan sama dengan Indonesia. Solusi dua negara, di mana kedua negara hidup berdampingan secara damai dan harmonis, itu adalah posisi kami, dan itu sama dengan Indonesia. Dalam kasus Rusia, kami juga sependapat dengan Indonesia. Indonesia memilih mendukung resolusi Majelis Umum PBB untuk mengecam invasi Rusia di Ukraina. Indonesia tak hanya memilih resolusi itu, tapi juga mensponsori. Kami juga. Mengapa? Karena kami yakin, sudah ada banyak aturan dalam PBB mengenai penghormatan terhadap kedaulatan negara lain. Perdamaian dan hidup berdampingan sebagai tetangga adalah prinsip yang didukung UE. Itu juga yang didukung Indonesia. Kami sangat berharap dapat bekerja sama lebih dekat dengan Indonesia untuk menanggapi krisis ini. Kami harap kami dapat bekerja sama untuk gencatan senjata dan penarikan pasukan yang diakui di PBB sebagai tahap pertama untuk menghentikan konflik.
Saya di Eropa pekan lalu. Saya menyadari ketika kembali ke Jakarta yang berjarak 10 ribu kilometer dari Eropa, betapa berbeda jika lokasi Anda dekat atau jauh dari area konflik. Di Eropa, kalian bisa merasakannya. Konflik itu disiarkan tanpa henti di televisi, dari subuh hingga tengah malam, dari segala sisi. Kami diperlihatkan kejahatan pasukan Rusia di Ukraina. Mereka mengebom area-area sipil, sekolah, rumah sakit, toko-toko kecil, dan tempat-tempat tinggal hancur. Orang-orang mengungsi akibat konflik ini ke negara-negara Uni Eropa. Kalian bisa merasakan konflik itu. Tentu saja, di sini, yang berjarak 10 ribu kilometer, pasti berbeda. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah konflik ini berada di dalam diri orang-orang Eropa di mana pun mereka berada. Tak hanya di Ukraina dan Eropa, tapi juga di Rusia, di mana banyak penduduk tak setuju dengan yang terjadi, dan yang dilakukan Presiden Putin ke negara tetangga mereka. Orang-orang Rusia mengatakan, mereka [warga Ukraina] adalah saudara-saudara mereka, tapi perang ini masih terjadi.
Ketergantungan Eropa dengan Gas Rusia hingga soal Barat Dituduh Standar Ganda BACA HALAMAN BERIKUTNYA