Macron-Le Pen, Tarung Wakil Liberal vs Sayap Kanan di Pilpres Prancis
pwn | CNN Indonesia
Rabu, 13 Apr 2022 20:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Emmanuel Macron dan Marine Le Pen masih bertarung merebutkan kursi Presiden Prancis tahun ini. (AFP/NICOLAS TUCAT)
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan penantangnya Marine Le Pen, jadi simbol pertarungan kubu sayap kiri dan sayap kanan di ajang pemilihan Presiden (Pilpres) Prancis tahun ini.
Prancis kini tengah menggelar pemilihan presiden. Negara itu melangsungkan dua kali pemilihan, yakni pada Minggu (10/4) lalu dan Minggu (24/4) mendatang.
Ronde pertama dimenangkan oleh Macron. Namun, oposisi Macron, Marine Le Pen, dinilai bakal bisa mengejar suara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diberitakan Reuters, Macron memenangkan ronde pertama dengan 26 persen suara. Sementara itu, posisi kedua ditempati Pen dengan 24 persen suara.
Macron, Sosok Liberal di Prancis
Dalam pemilihan kali ini, Macron memutuskan mencalonkan diri sebagai presiden tak lama sebelum tenggat pendaftaran.
Macron berencana mengurangi tingkat pengangguran, pun memperpanjang waktu pensiun sampai 65 tahun. Ia juga mengatakan bakal fokus ke sektor edukasi dan kesehatan.
Ia juga berencana membangun enam pembangkit listrik nuklir baru dan meningkatkan jumlah polisi.
Pen mendapatkan gelar hukum di Universitas Pantheon-Assas pada 1991. Ia juga mendapatkan gelar lanjutan dalam hukum kriminal pada 1992.
Setelah Pen mendapatkan sertifikasi, ia bekerja sebagai pengacara mulai 1992 hingga 1998.
Pen kemudian bergabung ke Front Nasional pada 1998 dan karir politiknya berkembang sejak itu. Ia sempat menjadi wakil presiden Front Nasional pada 2003.
Meski dididik dengan pandangan sayap kanan, seperti anti-Yahudi, Pen tidak menyetujui pandangan anti-Yahudi tersebut.
Pada Mei 2011, Pen terpilih mewakilkan Front Nasional untuk menjadi kandidat presiden dari partai tersebut untuk 2012. Namun, ia gagal mengambil alih kekuasaan.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan penantangnya Marine Le Pen, jadi simbol pertarungan kubu sayap kiri dan sayap kanan di ajang pemilihan Presiden (Pilpres) Prancis tahun ini.
Prancis kini tengah menggelar pemilihan presiden. Negara itu melangsungkan dua kali pemilihan, yakni pada Minggu (10/4) lalu dan Minggu (24/4) mendatang.
Ronde pertama dimenangkan oleh Macron. Namun, oposisi Macron, Marine Le Pen, dinilai bakal bisa mengejar suara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diberitakan Reuters, Macron memenangkan ronde pertama dengan 26 persen suara. Sementara itu, posisi kedua ditempati Pen dengan 24 persen suara.
Macron, Sosok Liberal di Prancis
Dalam pemilihan kali ini, Macron memutuskan mencalonkan diri sebagai presiden tak lama sebelum tenggat pendaftaran.
Macron berencana mengurangi tingkat pengangguran, pun memperpanjang waktu pensiun sampai 65 tahun. Ia juga mengatakan bakal fokus ke sektor edukasi dan kesehatan.
Ia juga berencana membangun enam pembangkit listrik nuklir baru dan meningkatkan jumlah polisi.
Pen mendapatkan gelar hukum di Universitas Pantheon-Assas pada 1991. Ia juga mendapatkan gelar lanjutan dalam hukum kriminal pada 1992.
Setelah Pen mendapatkan sertifikasi, ia bekerja sebagai pengacara mulai 1992 hingga 1998.
Pen kemudian bergabung ke Front Nasional pada 1998 dan karir politiknya berkembang sejak itu. Ia sempat menjadi wakil presiden Front Nasional pada 2003.
Meski dididik dengan pandangan sayap kanan, seperti anti-Yahudi, Pen tidak menyetujui pandangan anti-Yahudi tersebut.
Pada Mei 2011, Pen terpilih mewakilkan Front Nasional untuk menjadi kandidat presiden dari partai tersebut untuk 2012. Namun, ia gagal mengambil alih kekuasaan.