Suporter Ulama Ternama Irak Duduki Parlemen Tolak Pemerintah Korup

rds | CNN Indonesia
Jumat, 29 Jul 2022 04:30 WIB
Ratusan pendukung ulama Syiah ternama Irak, Moqtada Sadr, menduduki gedung parlemen menolak pemerintah yang dikuasai pejabat korup. Ratusan pendukung ulama Syiah ternama Irak, Moqtada Sadr, menduduki gedung parlemen menolak pemerintah yang dikuasai pejabat korup. (Foto: REUTERS/THAIER AL-SUDANI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ratusan pendukung ulama ternama di Irak, Moqtada Sadr, menyerbu gedung parlemen setelah menerobos pengamanan ketat tingkat tinggi pada Rabu (27/7).

Para pendukung Sadr itu menentang pemerintah saat ini yang dinilai dipimpin oleh para pejabat yang korup.

"Saya menentang para pejabat korup yang saat ini berkuasa," kata seorang pendukung Sadr yang ikut menyerbu gedung parlemen, Mohamed Ali.

Seorang sumber keamanan mengatakan para pengunjuk rasa "menyerbu parlemen" setelah sempat dihadang oleh polisi yang menembakan rentetan gas air mata.

Dikutip AFP, kantor berita INA melaporkan "para pengunjuk rasa telah memasuki gedung parlemen".

[Gambas:Video CNN]

Para suporter Sadr terlihat menari hingga bernyanyi sambil mengibarkan bendera Irak di aula gedung parlemen.

Padahal, gedung parlemen terletak di Zona Hijau, yang merupakan area dengan pengamanan paling ketat di Ibu Kota Baghdad. Zona itu terdiri dari gedung kedutaan besar asing hingga pemerintahan.

Perdana Menteri Mustafa al-Kadhemi telah menyerukan para pemrotes untuk "segera membubarkan diri" dari gedung parlemen. Ia juga mewanti-wanti para petugas keamanan untuk memastikan "perlindungan terhadap institusi negara dan kantor diplomatik negara asing" di sekitar gedung parlemen.

Sementara itu, Sadr memamerkan aksi para pendukungnya tersebut.

"Revolusi reformasi dan penolakan terhadap ketidakadilan serta korupsi," kata Sadr melalui kicauan di Twitter seperti dikutip The Guardian.

"Pesan Anda semua telah didengar, Anda semua telah meneror para koruptor," papar Sadr lagi.

Sadr meminta para pengunjuk rasa untuk berdoa sebelum dengan tertib "meninggalkan gedung parlemen dan kembali ke rumah dengan selamat."

"Kami mematuhi Sayyed," teriak para pengunjuk rasa sambil bergegas meninggalkan gedung parlemen.

Koalisi Sadr memenangkan 73 kursi parlemen pada pemilu tahun lalu. Ini menjadikan blok Sadr sebagai faksi terbesar di parlemen yang beranggotakan 329 legislator.

Namun, perundingan pembentukan pemerintah masih mandek sejak pemilu berlangsung.

Para pemrotes menolak pencalonan Mohammed al-Sudani sebagai perdana menteri. Sudani merupakan mantan menteri dan eks gubernur provinsi.

"Sata menolak pencalonan Sudani karena dia korup," kata seorang pedemo, Mohamed Ali.

Krisis politik di Irak terus memburuk terutama pada Juni lalu ketika 73 anggota parlemen dari koalisi Sadr mundur massal.

Padahal, Sadr semula mendukung gagasan "pemerintahan dari kalangan mayoritas".

(rds/rds)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER