Hamianin mengatakan baik dia maupun warga Ukraina tak ada yang mau tahu soal kondisi Putin. Sebab pihaknya cuma ingin Rusia cepat-cepat angkat kaki dari Ukraina.
"Kami tidak mau tahu apakah dia sakit atau dia sehat. Kami tidak mau tahu apakah dia baik atau jahat. Jika Anda menyukainya, lakukan saja. Berdoalah untuknya dan pilih dia lagi dan lagi selamanya," kata Hamianin dalam wawancara eksklusif bersama CNNIndonesia.com, Selasa (21/2).
"Kami tidak peduli. Jangan ganggu kami. Jangan ganggu kehidupan kami. Jangan datang ke wilayah kami," lanjut dia.
Dalam kesempatan itu, Hamianin menuturkan bukan Putin sebetulnya akar masalah yang ada di Rusia saat ini. Menurutnya, Putin hanya cerminan dari masyarakat Rusia yang mendukung rezim kejam Rusia demi memajukan negara tersebut.
Perseosi masyarajat Rusia terhadap Ukraina itulah, menurut Hamianin, yang menjadi sumber masalah Moskow. Oleh sebab itu, bahkan seandainya Putin mati pun, tak akan ada yang berubah karena masyarakat Rusia 'yang sangat sakit' itu tetap ada.
"Masalahnya bukan Putin. Putin hanyalah cerminan dari masyarakat. Bukan Putin yang bermasalah di Rusia, namun orang-orang yang menjadi masalah di masyarakat yang sakit tersebut, yang sangat-sangat sakit itu," ujarnya.
"Mereka seolah berkata 'Baiklah, kita akan maju bersama presiden ini' dan lain-lain. Jadi, apa yang bisa saya harapkan dari, misalnya, kematian Putin? Lantas apa? Ini tidak akan mengubah masyarakat tersebut. Ini tidak akan mengubah masalah di sini. Masalah besar dari masyarakat ini di dalam bangsa Rusia," papar dia.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Selama ini, orang nomor satu Rusia itu kerap dirumorkan sakit. Kesehatan Putin dikabarkan terus memburuk sejak invasi Rusia berlangsung pada Februari 2022 lalu.
Pada Mei 2022, muncul gambar Putin yang menggigil di Parade Kemenangan Rusia sambil mengenakan selimut tebal di kakinya.
Putin juga sempat tampak terpincang-pincang saat berjalan untuk meletakkan karangan bunga di Makam Prajurit Tak Dikenal.
Foto-foto tangan Putin menghitam juga muncul di tengah laporan intelijen Amerika Serikat yang mengklaim dia mungkin menderita kanker stadium lanjut.
Soal ini, Kepala Intelijen Ukraina Mayor Jenderal Kyrylo O Budanov bahkan sempat memprediksi sisa usia Putin tinggal dua tahun lagi karena penyakit berat yang diderita.
Meski begitu, Pusat Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) membantah rumor tersebut. Direktur CIA William Burns mengatakan Putin terlalu sehat untuk disebut menderita penyakit.
"Sejauh yang kami tahu, dia [Putin] sepenuhnya sangat sehat," kata Burns pada Juli 2022.
Kendati demikian, pada November 2022, sejumlah dokumen Kremlin diduga bocor dan mengungkap Putin yang disebut tengah berjuang menghadapi penyakit kanker pankreas dan parkinson.
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa dia telah didiagnosis penyakit Parkinson stadium awal, tetapi ini semakin berkembang. Fakta ini akan disangkal dengan segala cara dan disembunyikan," kata email dari orang dalam intelijen Rusia itu seperti dikutip Sky News.
Surel itu juga menuturkan Putin telah secara rutin menerima pengobatan segala jenis steroid berat hingga suntikan penghilang rasa sakit demi menghentikan penyebaran kanker pankreas yang baru-baru ini terdeteksi pada tubuh presiden 70 tahun itu.
Hamianin mengatakan baik dia maupun warga Ukraina tak ada yang mau tahu soal kondisi Putin. Sebab pihaknya cuma ingin Rusia cepat-cepat angkat kaki dari Ukraina.
"Kami tidak mau tahu apakah dia sakit atau dia sehat. Kami tidak mau tahu apakah dia baik atau jahat. Jika Anda menyukainya, lakukan saja. Berdoalah untuknya dan pilih dia lagi dan lagi selamanya," kata Hamianin dalam wawancara eksklusif bersama CNNIndonesia.com, Selasa (21/2).
"Kami tidak peduli. Jangan ganggu kami. Jangan ganggu kehidupan kami. Jangan datang ke wilayah kami," lanjut dia.
Dalam kesempatan itu, Hamianin menuturkan bukan Putin sebetulnya akar masalah yang ada di Rusia saat ini. Menurutnya, Putin hanya cerminan dari masyarakat Rusia yang mendukung rezim kejam Rusia demi memajukan negara tersebut.
Perseosi masyarajat Rusia terhadap Ukraina itulah, menurut Hamianin, yang menjadi sumber masalah Moskow. Oleh sebab itu, bahkan seandainya Putin mati pun, tak akan ada yang berubah karena masyarakat Rusia 'yang sangat sakit' itu tetap ada.
"Masalahnya bukan Putin. Putin hanyalah cerminan dari masyarakat. Bukan Putin yang bermasalah di Rusia, namun orang-orang yang menjadi masalah di masyarakat yang sakit tersebut, yang sangat-sangat sakit itu," ujarnya.
"Mereka seolah berkata 'Baiklah, kita akan maju bersama presiden ini' dan lain-lain. Jadi, apa yang bisa saya harapkan dari, misalnya, kematian Putin? Lantas apa? Ini tidak akan mengubah masyarakat tersebut. Ini tidak akan mengubah masalah di sini. Masalah besar dari masyarakat ini di dalam bangsa Rusia," papar dia.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Soal Rumor Putin Sakit Keras
Dubes Ukraina Vasyl Hamianin menilai masalah utama di Rusia bukan Vladimir Putin. (CNN Indonesia/ Hamka Winovan)
Selama ini, orang nomor satu Rusia itu kerap dirumorkan sakit. Kesehatan Putin dikabarkan terus memburuk sejak invasi Rusia berlangsung pada Februari 2022 lalu.
Pada Mei 2022, muncul gambar Putin yang menggigil di Parade Kemenangan Rusia sambil mengenakan selimut tebal di kakinya.
Putin juga sempat tampak terpincang-pincang saat berjalan untuk meletakkan karangan bunga di Makam Prajurit Tak Dikenal.
Foto-foto tangan Putin menghitam juga muncul di tengah laporan intelijen Amerika Serikat yang mengklaim dia mungkin menderita kanker stadium lanjut.
Soal ini, Kepala Intelijen Ukraina Mayor Jenderal Kyrylo O Budanov bahkan sempat memprediksi sisa usia Putin tinggal dua tahun lagi karena penyakit berat yang diderita.
Meski begitu, Pusat Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) membantah rumor tersebut. Direktur CIA William Burns mengatakan Putin terlalu sehat untuk disebut menderita penyakit.
"Sejauh yang kami tahu, dia [Putin] sepenuhnya sangat sehat," kata Burns pada Juli 2022.
Kendati demikian, pada November 2022, sejumlah dokumen Kremlin diduga bocor dan mengungkap Putin yang disebut tengah berjuang menghadapi penyakit kanker pankreas dan parkinson.
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa dia telah didiagnosis penyakit Parkinson stadium awal, tetapi ini semakin berkembang. Fakta ini akan disangkal dengan segala cara dan disembunyikan," kata email dari orang dalam intelijen Rusia itu seperti dikutip Sky News.
Surel itu juga menuturkan Putin telah secara rutin menerima pengobatan segala jenis steroid berat hingga suntikan penghilang rasa sakit demi menghentikan penyebaran kanker pankreas yang baru-baru ini terdeteksi pada tubuh presiden 70 tahun itu.