Sejarah kedua bangunan itu pun berbeda. Menurut laporan Middle East Eye, bangunan masjid di kompleks Al Aqsa didirikan oleh khalifah Islam kedua, Umar bin Khattab pada 638 M, usai menaklukkan Levant.
Pada suatu waktu, sosok yang bertanggung jawab atas Yerusalem yang juga wakil dari Bizantium, Uskup Sophronius dan pemimpin Gereja Kristen mengundang Umar.
Menurut laporan Times of Israel, Sophronius meminta Umar salat di dalam Gereja Makam Suci saat waktu salat tiba. Namun, dia menolak.
Umar bersikeras jika dia berdoa di sana, umat Islam akan menggunakan tindakannya sebagai alasan mengubah gereja menjadi masjid. Artinya, situs suci umat Kristen itu bisa terampas.
Lokasi Umar salat di bagian selatan kompleks Al Aqsa kemudian dijadikan Masjid Al Qibli atau dikenal pada umumnya saat ini Masjid Al Aqsa.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Masjid Al Aqsa dalam kompleks Al Aqsa dikenal pula sebagai Masjid Al Qibli (Masjid Kiblat). Masjid ini dibangun umat Islam di masa khalifah kedua, Umar bin Khattab, karena berdiri di bagian selatan kompleks Al Aqsa yang pernah jadi kiblat pertama umat Islam sebelum Mekkah.
Sepanjang sejarah, Masjid Al Aqsa (Al Qibli) telah mengalami serangkaian renovasi dan perluasan termasuk di era Dinasti Ummayah, Abbasiyah, dan Kekaisaran Ottoman.
Sementara itu, Dome of the Rock atau Baitul Maqdis diyakini umat Islam sebagai tempat pijakan Nabi Muhammad sebelum melakukan perjalanan Isra Mikraj ke langit tujuh atau Sidratul Muntaha untuk menerima wahyu soal salat lima waktu.
Kubah batu itu juga dianggap karya arsitektur Islam tertua di dunia. Struktur ini dibangun pada abad ke-7 M atas perintah Abdul Malik bin Marwah, khalifah kelima dari dinasti Umayyah.
Profesor dari Universitas Al Quds dan Anggota Dewan Wakaf Islam, Mustafa Abu Sway, bahkan menilai Dome of the Rock sebagai bangunan estetis di Yerusalem.
"Dome of the Rock terus mendefinisikan Yerusalem secara estetis," kata Sway kepada Middle East Eye.
Namun, Dome of the Rock bukanlah bangunan masjid, tetapi memang dianggap suci oleh umat Muslim, demikian dikutip Haaretz.
Kubah emas membentang 20 meter melintasi noble of the rock (batu suci). Batu ini juga dianggap suci oleh Yahudi bahkan sebelum kedatangan Islam.
Umat Yahudi meyakini batu itu menjadi tempat Ibrahim bersiap mengorbankan Ishak.
Jakarta, CNN Indonesia --
Masjid Al Aqsa menjadi sorotan usai pasukan Israel menyerbu tempat ibadah itu dan menyerang jemaah pada pekan lalu.
Pasukan Israel menyerang Masjid Al Aqsa sebanyak dua kali, saat subuh dan malam hari. Mereka juga menangkap lebih dari 350 orang.
Sejarah kedua bangunan itu pun berbeda. Menurut laporan Middle East Eye, bangunan masjid di kompleks Al Aqsa didirikan oleh khalifah Islam kedua, Umar bin Khattab pada 638 M, usai menaklukkan Levant.
Pada suatu waktu, sosok yang bertanggung jawab atas Yerusalem yang juga wakil dari Bizantium, Uskup Sophronius dan pemimpin Gereja Kristen mengundang Umar.
Menurut laporan Times of Israel, Sophronius meminta Umar salat di dalam Gereja Makam Suci saat waktu salat tiba. Namun, dia menolak.
Umar bersikeras jika dia berdoa di sana, umat Islam akan menggunakan tindakannya sebagai alasan mengubah gereja menjadi masjid. Artinya, situs suci umat Kristen itu bisa terampas.
Lokasi Umar salat di bagian selatan kompleks Al Aqsa kemudian dijadikan Masjid Al Qibli atau dikenal pada umumnya saat ini Masjid Al Aqsa.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Beda Masjid Al Aqsa dan Dome of the Rock
Penampakan Dome of the Rock atau dikenal sebagai Baitul Maqdis oleh umat Islam yang berada di kompleks Al Aqsa Yerusalem. (AP/Mahmoud Illean)
Masjid Al Aqsa dalam kompleks Al Aqsa dikenal pula sebagai Masjid Al Qibli (Masjid Kiblat). Masjid ini dibangun umat Islam di masa khalifah kedua, Umar bin Khattab, karena berdiri di bagian selatan kompleks Al Aqsa yang pernah jadi kiblat pertama umat Islam sebelum Mekkah.
Sepanjang sejarah, Masjid Al Aqsa (Al Qibli) telah mengalami serangkaian renovasi dan perluasan termasuk di era Dinasti Ummayah, Abbasiyah, dan Kekaisaran Ottoman.
Sementara itu, Dome of the Rock atau Baitul Maqdis diyakini umat Islam sebagai tempat pijakan Nabi Muhammad sebelum melakukan perjalanan Isra Mikraj ke langit tujuh atau Sidratul Muntaha untuk menerima wahyu soal salat lima waktu.
Kubah batu itu juga dianggap karya arsitektur Islam tertua di dunia. Struktur ini dibangun pada abad ke-7 M atas perintah Abdul Malik bin Marwah, khalifah kelima dari dinasti Umayyah.
Profesor dari Universitas Al Quds dan Anggota Dewan Wakaf Islam, Mustafa Abu Sway, bahkan menilai Dome of the Rock sebagai bangunan estetis di Yerusalem.
"Dome of the Rock terus mendefinisikan Yerusalem secara estetis," kata Sway kepada Middle East Eye.
Namun, Dome of the Rock bukanlah bangunan masjid, tetapi memang dianggap suci oleh umat Muslim, demikian dikutip Haaretz.
Kubah emas membentang 20 meter melintasi noble of the rock (batu suci). Batu ini juga dianggap suci oleh Yahudi bahkan sebelum kedatangan Islam.
Umat Yahudi meyakini batu itu menjadi tempat Ibrahim bersiap mengorbankan Ishak.