Kenapa Misi Damai untuk Perang Rusia vs Ukraina Sulit Tercapai?
CNN Indonesia
Sabtu, 10 Jun 2023 10:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ibu kota Ukraina Kyiv ketika dibombardir drone Rusia. (Ukrainian Emergency Situations Ministry via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Proposal damai terkait perang Rusia-Ukraina menjadi perbincangan usai Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto turut melempar usulan damai.
Usulan Prabowo terlontar saat ia pidato di pertemuan antar Menhan Shangri-La Dialogue, Singapura, pada pekan lalu. Di kesempatan itu, beberapa poin yang ia sarankan yakni gencatan senjata, dan referendum di wilayah yang disengketakan.
Ukraina menolak mentah-mentah dan menyatakan usulan itu lebih mirip perspektif Rusia. Proposal damai terkait perang bukan kali pertama diusulkan.
Namun, hingga sekarang belum ada proposal damai yang diterima Rusia dan Ukraina. Ini menunjukkan proses damai sampai usulan diterima begitu sulit.
Mengapa demikian?
Pengamat hubungan internasional dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), Waffaa Kharisma, mengatakan sejauh ini belum ada yang betul-betul menjadi proposal perdamaian konkret.
"Masing-masing proposal lebih kepada mewakili posisi nasional masing-masing negara yang berbicara," ujar Waffaa kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/6).
Sejauh ini terdapat sejumlah negara yang mengajukan proposal damai, di antaranya China, Brasil, hingga Afrika. Namun, belum ada usulan yang diterima kedua pihak.
China disebut-sebut bakal berhasil mengajukan proposal damai itu. Rusia menyambut baik, dan Ukraina masih pikir-pikir.
Poin-poin yang tercantum dalam proposal China berisi nilai-nilai dan posisinya terhadap perang di Ukraina. Beijing, lanjut Waffaa, hanya akan mendukung upaya yang sesuai dengan poin di dalam proposal mereka.
"Tapi dia tidak berisi jalan atau pathway [semacam peta jalan]. Ke depan harus ngapain, tahun depan keduanya harus apa? Setelah itu, keadaan seperti apa yang perlu didahulukan dan bagaimana caranya," ujar dia.
Peta jalan semacam itu tak terjawab di dalam proposal China, lanjut Waffaa.
Ia lantas menyoroti usulan Prabowo dan proposal lain yang dianggap tidak realistis untuk kondisi saat ini.
"Sulit proposal damai diterima karena batas bawahnya belum ketemu. Mereka bicara belum satu bahasa," kata dia.
Pengamat CSIS itu lalu menerangkan, proposal damai baru bisa diterima ketika semua pihak sudah lelah dan sudah sama-sama mengarah ke penghentian perang. Setidaknya di kepemimpinan kedua negara.
Misalnya, kata dia, masyarakat Rusia sudah marah karena capek dan Ukraina di titik lelah dan berpikir harus segera diakhiri.
"Nanti ketika titik itu sampai, saat itu dilihat di mana posisi perangnya. Proposal damainya nanti kalau mau menghentikan perang harus bicara terkait penyelesaian wilayah dan konsesi [persetujuan] apa yang sesuai dengan kedua pihak,"ucap Waffaa.
Menurut dia, saat ini belum ada pihak yang bersedia memberi konsesi. Usulan damai, kata Waffaa, harus berisi konsesi kedua pihak seputar topik utama atas perang.
"Wilayah siapa milik siapa dan jaminan keamanan apa yang bisa dimiliki oleh siapa," ujar pengamat itu.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Terlepas dari peace plan itu, kondisi hari ini tak menunjukkan tanda-tanda Rusia dan Ukraina lelah.
Ukraina masih bertekad mempertahankan wilayah dan mengusir pasukan musuh. Sementara itu, Rusia tak mungkin mundur, sebab bisa memicu gejolak politik dalam negeri.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Airlangga, Radityo Dharmaputro, sepakat dengan Waffaa. Ia menilai Ukraina masih gigih mempertahankan wilayahnya.
"Tidak mungkin Ukraina menyerah karena itu tanah airnya," ungkap dia.
Radityo juga mengatakan sejumlah proposal damai dari beberapa negara cenderung menguntungkan Rusia, termasuk usulan Prabowo.
Ia lantas menjelaskan jika dalam kajian konflik, proposal damai merupakan tahapan tengah. Tahap awal yang mesti ditempuh adalah gencatan senjata.
Setelah itu, Radityo menjelaskan apabila sudah mencapai kesepakatan, ada pihak ketiga yang memastikan tak ada pelanggaran.
Menyoal pihak ketiga, lanjut dia, harus ada beberapa negara yang bersatu, misalnya Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Israel, dan China. Negara-negara ini mengawasi Rusia dan Ukraina untuk mematuhi perjanjian.
"Tapi, Rusia belum tentu mau," ujar dia.
Rusia dan Ukraina sempat beberapa kali terlibat negosiasi. Namun, baru sebatas tingkat menteri dan gagal mencapai gencatan senjata.
Radityo menilai sejauh ini belum ada irisan ide yang memungkinkan ada perdamaian. Waffaa juga punya pandangan serupa.
"Belum ada cukup preseden untuk kedua pihak dapat mencapai kesepakatan, karena isu kepercayaan masih rendah, apalagi karena trauma pelanggaran HAM di beberapa lokasi yang dilakukan agresor," ujar Waffaa.
Jakarta, CNN Indonesia --
Proposal damai terkait perang Rusia-Ukraina menjadi perbincangan usai Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto turut melempar usulan damai.
Usulan Prabowo terlontar saat ia pidato di pertemuan antar Menhan Shangri-La Dialogue, Singapura, pada pekan lalu. Di kesempatan itu, beberapa poin yang ia sarankan yakni gencatan senjata, dan referendum di wilayah yang disengketakan.
Ukraina menolak mentah-mentah dan menyatakan usulan itu lebih mirip perspektif Rusia. Proposal damai terkait perang bukan kali pertama diusulkan.
Namun, hingga sekarang belum ada proposal damai yang diterima Rusia dan Ukraina. Ini menunjukkan proses damai sampai usulan diterima begitu sulit.
Mengapa demikian?
Pengamat hubungan internasional dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), Waffaa Kharisma, mengatakan sejauh ini belum ada yang betul-betul menjadi proposal perdamaian konkret.
"Masing-masing proposal lebih kepada mewakili posisi nasional masing-masing negara yang berbicara," ujar Waffaa kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/6).
Sejauh ini terdapat sejumlah negara yang mengajukan proposal damai, di antaranya China, Brasil, hingga Afrika. Namun, belum ada usulan yang diterima kedua pihak.
China disebut-sebut bakal berhasil mengajukan proposal damai itu. Rusia menyambut baik, dan Ukraina masih pikir-pikir.
Poin-poin yang tercantum dalam proposal China berisi nilai-nilai dan posisinya terhadap perang di Ukraina. Beijing, lanjut Waffaa, hanya akan mendukung upaya yang sesuai dengan poin di dalam proposal mereka.
"Tapi dia tidak berisi jalan atau pathway [semacam peta jalan]. Ke depan harus ngapain, tahun depan keduanya harus apa? Setelah itu, keadaan seperti apa yang perlu didahulukan dan bagaimana caranya," ujar dia.
Peta jalan semacam itu tak terjawab di dalam proposal China, lanjut Waffaa.
Ia lantas menyoroti usulan Prabowo dan proposal lain yang dianggap tidak realistis untuk kondisi saat ini.
"Sulit proposal damai diterima karena batas bawahnya belum ketemu. Mereka bicara belum satu bahasa," kata dia.
Pengamat CSIS itu lalu menerangkan, proposal damai baru bisa diterima ketika semua pihak sudah lelah dan sudah sama-sama mengarah ke penghentian perang. Setidaknya di kepemimpinan kedua negara.
Misalnya, kata dia, masyarakat Rusia sudah marah karena capek dan Ukraina di titik lelah dan berpikir harus segera diakhiri.
"Nanti ketika titik itu sampai, saat itu dilihat di mana posisi perangnya. Proposal damainya nanti kalau mau menghentikan perang harus bicara terkait penyelesaian wilayah dan konsesi [persetujuan] apa yang sesuai dengan kedua pihak,"ucap Waffaa.
Menurut dia, saat ini belum ada pihak yang bersedia memberi konsesi. Usulan damai, kata Waffaa, harus berisi konsesi kedua pihak seputar topik utama atas perang.
"Wilayah siapa milik siapa dan jaminan keamanan apa yang bisa dimiliki oleh siapa," ujar pengamat itu.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Rusia dan Ukraina Diklaim Mulai Kelelahan Perang
Pasukan Ukraina saat bertempur di Bakhmut. (AP/)
Terlepas dari peace plan itu, kondisi hari ini tak menunjukkan tanda-tanda Rusia dan Ukraina lelah.
Ukraina masih bertekad mempertahankan wilayah dan mengusir pasukan musuh. Sementara itu, Rusia tak mungkin mundur, sebab bisa memicu gejolak politik dalam negeri.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Airlangga, Radityo Dharmaputro, sepakat dengan Waffaa. Ia menilai Ukraina masih gigih mempertahankan wilayahnya.
"Tidak mungkin Ukraina menyerah karena itu tanah airnya," ungkap dia.
Radityo juga mengatakan sejumlah proposal damai dari beberapa negara cenderung menguntungkan Rusia, termasuk usulan Prabowo.
Ia lantas menjelaskan jika dalam kajian konflik, proposal damai merupakan tahapan tengah. Tahap awal yang mesti ditempuh adalah gencatan senjata.
Setelah itu, Radityo menjelaskan apabila sudah mencapai kesepakatan, ada pihak ketiga yang memastikan tak ada pelanggaran.
Menyoal pihak ketiga, lanjut dia, harus ada beberapa negara yang bersatu, misalnya Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Israel, dan China. Negara-negara ini mengawasi Rusia dan Ukraina untuk mematuhi perjanjian.
"Tapi, Rusia belum tentu mau," ujar dia.
Rusia dan Ukraina sempat beberapa kali terlibat negosiasi. Namun, baru sebatas tingkat menteri dan gagal mencapai gencatan senjata.
Radityo menilai sejauh ini belum ada irisan ide yang memungkinkan ada perdamaian. Waffaa juga punya pandangan serupa.
"Belum ada cukup preseden untuk kedua pihak dapat mencapai kesepakatan, karena isu kepercayaan masih rendah, apalagi karena trauma pelanggaran HAM di beberapa lokasi yang dilakukan agresor," ujar Waffaa.