Perang Kartel Narkoba Makin 'Gila' hingga Pembunuhan Capres Ekuador
CNN Indonesia
Sabtu, 12 Agu 2023 17:07 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pembunuhan calon presiden Fernando Villavicencio memicu perdebatan mengenai perang terhadap kartel narkoba yang belakangan marak di Ekuador. (AP/Juan Diego Montenegro)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pembunuhan calon presiden Fernando Villavicencio memicu perdebatan mengenai perang terhadap kartel narkoba yang belakangan marak di Ekuador.
Meski belum diketahui pasti pihak yang mendalangi pembunuhan Villavicencio, tapi kematian dia dikait-kaitkan dengan upayanya memerangi peredaran narkoba.
Sebelum tewas, Villavicencio sempat mengeluh menerima serangkaian ancaman pembunuhan, beberapa di antaranya berkaitan dengan kartel narkoba internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, Villavicencio memang sangat lantang menentang peredaran narkoba di Ekuador.
Ekuador disebut menjadi zona perang antargeng usai kartel narkoba Meksiko melebarkan daerah operasinya ke negara tersebut, seperti Sinaloa dan Generasi Baru Jalisco.
Kartel Meksiko memang sudah lama memainkan peran pendukung dalam perdagangan narkoba di Ekuador.
Namun kini, mereka juga mulai menguasai operasional di tingkat lebih tinggi. Mereka dilaporkan mulai membiayai produksi kokain dari kelompok pemasok di Kolombia, kemudian membayar transportasi komoditas itu ke Ekuador.
Mereka juga menyewa geng-geng Ekuador untuk memindahkan kokain ke pelabuhan. Kokain itu kemudian bakal diedarkan ke luar Ekuador.
Ekuador selama ini menjadi pusat transit kokain karena letak geografisnya yang strategis di antara dua negara pemasok terbesar di dunia, yaitu Kolombia dan Peru.
Menurut laporan, sekitar 45 persen produksi kokain di Kolombia kini melewati Ekuador. Sebagian besar geng di Ekuador pun terlibat dalam perdagangan kokain yang terhubung dengan kartel internasional.
Ambil contoh Choneros, Gangster, dan Big Feet yang bekerja untuk Sinaloa. Sementara itu, Tiguerones, Wolves, dan Chone Killers berafiliasi dengan Generasi Baru Jalisco.
Setelah mendapatkan banyak uang dan senjata, geng kriminal di Ekuador menjalankan perang proksi dan memperebutkan kekuasaan di antara mereka.
Kondisi ini membuat Ekuador menjadi ladang pembunuhan baru di Amerika Latin. Selama 2020 hingga 2022, tingkat pembunuhan di Ekuador meningkat drastis 245 persen.
Pakar keamanan dan akademisi dari National Autonomous University of Mexico, Yadira Galvez, mengatakan kekerasan, pembunuhan, krisis di penjara, dan ketidakamanan di Ekuador meningkat karena pembangunan rute perdagangan kokain Eropa dan Asia-Pasifik.
"Ini karena pembentukan kelompok kriminal lokal dan tradisional seperti Los Choneros dan Los Lobos, serta fragmen keterlibatan intensif kartel Meksiko," kata Galvez, seperti dikutip Diologo Americas.
Apa saja pemicu pertarungan geng narkoba di Ekuador? Apa kaitannya dengan pembunuhan capres? Baca di halaman berikutnya >>>
Lebih lanjut, Galvez mengatakan kekerasan di Ekuador makin parah karena pertarungan antarkelompok kriminal yang ingin menguasai wilayah rute penyelundupan narkoba.
Selain itu, institusi hukum di Ekuador juga lemah sehingga memudahkan organisasi kriminal asing masuk ke negara tersebut.
"Kami negara kecil yang melawan mafia besar yang punya sumber daya finansial besar," kata kepala antinarkoba Ekuador, Pablo Ramirez.
Ia kemudian berujar, "Institusi hukum Ekuador lemah sehingga organisasi kriminal mendapat untung."
Pertarungan antargeng kian parah usai bos kartel Los Choneros tewas pada 2020 lalu.
Gerah dengan keadaan ini, Villavicencio muncul sebagai politikus yang lantang menyerukan perang terhadap peredaran narkoba di Ekuador.
Villavicencio pun sempat melayangkan tuntutan hukum terhadap pejabat-pejabat pemerintahan Ekuador sebelumnya di bawah mantan presiden Rafael Correa.
Seorang mantan kolonel intelijen militer Ekuador, Edison Romo, mengatakan tuntutan-tuntutan Villavicencio itu menjadi "ancaman bagi organisasi-organisasi kriminal internasional."
Villavicencio pun kerap menjadi sasaran ancaman pembunuhan. Ia sendiri sempat mengeluhkan serentetan ancaman pembunuhan, beberapa di antaranya dikaitkan dengan Sinaloa.
Hingga kini, pihak berwenang Ekuador belum mengungkap dalang di balik pembunuhan Villavicencio. Pelaku penembakan itu sendiri tewas dalam baku tembak dengan aparat.
Kepolisian juga sudah menahan enam orang terkait pembunuhan itu. Pelaku penembakan dan keenam orang itu merupakan warga Kolombia, salah satu negara tempat kartel narkoba juga bercokol.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pembunuhan calon presiden Fernando Villavicencio memicu perdebatan mengenai perang terhadap kartel narkoba yang belakangan marak di Ekuador.
Meski belum diketahui pasti pihak yang mendalangi pembunuhan Villavicencio, tapi kematian dia dikait-kaitkan dengan upayanya memerangi peredaran narkoba.
Sebelum tewas, Villavicencio sempat mengeluh menerima serangkaian ancaman pembunuhan, beberapa di antaranya berkaitan dengan kartel narkoba internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, Villavicencio memang sangat lantang menentang peredaran narkoba di Ekuador.
Ekuador disebut menjadi zona perang antargeng usai kartel narkoba Meksiko melebarkan daerah operasinya ke negara tersebut, seperti Sinaloa dan Generasi Baru Jalisco.
Kartel Meksiko memang sudah lama memainkan peran pendukung dalam perdagangan narkoba di Ekuador.
Namun kini, mereka juga mulai menguasai operasional di tingkat lebih tinggi. Mereka dilaporkan mulai membiayai produksi kokain dari kelompok pemasok di Kolombia, kemudian membayar transportasi komoditas itu ke Ekuador.
Mereka juga menyewa geng-geng Ekuador untuk memindahkan kokain ke pelabuhan. Kokain itu kemudian bakal diedarkan ke luar Ekuador.
Ekuador selama ini menjadi pusat transit kokain karena letak geografisnya yang strategis di antara dua negara pemasok terbesar di dunia, yaitu Kolombia dan Peru.
Menurut laporan, sekitar 45 persen produksi kokain di Kolombia kini melewati Ekuador. Sebagian besar geng di Ekuador pun terlibat dalam perdagangan kokain yang terhubung dengan kartel internasional.
Ambil contoh Choneros, Gangster, dan Big Feet yang bekerja untuk Sinaloa. Sementara itu, Tiguerones, Wolves, dan Chone Killers berafiliasi dengan Generasi Baru Jalisco.
Setelah mendapatkan banyak uang dan senjata, geng kriminal di Ekuador menjalankan perang proksi dan memperebutkan kekuasaan di antara mereka.
Kondisi ini membuat Ekuador menjadi ladang pembunuhan baru di Amerika Latin. Selama 2020 hingga 2022, tingkat pembunuhan di Ekuador meningkat drastis 245 persen.
Pakar keamanan dan akademisi dari National Autonomous University of Mexico, Yadira Galvez, mengatakan kekerasan, pembunuhan, krisis di penjara, dan ketidakamanan di Ekuador meningkat karena pembangunan rute perdagangan kokain Eropa dan Asia-Pasifik.
"Ini karena pembentukan kelompok kriminal lokal dan tradisional seperti Los Choneros dan Los Lobos, serta fragmen keterlibatan intensif kartel Meksiko," kata Galvez, seperti dikutip Diologo Americas.
Apa saja pemicu pertarungan geng narkoba di Ekuador? Apa kaitannya dengan pembunuhan capres? Baca di halaman berikutnya >>>
Perang Kartel Narkoba Makin 'Gila' hingga Pembunuhan Capres Ekuador
Pembunuhan calon presiden Fernando Villavicencio memicu perdebatan mengenai perang terhadap kartel narkoba yang belakangan marak di Ekuador. (Reuters/Karen Toro)
Lebih lanjut, Galvez mengatakan kekerasan di Ekuador makin parah karena pertarungan antarkelompok kriminal yang ingin menguasai wilayah rute penyelundupan narkoba.
Selain itu, institusi hukum di Ekuador juga lemah sehingga memudahkan organisasi kriminal asing masuk ke negara tersebut.
"Kami negara kecil yang melawan mafia besar yang punya sumber daya finansial besar," kata kepala antinarkoba Ekuador, Pablo Ramirez.
Ia kemudian berujar, "Institusi hukum Ekuador lemah sehingga organisasi kriminal mendapat untung."
Pertarungan antargeng kian parah usai bos kartel Los Choneros tewas pada 2020 lalu.
Gerah dengan keadaan ini, Villavicencio muncul sebagai politikus yang lantang menyerukan perang terhadap peredaran narkoba di Ekuador.
Villavicencio pun sempat melayangkan tuntutan hukum terhadap pejabat-pejabat pemerintahan Ekuador sebelumnya di bawah mantan presiden Rafael Correa.
Seorang mantan kolonel intelijen militer Ekuador, Edison Romo, mengatakan tuntutan-tuntutan Villavicencio itu menjadi "ancaman bagi organisasi-organisasi kriminal internasional."
Villavicencio pun kerap menjadi sasaran ancaman pembunuhan. Ia sendiri sempat mengeluhkan serentetan ancaman pembunuhan, beberapa di antaranya dikaitkan dengan Sinaloa.
Hingga kini, pihak berwenang Ekuador belum mengungkap dalang di balik pembunuhan Villavicencio. Pelaku penembakan itu sendiri tewas dalam baku tembak dengan aparat.
Kepolisian juga sudah menahan enam orang terkait pembunuhan itu. Pelaku penembakan dan keenam orang itu merupakan warga Kolombia, salah satu negara tempat kartel narkoba juga bercokol.