Apa Hubungan Iran dengan Hamas yang Serang Israel?
CNN Indonesia
Selasa, 10 Okt 2023 10:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Roket Hamas saat mengarah ke Israel. (Reuters/Mohammed Salem)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejak Sabtu (7/10), Israel dibombardir lebih dari 2.000 roket oleh kelompok militan Palestina, Hamas, yang menewaskan banyak warga sipil.
Serangan ini termasuk dalam rangkaian penyerangan Hamas dalam Operasi Badai Al-Aqsa, yang menargetkan 5.000 peluncuran roket ke Israel. Salah satu penyebab penyerangan yang dilakukan Hamas adalah penyerbuan Israel ke Masjid Al-Aqsa yang menewaskan 250 warga Palestina beberapa bulan lalu.
Seperti dilansir dari The Guardian, Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menyatakan bahwa penyerangan ini berdasarkan atas ketidakadilan yang dirasakan warga Palestina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, pasukan militer Hamas menahan 130 prajurit Israel di Gaza. Seperti dikutip dari Associated Press, Hamas akan melepaskan pasukan militer jika Israel melepaskan ribuan warga sipil Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Dalam serangan ke Israel, Hamas dituduh mendapat bantuan dari Iran, meskipun tuduhan itu langsung dibantah.
Hamas selama ini dikenal memiliki hubungan erat dengan Iran. Dalam melakukan penyerbuannya ke Israel sejak Tahun 2007 untuk merebut Jalur Gaza, Hamas diduga mendapatkan bantuan senjata dan pelatihan militer dari Iran.
Apa sebenarnya hubungan antara Iran dan kelompok militan Hamas?
Hamas merupakan gerakan Islam Sunni dan nasionalisme Palestina yang berusaha merebut Jalur Gaza sejak Tahun 1987. Gerakan yang dahulu dipimpin oleh Sheikh Ahmed Yasin dan Abdul Aziz al-Rantissi ini semakin gencar melakukan aksinya saat Israel ingin merebut daerah teritorial Palestina.
Pada akhirnya Hamas berhasil menguasai Jalur Gaza pada Tahun 2007. Keberhasilan Hamas menguasai Jalur Gaza semakin memperparah konflik antara Palestina dan Israel.
Hamas adalah bagian dari aliansi regional yang mencakup Iran, Suriah dan kelompok Hizbullah di Lebanon, yang menentang kebijakan Amerika Serikat atas Timur Tengah dan Israel, dikutip dari Aljazeera News.
Hamas dibentuk pada Tahun 1980-an sebagai cabang Jihad Sunni Ikhwanul Muslimin Mesir yang memiliki tujuan untuk menghancurkan Israel dan orang-orang Yahudi penghasut perang.
Hamas kemudian melakukan kontak tingkat tinggi dengan Iran saat Republik Islam melakukan dua konferensi terkait Palestina antara Tahun 1990-1991. Konferensi ini menjadi penengah konflik antara Arab dan Israel yang membuat nama Hamas dikenal publik.
Pada Tahun 1992, pasukan Hamas terlibat dalam perjuangan Palestina menyerang Israel. Penyerangan ini membuat 418 pasukan Hamas dideportasi ke Lebanon. Dilansir dari The Washington Institute for Near East Policy, Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) dan Hizbullah menjadi tuan rumah bagi pasukan Hamas yang dideportasi.
Mereka mengajarkan pasukan Hamas terkait cara membuat dan menggunakan bom bunuh diri. Ilmu ini dipraktekkan oleh pasukan Hamas saat kembali ke daerah dekat perbatasan Israel. Sejak saat itu juga Iran diklaim mulai menyumbangkan bantuan dana senilai 50 juta USD setiap tahunnya ke Hamas.
Antara Hamas, IRGC, dan Hizbullah terus terjalin kerja sama dalam memperkuat pertahanan melawan Israel. Hizbullah bahkan menyelundupkan bahan-bahan peledak bagi Hamas untuk melakukan bom bunuh diri.
Iran bahkan mendukung program roket Hamas dengan memberikan pelatihan cara membuat roket dari bahan sehari-hari, seperti gula dan pipa. Pembuatan roket lalu berkembang dengan memanfaatkan sisa bom dan peralatan milik Israel yangbelum meledak.
Pada Tahun 2008-2009, senjata Iran sudah terlihat digunakan para pasukan Hamas untuk menyerang Israel di Gaza. Penyerangan tidak lagi melalui bom bunuh diri, melainkan menggunakan tank, roket, dan mortir. Senjata yang dikirimkan oleh Iran diselundupkan melalui Sudan dan jalur laut, sehingga dapat menghindari blokade dari Israel.
Terkait dengan Operasi Badai Al-Aqsa beberapa hari ini, Hamas mengklaim mendapat dukungan penuh dari Presiden Iran, Ebrahim Raisi. Dilansir dari CNN, Raisi memuji serangan mendadak Hamas dan mendukung pertahanan sah bangsa Palestina.
Raisi menyatakan bahwa Israel dan pendukungnya bertanggung jawab atas ancaman keamanan negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejak Sabtu (7/10), Israel dibombardir lebih dari 2.000 roket oleh kelompok militan Palestina, Hamas, yang menewaskan banyak warga sipil.
Serangan ini termasuk dalam rangkaian penyerangan Hamas dalam Operasi Badai Al-Aqsa, yang menargetkan 5.000 peluncuran roket ke Israel. Salah satu penyebab penyerangan yang dilakukan Hamas adalah penyerbuan Israel ke Masjid Al-Aqsa yang menewaskan 250 warga Palestina beberapa bulan lalu.
Seperti dilansir dari The Guardian, Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menyatakan bahwa penyerangan ini berdasarkan atas ketidakadilan yang dirasakan warga Palestina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, pasukan militer Hamas menahan 130 prajurit Israel di Gaza. Seperti dikutip dari Associated Press, Hamas akan melepaskan pasukan militer jika Israel melepaskan ribuan warga sipil Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Dalam serangan ke Israel, Hamas dituduh mendapat bantuan dari Iran, meskipun tuduhan itu langsung dibantah.
Hamas selama ini dikenal memiliki hubungan erat dengan Iran. Dalam melakukan penyerbuannya ke Israel sejak Tahun 2007 untuk merebut Jalur Gaza, Hamas diduga mendapatkan bantuan senjata dan pelatihan militer dari Iran.
Apa sebenarnya hubungan antara Iran dan kelompok militan Hamas?
Hamas merupakan gerakan Islam Sunni dan nasionalisme Palestina yang berusaha merebut Jalur Gaza sejak Tahun 1987. Gerakan yang dahulu dipimpin oleh Sheikh Ahmed Yasin dan Abdul Aziz al-Rantissi ini semakin gencar melakukan aksinya saat Israel ingin merebut daerah teritorial Palestina.
Pada akhirnya Hamas berhasil menguasai Jalur Gaza pada Tahun 2007. Keberhasilan Hamas menguasai Jalur Gaza semakin memperparah konflik antara Palestina dan Israel.
Hamas adalah bagian dari aliansi regional yang mencakup Iran, Suriah dan kelompok Hizbullah di Lebanon, yang menentang kebijakan Amerika Serikat atas Timur Tengah dan Israel, dikutip dari Aljazeera News.
Hamas dibentuk pada Tahun 1980-an sebagai cabang Jihad Sunni Ikhwanul Muslimin Mesir yang memiliki tujuan untuk menghancurkan Israel dan orang-orang Yahudi penghasut perang.
Hamas kemudian melakukan kontak tingkat tinggi dengan Iran saat Republik Islam melakukan dua konferensi terkait Palestina antara Tahun 1990-1991. Konferensi ini menjadi penengah konflik antara Arab dan Israel yang membuat nama Hamas dikenal publik.
Iran Disebut Menyumbang 50 Juta USD kepada Hamas Tiap Tahun
Roket Hamas yang meluncur ke arah Israel. (AFP/Ahmad Gharabli)
Pada Tahun 1992, pasukan Hamas terlibat dalam perjuangan Palestina menyerang Israel. Penyerangan ini membuat 418 pasukan Hamas dideportasi ke Lebanon. Dilansir dari The Washington Institute for Near East Policy, Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) dan Hizbullah menjadi tuan rumah bagi pasukan Hamas yang dideportasi.
Mereka mengajarkan pasukan Hamas terkait cara membuat dan menggunakan bom bunuh diri. Ilmu ini dipraktekkan oleh pasukan Hamas saat kembali ke daerah dekat perbatasan Israel. Sejak saat itu juga Iran diklaim mulai menyumbangkan bantuan dana senilai 50 juta USD setiap tahunnya ke Hamas.
Antara Hamas, IRGC, dan Hizbullah terus terjalin kerja sama dalam memperkuat pertahanan melawan Israel. Hizbullah bahkan menyelundupkan bahan-bahan peledak bagi Hamas untuk melakukan bom bunuh diri.
Iran bahkan mendukung program roket Hamas dengan memberikan pelatihan cara membuat roket dari bahan sehari-hari, seperti gula dan pipa. Pembuatan roket lalu berkembang dengan memanfaatkan sisa bom dan peralatan milik Israel yangbelum meledak.
Pada Tahun 2008-2009, senjata Iran sudah terlihat digunakan para pasukan Hamas untuk menyerang Israel di Gaza. Penyerangan tidak lagi melalui bom bunuh diri, melainkan menggunakan tank, roket, dan mortir. Senjata yang dikirimkan oleh Iran diselundupkan melalui Sudan dan jalur laut, sehingga dapat menghindari blokade dari Israel.
Terkait dengan Operasi Badai Al-Aqsa beberapa hari ini, Hamas mengklaim mendapat dukungan penuh dari Presiden Iran, Ebrahim Raisi. Dilansir dari CNN, Raisi memuji serangan mendadak Hamas dan mendukung pertahanan sah bangsa Palestina.
Raisi menyatakan bahwa Israel dan pendukungnya bertanggung jawab atas ancaman keamanan negara-negara di kawasan Timur Tengah.