Menurut siaran langsung Aljazeera dan pemberitaan Jerusalem Post, militer Israel mengaku sedang mempersiapkan operasi sekaligus dari udara, laut, dan darat.
Pasukan IDF sudah bersiap komplet dengan alutsista di luar perbatasan Jalur Gaza.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga sudah mengunjungi prajuritnya yang berada di luar Jalur Gaza. Ia menegaskan untuk mempersiapkan "fase selanjutnya."
Melalui pernyataannya, militer Israel menegaskan telah merencanakan operasi yang lebih luas ke Gaza. Operasi tersebut bertujuan untuk mengincar milisi Hamas.
"Berbagai batalyon dan pasukan militer dikerahkan di seluruh Israel sebagai persiapan untuk meningkatkan tingkat kesiapan dan persiapan untuk tahap perang selanjutnya, terutama operasi darat besar-besaran," demikian pernyataan IDF seperti dikutip dari Aljazeera.
Sementara itu, melansir Jerusalem Post, disebutkan bahwa IDF didukung tim komando cadangan yang kuat disertai dukungan logistik yang luas untuk maju ke tahap berikutnya.
IDF mengklaim angkatan darat serta divisi teknologi dan logistiknya mempersiapkan menghadapi konflik yang meluas.
IDF menjelaskan hal itu termasuk mendirikan pusat logistik canggih untuk menyesuaikan peralatan unit tempur dengan kebutuhan mereka dengan cepat.
Kendati demikian, tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan tahap selanjutnya. Militer Israel dengan alutsista komplet sudah bersiaga di luar jalur Gaza itu.
Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan setidaknya ada 2.269 warga yang tewas, dan ada lebih dari 9.800an terluka akibat serangan Israel baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat.
Pada pernyataan yang dirilis Sabtu (14/10) seperti dikutip dari Reuters, jumlah korban terbanyak selama periode serangan Israel setidaknya sepekan terakhir adalah di Gaza yakni mencapai 2.215 korban tewas, dan 8.715 terluka.
Sementara itu, mengutip dari CNN pada Sabtu malam waktu Indonesia, UNICEF mencatat lebih dari 700 anak-anak tewas di Gaza, dan 2.450 anak-anak lainnya terluka.
"Berdasarkan laporan terakhir dari otoritas kesehatan lokal dan media, setidaknya ada 2.215 warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk lebih dari 700 anak-anak. Dan, ada lebih dari 8.714 orang terluka, termasuk lebih dari 2.450 anak-anak," kata juru bicara UNICEF Sara Al Hattab, Sabtu petang waktu setempat kepada CNN.
Jumlah itu diduga bakal bertambah lagi karena militer Israel (Israel Defense Forces/IDF) mempersiapkan serangan udara maupun darat untuk menggempur milisi Hamas di wilayah Gaza.
Komandan Hamas tewas dibunuh
IDF mengklaim telah membunuh komandan udara Hamas, dalam serangan pekan lalu.
Komandan tersebut dikatakan tewas dalam serangan jet tempur Israel ke markas operasional yang digunakan oleh para milisi.
"Selama serangan itu, jet tempur IDF membunuh Merad Abu Merad, yang merupakan kepala Sistem Udara Hamas di Kota Gaza dan sebagian besar bertanggung jawab mengarahkan teroris selama pembantaian pada hari Sabtu," ujar IDF, dikutip CNN, Sabtu (14/10).
IDF menyebut jet tempurnya juga melakukan serangan besar-besaran di seluruh Jalur Gaza terhadap puluhan sasaran Hamas dan agen "Nukhba", yang merupakan salah satu kekuatan utama yang melanggar perimeter perbatasan dan memimpin infiltrasi ke Israel pada Sabtu pekan lalu.
Seorang wartawan kantor berita Reuters tewas akibat serangan Israel ke selatan Lebanon saat meliput pada Jumat (13/10) lalu.
Insiden tersebut terjadi ketika perang Hamas vs Israel terus meluas ke negara tetangga seperti Lebanon dan Suriah.
"Kami sangat sedih mengetahui bahwa videografer kami, Issam Abdallah, telah terbunuh. Dia adalah bagian dari tim Reuters di Lebanon selatan," jelas Reuters dalam sebuah pernyataan.
Lalu, enam jurnalis lainnya dari AFP, Reuters, dan Al Jazeera ikut terluka dalam serangan yang sama.
Selain itu, salah satu koresponden AFP yang terluka mengatakan para jurnalis dari berbagai media asing ini berada di dekat desa Alma al-Shaab dekat perbatasan dengan Israel ketika terjebak di tengah gempuran negara Zionis ke wilayah itu.
Sumber keamanan Lebanon mengatakan kepada AFP bahwa serangan awal Israel terjadi setelah upaya infiltrasi oleh faksi Palestina dari sisi perbatasan Lebanon.
Fotografer AFP Christina Assi bersama rekannya jurnalis video AFP Dylan Collins bekerja di daerah itu. Keduanya dilarikan ke rumah sakit di Tirus untuk mendapatkan perawatan.
Lebih lanjut, dua wartawan Reuters lain, Thaer Al-Sudani dan Maher Nazeh juga menderita luka-luka dan sedang mencari perawatan medis.
Al Jazeera mengatakan dua wartawan mereka termasuk di antara korban luka. Media berbasis di Qatar itu menyebut kendaraan tim mereka di selatan Lebanon digempur serangan Israel.
Dua wartawan ini bernama Carmen Joukhadar dan Elie Brakhya.
"Kami sangat prihatin bahwa sekelompok jurnalis yang teridentifikasi dengan jelas telah terbunuh dan terluka saat melakukan pekerjaan mereka," jelas direktur berita global AFP Phil Chetwynd.
"Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kami kepada teman-teman kami di Reuters atas meninggalnya Issam dan kami semua membantu rekan-rekan kami yang terluka di rumah sakit," kata dia.
Bersambung di halaman berikutnya...
Hamas apresiasi bantuan Rusia
Kelompok Hamas menyambut baik dukungan dan bantuan mediasi dari Rusia dalam upaya menghentikan serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina.
"Kami mengapresiasi posisi Presiden Rusia, Vladimir Putin, terkait agresi Zionis yang sedang berlangsung terhadap rakyat kami," sebut kelompok Hamas dalam pernyataannya, diberitakan CNN, Sabtu (14/10).
"Serta penolakan Putin terhadap pengepungan Gaza, pemotongan pasokan bantuan, dan penargetan warga sipil di sana," lanjutnya.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Rabu (11/10) mendesak kedua belah pihak dalam perang ini, yakni Hamas dan Israel, untuk "meminimalkan atau mengurangi hingga nol" korban sipil.
Pada Jumat (13/10) lalu, Putin menegaskan kembali dukungan negaranya terhadap pembentukan negara Palestina merdeka dan penerapan resolusi PBB yang relevan.
Putin mengatakan posisi negaranya terhadap perang antara Israel dan Hamas tersebut. Hal itu disampaikan pada sesi pleno Pekan Energi Rusia di Moskow.
"Posisi Rusia, yang baru saja saya sebutkan dan jelaskan, belum berkembang saat ini, bukan sehubungan dengan peristiwa tragis ini, tapi telah berkembang selama beberapa dekade," kata Putin.
"Posisi ini diketahui oleh pihak Israel dan teman-teman kami di Palestina: Kami selalu menganjurkan penerapan resolusi Dewan Keamanan PBB, dengan mempertimbangkan pertama-tama dan terutama pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat," sambung dia.
Putin menyebut konflik di Palestina telah berlangsung lama, dan telah menjadi manifestasi ketidakadilan yang mencapai tingkat yang luar biasa.
Menurut Putin, masalah di tanah Palestina merupakan sesuatu di jantung setiap orang di wilayah tersebut.
Dia menekankan bahwa perluasan zona konflik dapat menimbulkan konsekuensi serius. Menurut Putin, dalam beberapa tahun terakhir, fokusnya adalah pada pemenuhan kebutuhan material penduduk yang tinggal di wilayah Palestina.
Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mengerahkan dua kapal parang Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan pesawat pengintai ke Mediterania timur untuk membantu Israel.
Bantuan itu diklaim untuk memperkuat stabilitas regional dan mencegah meluasnya konflik.
Kantor Perdana Menteri Rishi Sunak, Downing Street, mengatakan selain dua kapal perang dan pesawat pengintai P8, turut dikirim tiga helikopter Merlin dan satu kompi Marinir Kerajaan.
"Kita harus tegas dalam memastikan kejadian mengerikan yang kita lihat minggu ini tidak terulang kembali," kata Sunak dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Reuters, Kamis (12/10).
"Bersama sekutu kami, pengerahan militer kelas dunia kami akan mendukung upaya menjamin stabilitas regional dan mencegah eskalasi," jelas dia.
Sunak mengklaim tim militer dan diplomatik Inggris juga bakal mendukung mitra mereka itu untuk membangun kembali keamanan dan memastikan bantuan kemanusiaan mencapai wilayah tersebut.
Sunak juga berbicara dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi terkait hal ini. Sunak berharap Mesir bisa memahami gambaran regional yang lebih luas. Ia juga menggarisbawahi pentingnya mendukung warga sipil untuk meninggalkan Gaza.
Selain itu, Sunak juga dijadwalkan berbicara dengan para pemimpin Eropa utara tentang Israel pada pertemuan pertahanan Pasukan Ekspedisi Gabungan di Swedia.
Indonesia kesulitan salurkan bantuan
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan rencana penyaluran bantuan dari organisasi kemasyarakatan (ormas) Indonesia ke Jalur Gaza sulit dilakukan.
Hal itu karena warga Gaza sendiri susah untuk keluar dari wilayah tersebut.
"Persoalannya sekarang banyak bantuan kemanusiaan dari Indonesia yang ingin diteruskan ke Jalur Gaza. Persoalannya bukan di pemerintah Indonesia, tapi persoalannya adalah situasi di lapangan. Untuk keluar saja susah apalagi masuk," kata juru bicara Kemlu RI Lalu Muhamad Iqbal dalam press briefing di Kemlu RI, Jumat (13/10).
Iqbal mengatakan dalam situasi konflik seperti itu, yang bisa bergerak hanyalah Komite Internasional Palang Merah (ICRC).
ICRC merupakan organisasi internasional yang bertujuan menjamin perlindungan dan bantuan kemanusiaan bagi korban konflik bersenjata dan situasi kekerasan lain.
Adapun ICRC bergerak di bawah hukum perikemanusiaan/humaniter internasional.
"Dalam hukum humaniter, yang bisa bergerak dalam situasi konflik hanya Palang Merah Internasional. Jadi yang paling punya potensi untuk bangun humanitarian corridor itu ICRC. Itu sebabnya Menlu (Retno Marsudi) menghubungi ICRC, sangat di awal konflik menghubungi ICRC dan minta fokusnya ke humanitarian corridor," ujarnya.
Menurut Iqbal, Indonesia telah mengeluarkan peringatan perjalanan yang berlaku bagi seluruh warga negara Indonesia, termasuk ormas maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Dengan demikian, ormas dan LSM semestinya menaati peringatan yang dirilis resmi demi keamanan masyarakat RI sendiri tersebut.
Sejak perang pecah, Kemlu RI mengimbau warga negara Indonesia (WNI) yang sudah memiliki rencana perjalanan ke wilayah Palestina dan Israel untuk membatalkannya dalam waktu dekat.
Lebih lanjut, Kemlu juga meminta agar WNI di Palestina dan Israel segera meninggalkan kedua wilayah tersebut demi keselamatan mereka.
"Menimbang situasi keamanan terakhir dan demi keselamatan para WNI, pemerintah RI mengimbau agar WNI yang berada di wilayah Palestina maupun Israel segera meninggalkan wilayah tersebut," demikian keterangan Kemlu RI, Selasa (10/10).
Jakarta, CNN Indonesia --
Perang antara Israel dan milisi Hamas di Jalur Gaza, Palestina telah terjadi sejak 7 Oktober 2023 hingga sekarang.
Sepekan terlewati, situasi kini kian memanas. Ultimatum waktu untuk warga mengungsi pun telah habis.
Selain itu, korban berjatuhan makin tertambah. Jumlahnya sudah mencapai dua ribuan nyawa tewas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut rangkuman situasi terkini di sana.
Waktu mengungsi habis, Israel siap serang Gaza
Militer Israel (Israel Defense Forces/IDF) juga sudah menyampaikan ultimatum tenggat waktu enam jam bagi warga sipil di Gaza untuk segera mengungsi.
Tenggat waktu itu pun sudah berakhir pada Sabtu petang, pukul 16.00 waktu setempat (sekitar pukul 20.00 WIB pada Sabtu (14/10)).
IDF pun mempersiapkan operasi skala besar secara serentak ke Gaza, Palestina.
Menurut siaran langsung Aljazeera dan pemberitaan Jerusalem Post, militer Israel mengaku sedang mempersiapkan operasi sekaligus dari udara, laut, dan darat.
Pasukan IDF sudah bersiap komplet dengan alutsista di luar perbatasan Jalur Gaza.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga sudah mengunjungi prajuritnya yang berada di luar Jalur Gaza. Ia menegaskan untuk mempersiapkan "fase selanjutnya."
Melalui pernyataannya, militer Israel menegaskan telah merencanakan operasi yang lebih luas ke Gaza. Operasi tersebut bertujuan untuk mengincar milisi Hamas.
"Berbagai batalyon dan pasukan militer dikerahkan di seluruh Israel sebagai persiapan untuk meningkatkan tingkat kesiapan dan persiapan untuk tahap perang selanjutnya, terutama operasi darat besar-besaran," demikian pernyataan IDF seperti dikutip dari Aljazeera.
Sementara itu, melansir Jerusalem Post, disebutkan bahwa IDF didukung tim komando cadangan yang kuat disertai dukungan logistik yang luas untuk maju ke tahap berikutnya.
IDF mengklaim angkatan darat serta divisi teknologi dan logistiknya mempersiapkan menghadapi konflik yang meluas.
IDF menjelaskan hal itu termasuk mendirikan pusat logistik canggih untuk menyesuaikan peralatan unit tempur dengan kebutuhan mereka dengan cepat.
Kendati demikian, tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan tahap selanjutnya. Militer Israel dengan alutsista komplet sudah bersiaga di luar jalur Gaza itu.
Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan setidaknya ada 2.269 warga yang tewas, dan ada lebih dari 9.800an terluka akibat serangan Israel baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat.
Pada pernyataan yang dirilis Sabtu (14/10) seperti dikutip dari Reuters, jumlah korban terbanyak selama periode serangan Israel setidaknya sepekan terakhir adalah di Gaza yakni mencapai 2.215 korban tewas, dan 8.715 terluka.
Sementara itu, mengutip dari CNN pada Sabtu malam waktu Indonesia, UNICEF mencatat lebih dari 700 anak-anak tewas di Gaza, dan 2.450 anak-anak lainnya terluka.
"Berdasarkan laporan terakhir dari otoritas kesehatan lokal dan media, setidaknya ada 2.215 warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk lebih dari 700 anak-anak. Dan, ada lebih dari 8.714 orang terluka, termasuk lebih dari 2.450 anak-anak," kata juru bicara UNICEF Sara Al Hattab, Sabtu petang waktu setempat kepada CNN.
Jumlah itu diduga bakal bertambah lagi karena militer Israel (Israel Defense Forces/IDF) mempersiapkan serangan udara maupun darat untuk menggempur milisi Hamas di wilayah Gaza.
Komandan Hamas tewas dibunuh
IDF mengklaim telah membunuh komandan udara Hamas, dalam serangan pekan lalu.
Komandan tersebut dikatakan tewas dalam serangan jet tempur Israel ke markas operasional yang digunakan oleh para milisi.
"Selama serangan itu, jet tempur IDF membunuh Merad Abu Merad, yang merupakan kepala Sistem Udara Hamas di Kota Gaza dan sebagian besar bertanggung jawab mengarahkan teroris selama pembantaian pada hari Sabtu," ujar IDF, dikutip CNN, Sabtu (14/10).
IDF menyebut jet tempurnya juga melakukan serangan besar-besaran di seluruh Jalur Gaza terhadap puluhan sasaran Hamas dan agen "Nukhba", yang merupakan salah satu kekuatan utama yang melanggar perimeter perbatasan dan memimpin infiltrasi ke Israel pada Sabtu pekan lalu.
Seorang wartawan kantor berita Reuters tewas akibat serangan Israel ke selatan Lebanon saat meliput pada Jumat (13/10) lalu.
Insiden tersebut terjadi ketika perang Hamas vs Israel terus meluas ke negara tetangga seperti Lebanon dan Suriah.
"Kami sangat sedih mengetahui bahwa videografer kami, Issam Abdallah, telah terbunuh. Dia adalah bagian dari tim Reuters di Lebanon selatan," jelas Reuters dalam sebuah pernyataan.
Lalu, enam jurnalis lainnya dari AFP, Reuters, dan Al Jazeera ikut terluka dalam serangan yang sama.
Selain itu, salah satu koresponden AFP yang terluka mengatakan para jurnalis dari berbagai media asing ini berada di dekat desa Alma al-Shaab dekat perbatasan dengan Israel ketika terjebak di tengah gempuran negara Zionis ke wilayah itu.
Sumber keamanan Lebanon mengatakan kepada AFP bahwa serangan awal Israel terjadi setelah upaya infiltrasi oleh faksi Palestina dari sisi perbatasan Lebanon.
Fotografer AFP Christina Assi bersama rekannya jurnalis video AFP Dylan Collins bekerja di daerah itu. Keduanya dilarikan ke rumah sakit di Tirus untuk mendapatkan perawatan.
Lebih lanjut, dua wartawan Reuters lain, Thaer Al-Sudani dan Maher Nazeh juga menderita luka-luka dan sedang mencari perawatan medis.
Al Jazeera mengatakan dua wartawan mereka termasuk di antara korban luka. Media berbasis di Qatar itu menyebut kendaraan tim mereka di selatan Lebanon digempur serangan Israel.
Dua wartawan ini bernama Carmen Joukhadar dan Elie Brakhya.
"Kami sangat prihatin bahwa sekelompok jurnalis yang teridentifikasi dengan jelas telah terbunuh dan terluka saat melakukan pekerjaan mereka," jelas direktur berita global AFP Phil Chetwynd.
"Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kami kepada teman-teman kami di Reuters atas meninggalnya Issam dan kami semua membantu rekan-rekan kami yang terluka di rumah sakit," kata dia.
Bersambung di halaman berikutnya...
Fakta Terkini Perang Hamas-Israel di Jalur Gaza
Menteri Keamanan Israel mempersenjatai warga sipil dengan senapan serbu. (AFP/JALAA MAREY)
Hamas apresiasi bantuan Rusia
Kelompok Hamas menyambut baik dukungan dan bantuan mediasi dari Rusia dalam upaya menghentikan serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina.
"Kami mengapresiasi posisi Presiden Rusia, Vladimir Putin, terkait agresi Zionis yang sedang berlangsung terhadap rakyat kami," sebut kelompok Hamas dalam pernyataannya, diberitakan CNN, Sabtu (14/10).
"Serta penolakan Putin terhadap pengepungan Gaza, pemotongan pasokan bantuan, dan penargetan warga sipil di sana," lanjutnya.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Rabu (11/10) mendesak kedua belah pihak dalam perang ini, yakni Hamas dan Israel, untuk "meminimalkan atau mengurangi hingga nol" korban sipil.
Pada Jumat (13/10) lalu, Putin menegaskan kembali dukungan negaranya terhadap pembentukan negara Palestina merdeka dan penerapan resolusi PBB yang relevan.
Putin mengatakan posisi negaranya terhadap perang antara Israel dan Hamas tersebut. Hal itu disampaikan pada sesi pleno Pekan Energi Rusia di Moskow.
"Posisi Rusia, yang baru saja saya sebutkan dan jelaskan, belum berkembang saat ini, bukan sehubungan dengan peristiwa tragis ini, tapi telah berkembang selama beberapa dekade," kata Putin.
"Posisi ini diketahui oleh pihak Israel dan teman-teman kami di Palestina: Kami selalu menganjurkan penerapan resolusi Dewan Keamanan PBB, dengan mempertimbangkan pertama-tama dan terutama pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat," sambung dia.
Putin menyebut konflik di Palestina telah berlangsung lama, dan telah menjadi manifestasi ketidakadilan yang mencapai tingkat yang luar biasa.
Menurut Putin, masalah di tanah Palestina merupakan sesuatu di jantung setiap orang di wilayah tersebut.
Dia menekankan bahwa perluasan zona konflik dapat menimbulkan konsekuensi serius. Menurut Putin, dalam beberapa tahun terakhir, fokusnya adalah pada pemenuhan kebutuhan material penduduk yang tinggal di wilayah Palestina.
Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mengerahkan dua kapal parang Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan pesawat pengintai ke Mediterania timur untuk membantu Israel.
Bantuan itu diklaim untuk memperkuat stabilitas regional dan mencegah meluasnya konflik.
Kantor Perdana Menteri Rishi Sunak, Downing Street, mengatakan selain dua kapal perang dan pesawat pengintai P8, turut dikirim tiga helikopter Merlin dan satu kompi Marinir Kerajaan.
"Kita harus tegas dalam memastikan kejadian mengerikan yang kita lihat minggu ini tidak terulang kembali," kata Sunak dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Reuters, Kamis (12/10).
"Bersama sekutu kami, pengerahan militer kelas dunia kami akan mendukung upaya menjamin stabilitas regional dan mencegah eskalasi," jelas dia.
Sunak mengklaim tim militer dan diplomatik Inggris juga bakal mendukung mitra mereka itu untuk membangun kembali keamanan dan memastikan bantuan kemanusiaan mencapai wilayah tersebut.
Sunak juga berbicara dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi terkait hal ini. Sunak berharap Mesir bisa memahami gambaran regional yang lebih luas. Ia juga menggarisbawahi pentingnya mendukung warga sipil untuk meninggalkan Gaza.
Selain itu, Sunak juga dijadwalkan berbicara dengan para pemimpin Eropa utara tentang Israel pada pertemuan pertahanan Pasukan Ekspedisi Gabungan di Swedia.
Indonesia kesulitan salurkan bantuan
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan rencana penyaluran bantuan dari organisasi kemasyarakatan (ormas) Indonesia ke Jalur Gaza sulit dilakukan.
Hal itu karena warga Gaza sendiri susah untuk keluar dari wilayah tersebut.
"Persoalannya sekarang banyak bantuan kemanusiaan dari Indonesia yang ingin diteruskan ke Jalur Gaza. Persoalannya bukan di pemerintah Indonesia, tapi persoalannya adalah situasi di lapangan. Untuk keluar saja susah apalagi masuk," kata juru bicara Kemlu RI Lalu Muhamad Iqbal dalam press briefing di Kemlu RI, Jumat (13/10).
Iqbal mengatakan dalam situasi konflik seperti itu, yang bisa bergerak hanyalah Komite Internasional Palang Merah (ICRC).
ICRC merupakan organisasi internasional yang bertujuan menjamin perlindungan dan bantuan kemanusiaan bagi korban konflik bersenjata dan situasi kekerasan lain.
Adapun ICRC bergerak di bawah hukum perikemanusiaan/humaniter internasional.
"Dalam hukum humaniter, yang bisa bergerak dalam situasi konflik hanya Palang Merah Internasional. Jadi yang paling punya potensi untuk bangun humanitarian corridor itu ICRC. Itu sebabnya Menlu (Retno Marsudi) menghubungi ICRC, sangat di awal konflik menghubungi ICRC dan minta fokusnya ke humanitarian corridor," ujarnya.
Menurut Iqbal, Indonesia telah mengeluarkan peringatan perjalanan yang berlaku bagi seluruh warga negara Indonesia, termasuk ormas maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Dengan demikian, ormas dan LSM semestinya menaati peringatan yang dirilis resmi demi keamanan masyarakat RI sendiri tersebut.
Sejak perang pecah, Kemlu RI mengimbau warga negara Indonesia (WNI) yang sudah memiliki rencana perjalanan ke wilayah Palestina dan Israel untuk membatalkannya dalam waktu dekat.
Lebih lanjut, Kemlu juga meminta agar WNI di Palestina dan Israel segera meninggalkan kedua wilayah tersebut demi keselamatan mereka.
"Menimbang situasi keamanan terakhir dan demi keselamatan para WNI, pemerintah RI mengimbau agar WNI yang berada di wilayah Palestina maupun Israel segera meninggalkan wilayah tersebut," demikian keterangan Kemlu RI, Selasa (10/10).