Poin-poin dalam resolusi tersebut mencakup desakan gencatan senjata saat Ramadan, lebih banyak bantuan kemanusiaan yang masuk, perluasan dan peningkatan bantuan, hingga pembebasan seluruh sandera tanpa syarat.
Usai gencatan senjata itu muncul, pasukan Israel masih menggempur habis-habisan Rafah. Imbas serangan itu, 18 orang tewas.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari mengatakan resolusi itu tak berdampak langsung.
Qatar merupakan salah satu mediator untuk upaya gencatan senjata Israel-Hamas. Menurut Al Ansari negosiasi soal pertukaran sandera masih berlangsung.
"[Pembicaraan masih] berlangsung," kata Al Ansari pada Selasa (26/3), dikutip AFP.
Dia lalu berujar, "[belum ada] perkembangan apa pun yang mengarah ke pemikiran bahwa salah satu tim telah menarik diri dari negosiasi."
Dalam resolusi terbaru DK PBB, mereka mengakui upaya yang dilakukan Mesir, Qatar, dan AS untuk "penghentian permusuhan", pembebasan sandera, dan peningkatan bantuan.
Penilaian dari pengamat
Sementara itu, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Sya'roni Rofii punya penilaian lain.
"Menurut saya pasti ada dampak jangka menengahnya," kata Sya'roni kepada CNNIndonesia.com, Rabu (27/3).
Namun, dalam penerapannya pihak terkait di kasus ini adalah Israel masih melanggar dengan melakukan serangan di Rafah.
"Maka ya, harus ada tindakan tegas dari komunitas internasional yang diwakili DK PBB untuk mencegah itu," ungkap Yon.
Tindakan itu bisa berupa sanksi ekonomi yang dijatuhkan untuk Israel.
Israel masih melancarkan agresi ke Palestina sejak 7 Oktober. Mereka juga mendeklarasikan perang melawan Hamas.
Selama agresi, mereka menggempur habis-habisan warga dan objek sipil seperti rumah sakit dan kamp pengungsian. Hingga kini, lebih dari 32.300 orang di Palestina meninggal gegara serangan pasukan Zionis.
Jakarta, CNN Indonesia --
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengeluarkan resolusi gencatan senjata Israel dan kelompok perlawanan Hamas pada Senin (25/3).
Resolusi itu mendapat dukungan dari 14 anggota dan satu abstain yakni Amerika Serikat (AS).
Poin-poin dalam resolusi tersebut mencakup desakan gencatan senjata saat Ramadan, lebih banyak bantuan kemanusiaan yang masuk, perluasan dan peningkatan bantuan, hingga pembebasan seluruh sandera tanpa syarat.
Usai gencatan senjata itu muncul, pasukan Israel masih menggempur habis-habisan Rafah. Imbas serangan itu, 18 orang tewas.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari mengatakan resolusi itu tak berdampak langsung.
Qatar merupakan salah satu mediator untuk upaya gencatan senjata Israel-Hamas. Menurut Al Ansari negosiasi soal pertukaran sandera masih berlangsung.
"[Pembicaraan masih] berlangsung," kata Al Ansari pada Selasa (26/3), dikutip AFP.
Dia lalu berujar, "[belum ada] perkembangan apa pun yang mengarah ke pemikiran bahwa salah satu tim telah menarik diri dari negosiasi."
Dalam resolusi terbaru DK PBB, mereka mengakui upaya yang dilakukan Mesir, Qatar, dan AS untuk "penghentian permusuhan", pembebasan sandera, dan peningkatan bantuan.
Penilaian dari pengamat
Sementara itu, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Sya'roni Rofii punya penilaian lain.
"Menurut saya pasti ada dampak jangka menengahnya," kata Sya'roni kepada CNNIndonesia.com, Rabu (27/3).
Namun, dalam penerapannya pihak terkait di kasus ini adalah Israel masih melanggar dengan melakukan serangan di Rafah.
"Maka ya, harus ada tindakan tegas dari komunitas internasional yang diwakili DK PBB untuk mencegah itu," ungkap Yon.
Tindakan itu bisa berupa sanksi ekonomi yang dijatuhkan untuk Israel.
Israel masih melancarkan agresi ke Palestina sejak 7 Oktober. Mereka juga mendeklarasikan perang melawan Hamas.
Selama agresi, mereka menggempur habis-habisan warga dan objek sipil seperti rumah sakit dan kamp pengungsian. Hingga kini, lebih dari 32.300 orang di Palestina meninggal gegara serangan pasukan Zionis.