Kenapa Iran Kebobolan Pembunuhan Haniyeh, Padahal Aman di Qatar-China?
CNN Indonesia
Jumat, 02 Agu 2024 07:25 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Ayatollah Ali Khamenei memimpin salat jenazah Ismail Haniyeh dan pengawalnya. (REUTERS/Office of the Iranian Supreme Le)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pemimpin HamasIsmail Haniyeh tewas dalam serangan udara yang diduga dilakukan Israel di Teheran, Iran pada Rabu (31/7).
Kematian dia memicu spekulasi tingkat keamanan di Iran mengingat Haniyeh adalah tamu asing dan bos Hamas. Kelompok ini disebut-sebut sebagai proksi Iran yang melawan Israel.
Insiden serangan juga terjadi tak lama usai Iran melantik presiden terpilih yang menjadi simbol pemerintahan baru.
Serangan terhadap Iran hingga menyebabkan sang tamu tewas mengancam peran negara itu sebagai kekuatan regional karena tak bisa menjamin keselamatan sekutu saat berkunjung.
Lalu, apakah kematian Haniyeh adalah bentuk kebobolan Iran dari segi keamanan dan intelijen?
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Yon Machmudi mengatakan dalam insiden ini Iran kebobolan.
"Ini tentu memalukan ya dari pihak Iran sendiri karena tokoh, tamu undangan mereka dibunuh di wilayah Iran yang bisa saja menunjukkan 'kebobolan' baik dari sisi intelijen," kata Yon saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (1/8).
Haniyeh tewas dalam serangan rudal di kediamannya. Dari berbagai sumber, lokasi itu disebut state guest atau tempat untuk tamu kenegaraan.
Hamas menuding Israel sebagai dalang pembunuhan itu. Namun, dalam pidato resminya, Netanyahu tak mengonfirmasi maupun membantah tuduhan tersebut.
Selain masalah intelijen, Yon juga menyoroti tingkat keamanan Iran, yang berkaitan dengan militer dalam hal ini Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
"Iran secara umum masih kuat tetapi wilayah yang terbuka. Secara keamanan riskan sehingga yang terjadi pembunuhan Haniyeh," kata dia.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Yon lantas membandingkan keberadaan Haniyeh saat di Qatar atau China. Di dua negara ini, dia tak mengalami apa pun karena keamanan dijaga ketat dan cukup berisiko bagi Israel jika melakukan serangan.
Israel bisa jadi bulan-bulanan dunia jika membunuh Haniyeh di Qatar maupun China. Kedua negara ini merupakan negara kuat dan memiliki hubungan dengan Israel.
Pengamat HI yang juga dari UI, Sya'roni Rofii, mengatakan pembunuhan Haniyeh di Teheran menunjukkan kelemahan Iran.
"Bagi Iran ini tentu menunjukkan sisi lemah pertahanan. Serangan dari luar tak bisa diantisipasi sebagaimana mestinya," ungkap dia.
Sejauh ini, Israel berhasil menyasar tokoh-tokoh kunci dari para musuhnya. Misalnya kepala militer Hamas Mohammed Deif, komandan senior Hizbullah Fuad Shukr atau Sayyid Muhsan yang tewas di Beirut dan dua komandan pasukan khusus Angkatan Bersenjata Iran.
Di pekan terakhir bulan Juli, pasukan Israel juga menggempur pangkalan militer Houthi di Pelabuhan Hudaidah.
Kegagalan Netanyahu atau ajang unjuk kuat?
Sya'roni menilai operasi Israel di luar negaranya karena mereka ingin dipandang sebagai negara kuat di Timur Tengah.
"[Israel] ingin menunjukkan kapabilitas mereka di Kawasan," ungkap dia.
Namun, Yon punya penilaian berbeda. Dia memandang operasi Israel di luar wilayahnya merupakan kegagalan pemerintahan Netanyahu.
"Ini bukan indikasi Israel semakin kuat tetapi saya kira justru sebaliknya menunjukkan kegagalan Israel yang tidak bisa menyelesaikan peperangan yang tak segera berhenti," ujar Yon.
Dia lalu berkata "Sehingga [Israel] mengambil jalan dengan melakukan serangan luar wilayah Israel, baik dengan Hizbullah maupun dengan tokoh Hamas di Iran maupun dengan Houthi di Yaman."
Yaman, Lebanon selatan, serta Suriah juga merupakan wilayah yang rentan konflik dan tak punya kekuatan setangguh Israel.
Dugaan lain Israel melancarkan operasi di luar negara, kata Yon, karena mereka tak berhasil memburu tokoh penting di Jalur Gaza.
Korban tewas imbas agresi Israel di Gaza mencapai lebih dari 39.400 dan kebanyakan warga sipil tak berdosa.