Trump Menang Pilpres AS, Bagaimana Langkah AS soal Palestina?
CNN Indonesia
Kamis, 07 Nov 2024 08:38 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Bagaimana sikap Donald Trump soal Palestina. (AFP/JIM WATSON)
Jakarta, CNN Indonesia --
Donald Trump menang dalam pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat versi hitung cepat sejumlah media pada Rabu (6/11).
Menurut hitungan New York Times, Trump meraih 51 persen atau 71 juta suara popular vote. Dia juga mendapat suara 277 elektoral dari 538 suara mengalahkan Kamala Harris.
Trump bahkan sudah menyampaikan pidato kemenangannya. Namun, dalam pernyataan publik pertama sebagai presiden terpilih versi hitung cepat, dia tak menyebut sama sekali soal Israel dan Palestina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak Israel melancarkan agresi ke Palestina, AS panen kritik karena terus mengucurkan bantuan ke Negeri Zionis.
Lalu, bagaimana kebijakan luar negeri AS di bawah pemerintahan Donald Trump?
Guru Besar hubungan internasional dari Universitas Indonesia Yon Machmudi mengatakan Trump tak memprioritaskan isu Palestina.
"Trump secara umum tidak menjadikan Palestina sebagai isu penting, dan menempatkan posisi secara vulgar ya sebagai pendukung Israel," kata Yon saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (6/11).
Trump, kata dia, juga tak punya keyakinan soal solusi dua negara.
Solusi dua negara merupakan kerangka yang disepakati komunitas internasional untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Caranya dengan mendirikan dua negara yang berdampingan, hidup damai, saling menghormati, hingga mengakui kedaulatan masing-masing.
Posisi Trump sebagai Presiden menurut Yon bahkan akan menguntungkan Israel dan menyulitkan solusi dua negara tercapai.
Israel, lanjut dia, juga tak ingin Palestina menjadi negara merdeka.
AS merupakan sekutu dekat dan utama Israel. Setiap pemerintahan Benjamin Netanyahu menyerang Gaza, mereka akan menyebut gempuran itu sebagai hak membela diri.
"Dengan kehadiran Trump maka kemudian impian terhadap solusi dua negara, adanya negara Palestina yang merdeka menjadi semakin sulit untuk direalisasikan," ungkap Yon.
Trump dalam pidato perdana usai menang versi hitung cepat dan di berbagai kesempatan juga tak pernah menyerukan gencatan senjata di Gaza.
Yon menilai sikap semacam itu sebagai bentuk dukungan penuh Trump ke Israel.
"Untuk menjaga hubungan dengan Israel, maka Trump tidak menyebut semacam dukungan terhadap gencatan senjata," ujar dia.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Yon Machmudi menilai kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah termasuk soal Palestina dan Israel tak beda dengan era Trump sebelumnya.
Menurut dia, Trump akan gencar meneruskan proyek usulannya the Deal of Century. Ini merupakan road map untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina versi politikus partai Republlik itu.
Beberapa poin dalam usulan itu yakni mendeskripsikan ulang batas-batas untuk menggabungkan sebagian besar pemukiman ilegal Israel ke dalam wilayah Israel dan mencaplok Lembah Yordan; Mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Negara Palestina di masa depan sementara juga, secara bertentangan, mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang tidak terbagi; Mensyaratkan agar Negara Palestina tetap sepenuhnya didemiliterisasi.
Usulan Trump juga membahas kerangka ekonomi yang menjanjikan. Ini termasuk pembangunan terowongan Tepi Barat ke Jalur Gaza dan pulau buatan di lepas pantai Gaza untuk membangun pelabuhan dan bandara, demikian dikutipAl Jazeera.
Namun, sejumlah pihak termasuk Palestina menyebut usulan Trump sebagai kesepakatan terburuk.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al Shun pernah mengatakan usulan itu hanya akan merugikan Palestina.
Melalui Deal of Century, Trump akan fokus ke bidang ekonomi di Timur Tengah, demikian menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Sya'roni Rofii.
"Esensi kebijakan tersebut menetapkan elemen ekonomi sebagai pencipta perdamaian di Timur Tengah," ucap dia.
Meski fokus ke Timur Tengah, pengamat HI lain Yon, khawatir Trump akan melupakan Palestina karena negara ini tak jadi prioritas kebijakan luar negeri dia.
Namun, menurut Sya'roni, Trump akan punya sesi khusus untuk membahas isu Israel-Palestina dan mitranya di Timur Tengah.
Selama Israel melancarkan agresi, Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken tur ke Timur Tengah.
Dia disebut-sebut melobi negara-negara Arab untuk merekonstruksi Gaza usai perang. Blinken juga dilaporkan terlibat dalam upaya negosiasi gencatan senjata.
AS, Mesir, serta Qatar menjadi mediator untuk menyelesaikan konflik Israel-Hamas sehingga agresi di Palestina bisa berakhir.
"[Trump] Perlu banyak masukan dari Kementerian Luar Negeri AS," ujar Sya'roni.
Jakarta, CNN Indonesia --
Donald Trump menang dalam pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat versi hitung cepat sejumlah media pada Rabu (6/11).
Menurut hitungan New York Times, Trump meraih 51 persen atau 71 juta suara popular vote. Dia juga mendapat suara 277 elektoral dari 538 suara mengalahkan Kamala Harris.
Trump bahkan sudah menyampaikan pidato kemenangannya. Namun, dalam pernyataan publik pertama sebagai presiden terpilih versi hitung cepat, dia tak menyebut sama sekali soal Israel dan Palestina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak Israel melancarkan agresi ke Palestina, AS panen kritik karena terus mengucurkan bantuan ke Negeri Zionis.
Lalu, bagaimana kebijakan luar negeri AS di bawah pemerintahan Donald Trump?
Guru Besar hubungan internasional dari Universitas Indonesia Yon Machmudi mengatakan Trump tak memprioritaskan isu Palestina.
"Trump secara umum tidak menjadikan Palestina sebagai isu penting, dan menempatkan posisi secara vulgar ya sebagai pendukung Israel," kata Yon saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (6/11).
Trump, kata dia, juga tak punya keyakinan soal solusi dua negara.
Solusi dua negara merupakan kerangka yang disepakati komunitas internasional untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Caranya dengan mendirikan dua negara yang berdampingan, hidup damai, saling menghormati, hingga mengakui kedaulatan masing-masing.
Posisi Trump sebagai Presiden menurut Yon bahkan akan menguntungkan Israel dan menyulitkan solusi dua negara tercapai.
Israel, lanjut dia, juga tak ingin Palestina menjadi negara merdeka.
AS merupakan sekutu dekat dan utama Israel. Setiap pemerintahan Benjamin Netanyahu menyerang Gaza, mereka akan menyebut gempuran itu sebagai hak membela diri.
"Dengan kehadiran Trump maka kemudian impian terhadap solusi dua negara, adanya negara Palestina yang merdeka menjadi semakin sulit untuk direalisasikan," ungkap Yon.
Trump dalam pidato perdana usai menang versi hitung cepat dan di berbagai kesempatan juga tak pernah menyerukan gencatan senjata di Gaza.
Yon menilai sikap semacam itu sebagai bentuk dukungan penuh Trump ke Israel.
"Untuk menjaga hubungan dengan Israel, maka Trump tidak menyebut semacam dukungan terhadap gencatan senjata," ujar dia.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Tak Beda di Periode Pertama
Donald Trump akan lebih menguntungkan Israel ketimbang Palestina. (REUTERS/Brian Snyder)
Yon Machmudi menilai kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah termasuk soal Palestina dan Israel tak beda dengan era Trump sebelumnya.
Menurut dia, Trump akan gencar meneruskan proyek usulannya the Deal of Century. Ini merupakan road map untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina versi politikus partai Republlik itu.
Beberapa poin dalam usulan itu yakni mendeskripsikan ulang batas-batas untuk menggabungkan sebagian besar pemukiman ilegal Israel ke dalam wilayah Israel dan mencaplok Lembah Yordan; Mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Negara Palestina di masa depan sementara juga, secara bertentangan, mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang tidak terbagi; Mensyaratkan agar Negara Palestina tetap sepenuhnya didemiliterisasi.
Usulan Trump juga membahas kerangka ekonomi yang menjanjikan. Ini termasuk pembangunan terowongan Tepi Barat ke Jalur Gaza dan pulau buatan di lepas pantai Gaza untuk membangun pelabuhan dan bandara, demikian dikutipAl Jazeera.
Namun, sejumlah pihak termasuk Palestina menyebut usulan Trump sebagai kesepakatan terburuk.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al Shun pernah mengatakan usulan itu hanya akan merugikan Palestina.
Melalui Deal of Century, Trump akan fokus ke bidang ekonomi di Timur Tengah, demikian menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Sya'roni Rofii.
"Esensi kebijakan tersebut menetapkan elemen ekonomi sebagai pencipta perdamaian di Timur Tengah," ucap dia.
Meski fokus ke Timur Tengah, pengamat HI lain Yon, khawatir Trump akan melupakan Palestina karena negara ini tak jadi prioritas kebijakan luar negeri dia.
Namun, menurut Sya'roni, Trump akan punya sesi khusus untuk membahas isu Israel-Palestina dan mitranya di Timur Tengah.
Selama Israel melancarkan agresi, Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken tur ke Timur Tengah.
Dia disebut-sebut melobi negara-negara Arab untuk merekonstruksi Gaza usai perang. Blinken juga dilaporkan terlibat dalam upaya negosiasi gencatan senjata.
AS, Mesir, serta Qatar menjadi mediator untuk menyelesaikan konflik Israel-Hamas sehingga agresi di Palestina bisa berakhir.
"[Trump] Perlu banyak masukan dari Kementerian Luar Negeri AS," ujar Sya'roni.