Putri pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un, Kim Ju Ae, menyedot perhatian global karena untuk pertama kalinya mengunjungi mausoleum tempat peristirahatan kakek dan buyutnya di awal tahun baru 2026.
Foto yang dirilis media pemerintah Korut memperlihatkan Kim Ju Ae datang ke mausoleum bersama ayah-ibunya dan beberapa pejabat Korut. Kunjungan ini mempertegas dugaan bahwa Kim Ju Ae merupakan calon penerus rezim Korut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Istana Matahari Kumsusan, tempat kakek dan buyut Kim Ju Ae disemayamkan, melambangkan warisan suksesi kekuasaan keluarga Kim. Keluarga yang disebut sebagai 'garis keturunan Paektu' itu telah mendominasi kehidupan rakyat Korea Utara selama puluhan tahun.
Kim Jong Un merupakan generasi ketiga yang memimpin Korut setelah ayahnya Kim Jong Il dan kakeknya Kim Il Sung.
Para pengamat meyakini kehadiran Kim Ju Ae di mausoleum dan posisinya yang sentral di barisan depan kemungkinan besar dimaksudkan untuk menekankan statusnya sebagai calon penerus kekuasaan keluarga Kim.
CNNIndonesia.com merangkum profil dan sepak terjang Kim Ju Ae sebagai calon suksesor Kim Jong Un.
Kim Ju Ae merupakan putri Kim Jong Un yang diyakini lahir pada tahun 2013. Ia pertama kali muncul ke publik pada November 2022 ketika ikut ayahnya mengunjungi lokasi peluncuran rudal balistik antarbenua Hwasong-17.
Sejak penampilan perdana itu, Kim Ju Ae terus menemani sang Ayah melakukan inspeksi ke lokasi-lokasi militer dan ekonomi penting.
Kim Ju Ae kemudian muncul pertama kalinya di panggung diplomasi multilateral saat menghadiri parade militer untuk Hari Kemenangan China pada September 2025. Kehadirannya itu dianggap para ahli dan pengamat Korut sebagai sinyal jelas bahwa ia akan menggantikan ayahnya sebagai pemimpin negara terisolasi tersebut.
Kim Jong Un, yang diyakini telah ditunjuk sebagai penerus sejak berusia 8 tahun, bahkan tak pernah menemani ayahnya Kim Jong Il melakukan perjalanan ke luar negeri.
"Tindakan membawa putrinya ke hadapan publik menunjukkan bahwa Kim Jong Un bermaksud untuk memperkenalkan Kim Ju Ae ke panggung internasional guna mengembangkan kemampuan diplomatiknya," kata Lim Eul Chul, seorang profesor studi Korea Utara di Universitas Kyungnam, Korea Selatan, seperti dikutip NBC News.
Meski Kim Ju Ae banyak diyakini sebagai suksesor, ada pula pengamat yang berpendapat bahwa ia tak mungkin memerintah Korea Utara. Pasalnya, belum pernah ada sejarah pemimpin perempuan di Korut.
Pertanyaan juga muncul seputar anak-anak Kim Jong Un lainnya alias saudara-saudara Kim Ju Ae.
Pada 2017, Badan Intelijen Nasional Korea Selatan memberi tahu anggota parlemen bahwa Kim Jong Un memiliki tiga anak, yakni seorang putra yang lahir sekitar tahun 2010, seorang putri yang lahir sekitar tahun 2013 (kemungkinan merujuk pada Kim Ju Ae), dan seorang anak bungsu yang lahir pada tahun 2017.
Hingga hari ini, tidak pernah ada konfirmasi apa pun dari Pyongyang mengenai identitas mereka.
Jeong Seong Jang, wakil direktur Institut Penelitian Sejong, menerbitkan sebuah kolom mengenai pandangannya soal Kim Ju Ae. Dalam kolom berjudul "Why Kim Ju-ae Should Be Viewed as Designated Successor to Kim Jong-un" tersebut, ia mengatakan bahwa sudah banyak tanda dari Korea Utara mengenai garis suksesi Kim Jong Un yang jatuh kepada Kim Ju Ae.
Salah satunya, penyebutan 'yang terhormat' terhadap Kim Ju Ae, yang menunjukkan gelar kehormatan yang tak pernah diterapkan kepada keluarga Kim lainnya, seperti saudara perempuan Kim Jong Il maupun saudara perempuan Kim Jong Un.
Jeong juga menepis pandangan bahwa perempuan tak mungkin menjadi pemimpin tertinggi di Korut. Menurutnya, banyak para ahli yang salah tafsir karena kurangnya pemahaman mengenai sifat dinasti dari sistem Korea Utara.
"Di negara-negara monarki, jika seorang raja tidak memiliki putra, wajar jika seorang putri ditunjuk sebagai putri mahkota dan mewarisi kekuasaan," ujarnya, seperti dikutip Chosun.
(blq/asr)