Trump Beber Detail Penangkapan Maduro: Sembunyi di Rumah Mirip Benteng
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkap detail penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, salah satunya menyebut rumah tempat dia ditangkap mirip benteng.
Dalam sebuah wawancara dengan "Fox & Friends Weekend", Trump menyebut Maduro ditangkap di sebuah rumah yang mirip benteng, di mana dia diserbu dengan sangat cepat oleh pasukan khusus AS.
Trump mengatakan ia berkumpul dengan para jenderal di dalam sebuah ruangan di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, saat mereka "memantau setiap aspek" dari operasi yang "sangat kompleks" tersebut.
Ia mengatakan rencana awal adalah menangkap Maduro pada awal pekan ini, tetapi pasukan AS harus menunggu kondisi cuaca yang tepat.
"Kami menunggu empat hari. Kami akan melakukannya empat hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dua hari yang lalu. Dan tiba-tiba kondisi memungkinkan, dan kami berkata, 'Lakukan,'" kata presiden, dikutip dari Foxnews.
Ia menjelaskan Maduro berada di sebuah rumah yang "sangat dijaga ketat" saat hendak ditangkap.
"Dia berada di sebuah rumah yang lebih mirip benteng daripada rumah biasa. Rumah itu memiliki pintu baja. Ada yang disebut ruang aman, di mana seluruh dindingnya terbuat dari baja solid. Dia tidak berhasil menutup ruang itu. Dia mencoba masuk ke dalamnya, tapi dia diserang begitu cepat sehingga dia tidak berhasil masuk ke sana," kata Trump.
"Kami sudah siap. Kami memiliki, kamu tahu, pemotong baja besar dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menembus baja itu. Tapi kami tidak membutuhkannya. Dia tidak sampai ke area itu di rumah," lanjutnya.
Pada Sabtu (3/1), seorang pejabat AS yang diberi pengarahan tentang masalah tersebut mengatakan Pasukan Delta Angkatan Darat AS yang melakukan penangkapan terhadap Maduro, dengan CIA yang memberikan informasi intelijen untuk membantu melacak lokasi Maduro.
"Semua berjalan dengan tepat, semua yang mereka latih. Mereka sebenarnya membangun sebuah rumah yang identik dengan yang mereka masuki, lengkap dengan brankas-brankas dan baja di mana-mana," kata Trump, menjelaskan perencanaan militer yang dilakukan untuk operasi tersebut.
Trump mengatakan dia yakin tidak ada pasukan AS yang tewas dalam operasi tersebut. Ia menyebut ada beberapa orang terluka, tetapi mereka seharusnya dalam kondisi cukup baik.
Lebih lanjut, Trump juga menceritakan perjalanan Maduro dan istrinya dibawa dengan helikopter ke USS Iwo Jima untuk kemudian dibawa ke New York dan menghadapi dakwaan atas tuduhan konspirasi terorisme narkoba.
Ketika ditanya tentang masa depan Venezuela dengan Maduro yang tidak lagi berada di negara tersebut, Trump mengatakan pihaknya tengah mengambil keputusan untuk hal tersebut.
"Kami tidak bisa mengambil risiko membiarkan orang lain mengambil alih dan melanjutkan apa yang dia tinggalkan. Jadi kami sedang mengambil keputusan itu sekarang," kata Trump.
"Kami akan sangat terlibat dalam hal ini, dan kami ingin memberikan kebebasan bagi rakyat. Kami ingin, Anda tahu, memiliki hubungan yang baik. Saya pikir rakyat Venezuela sangat, sangat bahagia karena mereka mencintai Amerika Serikat. Anda tahu, mereka telah dipimpin oleh sebuah diktator atau bahkan lebih buruk," tambahnya.
(lom/fea)