Kronologi Agresi AS dan Penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro

CNN Indonesia
Minggu, 04 Jan 2026 15:50 WIB
Skenario penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro sudah berhembus sejak periode pertama Donald Trump memimpin AS.
Skenario penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro sudah berhembus sejak periode pertama Donald Trump memimpin AS. (REUTERS/@RapidResponse47)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat (AS) melakukan serangan militer dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro di kediamannya di Caracas. Ini merupakan puncak agresi Presiden AS Donald Trump ke Venezuela sejak periode pertama ia memimpin.

Penangkapan Maduro sendiri menambah panjang daftar pemimpin negara yang ditangkap oleh AS. Sebelumnya AS sudah menangkap paksa pemimpin Panama Manuel Noriega, Presiden Irak Saddam Husein, hingga Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kronologi penculikan

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diseret keluar dari kamar tidur mereka oleh pasukan AS. Keduanya ditangkap tengah malam saat sedang tidur.

Penangkapan dan penggerebekan Maduro serta ibu negara Venezuela dilakukan oleh Delta Force, satuan elite Angkatan Darat AS.

Menurut Trump, Maduro ditangkap dalam sebuah rumah yang diklaimnya mirip benteng. Ia mengatakan rencana awal adalah menangkap Maduro pada awal pekan ini, tetapi pasukan AS harus menunggu kondisi cuaca yang tepat.

Dalam sebuah wawancara dengan "Fox & Friends Weekend", Trump menjelaskan Maduro berada di sebuah rumah yang "sangat dijaga ketat" saat hendak ditangkap.

Maduro dan istrinya dibawa dengan helikopter ke USS Iwo Jima, yang kemudian dibawa ke New York.

Ia lalu dibawa ke pusat tahanan Brooklyn, New York menggunakan menggunakan kendaraan khusus setelah tiba di Manhattan dari pangkalan udara nasional Stewart menggunakan helikopter.

Maduro akan menghadapi dakwaan di pengadilan federal AS di Manhattan atas tuduhan narkoterorisme.

Awal mula

Pada 2018, ketika periode pertama Trump memimpin AS, muncul sejumlah laporan yang menyebut Trump mempertimbangkan menyerang Venezuela. Laporan tersebut memicu kewaspadaan Maduro dan membuatnya memerintahkan angkatan bersenjata untuk siap siaga.

Beberapa media AS melaporkan bahwa Trump sempat menanyakan kemungkinan menginvasi Venezuela kepada sejumlah penasihat kebijakan luar negeri Gedung Putih pada Agustus lalu.

Maduro menganggap berita-berita tersebut mendukung asumsinya selama ini yang menilai bahwa AS tengah merencanakan serangan militer terhadap Venezuela.

Pemimpin Venezuela yang telah menjabat sejak 2013 lalu itu menganggap rencana invasi dilakukan AS hanya untuk menguasai cadangan minyak negaranya yang besar.

Dia juga menuding gagasan Trump muncul tak lama setelah sejumlah tokoh oposisi Venezuela mengunjungi Gedung Putih. Trump disebut mengajukan gagasan itu saat rapat dengan sejumlah pejabat guna mendiskusikan penjatuhan sanksi AS terhadap Venezuela.

Trump mempertimbangkan hal itu demi menggulingkan Maduro yang dianggapnya sebagai pemimpin diktator sayap kiri yang korup. Dalam beberapa tahun terakhir Venezuela terus dirundung krisis ekonomi dan politik.

Namun, para penasihat Trump menolak gagasan tersebut dengan menganggap setiap bentuk aksi militer akan memicu eskalasi konflik dan membahayakan kepentingan AS di negara Amerika Latin itu.

Trump sendiri tak pernah mengakui kemenangan Maduro sejak Maduro terpilih sebagai Presiden Venezuela pada pemilihan umum (pemilu) 2018 lalu.

Trump, yang kembali menjabat pada 2024, juga tak mengakui kemenangan Maduro dalam pemilu Venezuela tahun lalu. Pemerintahannya lagi-lagi menuduh pemilu tersebut penuh kecurangan.

Eskalasi

Ketegangan Trump dan Maduro kembali terjadi pada 2025. Pada Agustus, Trump bahkan mengerahkan tiga kapal perang AS ke pantai Venezuela.

Kemudian, pada September, Washington bahkan mengerahkan lima jet tempur siluman tercanggih F-35 ke Puerto Rico pada Sabtu (13/9), sekutu AS yang merupakan tetangga Venezuela.

Bukan hanya F-35, sejumlah heilkopter dan Osprey milik AS juga terlihat di pangkalan udara Ceiba, Puerto Rico.

Di bulan yang sama, militer AS melancarkan serangan dan penyergapan ke kapal berbendera Venezuela, menewaskan 11 orang.

Washington mengeklaim bahwa serangan itu sebagai bagian dari operasi perang melawan kartel narkoba.

Venezuela mengatakan tidak satu pun dari 11 orang yang tewas tersebut merupakan bagian dari kartel narkoba.

Trump bahkan membuat sayembara hadiah sebesar US$50 juta dolar (Rp814 miliar) bagi siapa saja yang bisa menangkap Maduro. Maduro dianggap sebagai dalang jaringan narkoba di Venezuela.

Narkoba jadi alasan

Maduro dituduh memimpin jaringan narkoba melalui "Cartel de los Soles" atau Cartel of the Suns, yang ditetapkan Kementerian Keuangan AS sebagai organisasi teroris khusus pada Juli lalu.

Penetapan itu dilakukan lantaran kartel itu diyakini mendukung kartel narkoba Tren de Aragua dan Sinaloa, yang lebih dulu ditetapkan sebagai organisasi teroris asing pada awal tahun ini.

Namun, operasi pemberantasan narkoba tampaknya hanya menjadi kedok. Akhir Agustus lalu tersiar kabar bahwa Trump sedang berusaha menggulingkan rezim Maduro setelah berbicara dengan beberapa pejabat pemerintah AS.

Laporan CNN pada Jumat (5/9) juga mewartakan hal serupa. Sejumlah pejabat Gedung Putih mengakui bahwa Trump saat ini sedang menyusun strategi menggulingkan Maduro melalui operasi anti narkobanya.

Beberapa pihak mengaitkan sikap Trump terhadap Maduro dengan dugaan bahwa ia ingin menegaskan dominasi AS di Amerika Latin. Hal ini dilakukan khususnya untuk menangkal pengaruh Rusia dan China yang mendukung Maduro.

Sementara itu, sejumlah pihak termasuk para pemimpin dari negara Kolombia hingga Kuba menilai penggulingan rezim Maduro dilakukan demi AS bisa menguasai minyak dan gas Venezuela.

Cadangan minyak Venezuela

Venezuela sendiri diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mengalahkan negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Iran.

Menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Venezuela yang merupakan salah satu pendiri OPEC memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sebesar 303 miliar barel atau 17 persen dari cadangan global.

Nasib pemerintahan Venezuela

Berdasarkan konstitusi Venezuela 1999, wakil presiden, yaitu Delcy Rodríguez, akan mengambil alih kendali eksekutif pemerintahan.

Lalu saudaranya, Jorge Rodríguez, yang menjabat presiden badan legislatif National Assembly (Majelis Nasional) berada di urutan ketiga suksesi.

Selain itu, Diosdado Cabello, tokoh paling berpengaruh kedua Venezuela, saat ini masih menjabat Menteri Dalam Negeri dan memimpin lembaga sipil-militer yang pro pemerintah.

Sementara Trump sudah menyatakan hendak ikut campur ke dalam pemerintahan Venezuela. Ketika ditanya tentang masa depan Venezuela dengan Maduro yang tidak lagi berada di negara tersebut, Trump mengatakan pihaknya tengah mengambil keputusan untuk hal tersebut.

"Kami tidak bisa mengambil risiko membiarkan orang lain mengambil alih dan melanjutkan apa yang dia tinggalkan. Jadi kami sedang mengambil keputusan itu sekarang," kata Trump dalam wawancara bersama Fox.

"Kami akan sangat terlibat dalam hal ini, dan kami ingin memberikan kebebasan bagi rakyat. Kami ingin, Anda tahu, memiliki hubungan yang baik. Saya pikir rakyat Venezuela sangat, sangat bahagia karena mereka mencintai Amerika Serikat. Anda tahu, mereka telah dipimpin oleh sebuah diktator atau bahkan lebih buruk," tambahnya.

(lom/fea)


[Gambas:Video CNN]
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER