Rusia Disebut Tes Rudal Hipersonik Oreshnik ke Ibu Kota Ukraina
Rusia diklaim membombardir ibu kota Ukraina Kyiv dengan rudal hipersonik Oreshnik, salah satu senjata tercanggih Moskow, dalam serangan terbaru, pada Kamis (8/1) malam.
Serangan ini menandai pertama kalinya dalam lebih setahun Rusia mengerahkan Oreshnik. Rudal itu dapat membawa beberapa hulu ledak dengan muatan bahan peledak konvensional maupun nuklir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Angkatan Bersenjata Rusia melancarkan serangan besar-besaran dengan senjata jarak jauh berbasis darat dan laut berpresisi tinggi, termasuk sistem rudal darat jarak menengah bergerak Oreshnik," ujar Kementerian Pertahanan Rusia pada Jumat, seperti dikutip CNN.
Meski Rusia tidak menyebutkan lokasi pasti hantaman rudal tersebut, pihak berwenang Ukraina melaporkan rudal balistik terhadap fasilitas infrastruktur penting, termasuk di kota Lviv, Rusia barat.
"(Rudal itu) bergerak dengan kecepatan sekitar 13.0000 kilometer per jam di sepanjang lintasan balistik," demikian pernyataan dari Komando Udara "Barat" Angkatan Udara Angkatan Bersenjata Ukraina.
Pernyataan itu menambahkan bahwa jenis rudal akan dipastikan setelah komponen-komponennya diperiksa.
Angkatan Udara Ukraina mengatakan Rusia menembakkan total 36 rudal dan 242 drone pada Kamis malam.
Empat orang Tewas di Kyiv
Menurut walikota Kyiv, Vitali Klitschko, sedikitnya empat orang tewas dan 10 lainnya terluka dalam serangan itu, serta sejumlah infrastruktur penting mengalami kerusakan.
Sementara itu, Wali Kota Lviv, Andriy Sadovyi, menulis di Telegram bahwa "tidak ada informasi" mengenai korban jiwa akibat serangan rudal di Lviv.
"Fasilitas sipil dan bangunan tempat tinggal di kota tidak terpengaruh," katanya.
Bulan lalu, Rusia merilis video yang diklaim menunjukkan pengerahan sistem rudal Oreshnik di Belarus.
Moskow pertama kalinya menggunakan senjata ini pada November 2024 saat menyerang kota Dnipro di Ukraina, meski senjata tersebut belum sepenuhnya dikembangkan
"Serangan semacam itu di dekat perbatasan Uni Eropa dan Nato merupakan ancaman serius bagi keamanan di benua Eropa dan ujian bagi komunitas transatlantik," ujar Menlu Ukraina Andrii Sybiha dalam sebuah unggahan di X.
"Kami menuntut tanggapan tegas terhadap tindakan sembrono Rusia," tambah dia.
Namun Rusia menyatakan serangan ini dilakukan sebagai respons atas dugaan upaya Ukraina menyerang kediaman Presiden Vladimir Putin pada bulan lalu.
Klaim tersebut dibantah oleh pejabat Amerika Serikat, yang menyebut penilaian CIA tidak menemukan bukti bahwa Ukraina menargetkan rumah Putin.
Serangan Oreshnik ini berlangsung di tengah upaya diplomatik yang dipimpin Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Serangan tersebut juga terjadi beberapa jam setelah Rusia kembali memperingatkan bahwa pasukan Eropa yang berada di Ukraina akan dianggap sebagai target sah.
Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia terus membombardir infrastruktur energi Ukraina, menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan listrik dan pemanas di tengah musim dingin.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga mengatakan tujuan serangan tersebut adalah "untuk menciptakan kekacauan dan tekanan psikologis terhadap penduduk."
(rnp/bac)[Gambas:Video CNN]


