Demo Iran Semakin Membara, Trump Ogah Temui Pangeran Iran

CNN Indonesia
Jumat, 09 Jan 2026 18:05 WIB
Presiden Trump ogah temui pangeran Iran Reza Pahlavi saat negara itu didera demo besar-besaran. (REUTERS/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak bertemu dengan Reza Pahlavi, sosok yang mengeklaim sebagai Putra Mahkota Iran, di tengah demonstrasi Iran yang kian membara.

Trump menyebut Pahlavi, putra shah terakhir Iran yang digulingkan Revolusi Islam 1979, sebagai "orang yang baik" pada Kamis (8/1).

Namun, Trump menambahkan bahwa sebagai presiden, ia menilai tidak pantas untuk bertemu dengan Pahlavi.

"Saya pikir kita sebaiknya membiarkan semuanya berjalan dan melihat siapa yang muncul," ujar Trump dalam podcast 'The Hugh Hewitt Show', seperti dikutip Al Jazeera.

"Saya tidak yakin itu hal yang tepat untuk dilakukan," tambah dia.

Pahlavi, yang berbasis di AS dan memiliki hubungan dekat dengan Israel memimpin faksi monarkis dalam oposisi Iran yang terpecah-pecah.

Pernyataan Trump menunjukkan bahwa AS tidak mendukung tawaran Pahlavi untuk memimpin transisi pemerintahan di Iran jika sistem saat ini runtuh.

Sementara itu, pemerintah Iran saat ini menghadapi gelombang protes di berbagai wilayah negara tersebut.

Otoritas Iran pada Kamis memutus akses internet, langkah yang diduga untuk menekan gerakan protes, sementara Pahlavi menyerukan aksi demonstrasi lanjutan.

Sebelumnya, Trump telah memperingatkan bahwa ia akan turun tangan jika pemerintah Iran menargetkan para demonstran. Ancaman itu kembali ia tegaskan pada Kamis.

"Mereka melakukannya dengan sangat buruk. Saya sudah memberitahu mereka bahwa jika mereka mulai membunuh orang, yang biasanya mereka lakukan saat kerusuhan, kalau itu terjadi, kami akan menghantam mereka dengan sangat keras," ujar Trump.

Aksi protes di Iran dimulai bulan lalu sebagai respons terhadap krisis ekonomi yang kian memburuk, ketika nilai mata uang rial anjlok di tengah sanksi berat AS.

Demonstrasi yang awalnya berfokus pada isu ekonomi itu muncul secara sporadis di berbagai wilayah Iran. Namun, aksi tersebut menjadi protes anti-pemerintah yang lebih luas dan tampak semakin menguat, hingga memicu pemadaman internet.

Di sisi lain, Pahlavi menyampaikan terima kasih kepada Trump dan mengeklaim bahwa "jutaan warga Iran" turun ke jalan pada Kamis malam.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pemimpin dunia bebas, Presiden AS Donald Trump, karena kembali menegaskan janjinya untuk meminta pertanggungjawaban rezim," tulisnya di media sosial.

"Sudah saatnya pihak lain, termasuk para pemimpin Eropa, mengikuti langkah tersebut, menghentikan sikap diam, dan bertindak lebih tegas mendukung rakyat Iran," ia menambahkan.

(rnp/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK