Trump Buka Opsi Serang Iran usai Demo Tewaskan 500 Orang
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku tengah mempertimbangkan serangkaian opsi tegas terhadap Iran, usai demonstrasi di negara itu diyakini telah menewaskan lebih dari 500 orang per Minggu (11/1).
Salah satu "opsi sangat kuat" tersebut, yakni serangan militer terhadap Iran.
"Kami mempertimbangkannya dengan sangat serius. Militer juga sedang mempertimbangkannya. Kami sedang meninjau beberapa opsi yang sangat kuat. Kami akan membuat keputusan," kata Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (11/1), seperti dikutip AFP.
Kelompok hak asasi manusia (HAM) yang berbasis di Amerika Serikat (AS), HRANA, sebelumnya melaporkan lebih dari 500 orang tewas dalam aksi unjuk rasa di Iran. Korban tewas antara lain 490 pedemo dan 48 aparat keamanan.
HRANA juga menyebut lebih dari 10.600 orang ditangkap selama demonstrasi.
Otoritas Iran sementara itu belum merinci jumlah resmi korban tewas dalam demo. Reuters juga belum bisa memverifikasi laporan HRANA secara independen.
Iran diguncang demo besar-besaran sejak 28 Desember lalu. Demo terbesar sejak 2022 itu mulanya dipicu oleh krisis moneter. Demo kemudian meluas dan berubah menjadi tuntutan perubahan rezim Ayatollah Ali Khamenei.
AS dan Israel sejak awal menyuarakan dukungan kepada rakyat Iran untuk cepat-cepat menggulingkan Khamenei. Trump telah menyatakan bakal turun tangan membantu warga Iran jika aparat melakukan kekerasan.
Pada Selasa (13/1), Trump dijadwalkan bertemu dengan sejumlah penasihat senior untuk membahas masalah Iran. The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan Trump membuka opsi intervensi di Iran, termasuk menggunakan serangan militer.
Lihat Juga : |
Sejumlah pejabat juga mengatakan kepada The Jerusalem Post bahwa Trump sudah memutuskan untuk membantu para demonstran di Iran. Ia saat ini menggodok sejumlah rencana, mulai dari bantuan militer, bantuan siber, hingga bantuan jaringan internet.
Sejak Kamis (8/1), internet di Iran diputus seiring dengan meningkatnya eskalasi protes. Pedemo dilaporkan membakar gedung-gedung pemerintah serta kendaraan dan fasilitas umum.
Lembaga HAM memperkirakan demo di Iran telah meletus di seluruh provinsi negara itu.
Pada Minggu, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu juga mengadakan pertemuan dengan menteri dan pejabat keamanan terkait situasi di Iran.
Netanyahu memutuskan tidak ikut campur secara terbuka di Teheran dan membiarkan AS mengambil langkah. Pada saat yang sama, Netanyahu bersiap akan kemungkinan serangan dari Iran.
Iran telah memperingatkan agar AS dan Israel tak ikut campur soal masalah domestik Teheran. Iran mengancam akan menyerang Israel serta pangkalan dan kapal Washington apabila kedua negara nekat mengintervensi.
(blq/dna)