Trump Ejek Greenland Cuma Dijaga 2 Kereta Anjing, Apakah Benar?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim keamanan dan pertahanan Greenland cuma dijaga dua kereta luncur anjing dalam menjaga pertahanan pulai itu.
Klaim Trump muncul saat mengungkap alasan AS ingin mencaplok Greenland. Ketika itu, dia menyebut jika AS tak melakukannya maka pulau tersebut bakal diambil alih Rusia dan China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahukah Anda apa pertahanan mereka, dua kereta luncur anjing, sementara Rusia dan China punya kapal perusak dan kapal selam di mana-mana." ujar Trump pada Senin (12/1).
Pernyataan itu memicu reaksi Eropa. Jerman dan Swedia misalnya menegaskan siap mendukung Denmark.
Di luar pembelaan tersebut, apakah benar pertahanan keamanan Greenland hanya dijaga dua kereta luncur anjing?
Sebagai wilayah otonomi Kerajaan Denmark, urusan pertahanan dan keamanan Greenland sebagian besar memang ditanggung Copenhagen.
Angkatan Laut Kerajaan Denmark memang mengoperasikan kereta luncur anjing bernama Sirius-patruljen di Daneborg. Namun, ini bukan satu-satunya pertahanan mereka.
Greenland juga punya pasukan coast guard bersenjata yang berpatroli di pantai pulau itu serta melakukan operasi pencarian dan penyelamatan, demikian dikutip military history fandom.
Sebelum punya kendali menjaga garis pantainya, Greenland punya sejarah panjang untuk bisa sampai ke titik ini.
Greenland sudah dihuni Suku Inuit sejak ribuan tahun lalu, tetapi mereka tak punya struktur kenegaraan. Kemudian pada 1729, Denmark menaklukkan pulau tersebut. Lalu, sejak Perang Dunia II, Amerika Serikat menduduki Greenland dan mendirikan pangkalan militer di sana.
Usai PD II rampung, AS dan Denmark meneken perjanjian pertahanan pada 1951. Lewat kesepakatan tersebut, Denmark memberi akses militer ke AS seluas mungkin di Greenland.
Hingga saat Perang Dingin, AS mengoperasikan sekitar 50 pangkalan dan stasiun radar di Greenland. Saat ini hanya satu pangkalan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik dengan 150 personel AS. Fasilitas tersebut jadi mata rantai penting dalam sistem pertahanan rudal AS.
Kemudian pada 1979, Greenland secara resmi menjadi wilayah otonom Kerajaan Denmark. Namun, pendidikan, kepolisian, peradilan, dan perpajakan tetap di bawah kendali kerajaan tersebut.
Lalu pada 2009, Greenland bergerak lebih maju untuk otonomi lebih besar dengan dengan mengesahkan UU Pemerintahan Mandiri.
UU tersebut mengakui penduduk Greenland sebagai bangsa yang berbeda di bawah hukum internasional.
"Ini memberi mereka hak untuk memisahkan diri dari Kerajaan Denmark jika mayoritas rakyat memutuskan demikian," demikian dikutip situs resmi PBB.
Namun, jika keputusan itu diambil mereka harus meningkatkan pendapatan signifikan untuk mengimbangi jika subsidi Denmark dicabut.
Melalui Pasal 12 dalam Undang-Undang Pemerintahan Mandiri, Greenland bisa bernegosiasi dan membuat perjanjian internasional yang semata-mata menyangkut wilayah administratif mereka, demikian dikutip visit Greenland.
Lewat UU ini pula, pemerintah Greenland punya kendali atas Penjaga Pantai.
Greenland juga bisa mengambil alih kendali kepolisian termasuk kapal-kapal patroli polisi untuk membantu militer di pulau tersebut.
Greenland dan Denmark juga punya Pusat Koordinasi Penyelamatan Gabungan Greenland (JRCC) sehingga bisa menerima bantuan pesawat C-130J dan Challenger 604 dari Angkatan Udara Denmark.
Pesawat C-130J bertugas untuk memasok pasukan Denmark di Greenland, sementara Challenger 604 membantu misi pengawasan di Arktik. Sejak 2021, ada satu pesawat yang ditempatkan secara permanen di Kangerlussuaq.
Kemudian pada 2024, parlemen Denmark sepakat soal rencana penempatan aset pengawasan mencakup UAV jarak jauh General Atomics MQ-Reaper di Greenland.
(isa/rds)[Gambas:Video CNN]

