Menlu Sugiono Cemas Soal Situasi Global: Multilateralisme Terancam

CNN Indonesia
Rabu, 14 Jan 2026 15:35 WIB
Menteri Luar Negeri RI Sugiono buka suara terkait multilateralisme yang kini kian mengkhawatirkan menyusul konflik global yang saat ini tambah runcing.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono buka suara terkait multilateralisme yang kini kian mengkhawatirkan menyusul konflik global yang saat ini tambah runcing. (Foto: AFP/CHALINEE THIRASUPA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri RI Sugiono buka suara terkait multilateralisme yang kini kian mengkhawatirkan menyusul konflik global yang saat ini tambah runcing.

Sugiono menyampaikan tanggapan tersebut saat pidato dalam acara Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) di Gedung Nusantara, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (14/1). Sebagai Menlu, dia sering mendengar pertanyaan soal perlindungan multilateral.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika aturan sering dilanggar dan keputusan terlambat, apa manfaat multilateralisme bagi Indonesia? Ini adalah sebuah pertanyaan yang sah dan Indonesia tidak menghindari," kata Sugiono saat pidato.

Dia lalu berujar, "Kita semua melihat sendiri bagaimana multilateralisme hari ini berada di bawah ancaman serius. Bukan karena nilai dasarnya yang keliru tetapi karena arsitekturnya tertinggal dari realitas geopolitik, ekonomi, dan keamanan yang bergerak jauh lebih cepat."

Lebih lanjut, Sugiono mengatakan, dari pengamatan tersebut, multilateralisme adalah instrumen strategis untuk memastikan tidak ada zero-sum game.

Indonesia, kata dia, tidak akan menggantungkan kepentingan nasional pada multilateralisme yang tidak bekerja.

"Indonesia juga tidak akan menyerahkan masa depannya pada dunia tanpa aturan," ungkap Sugiono.

Indonesia, lanjut dia, tetap berada dalam sistem sembari mendorong perubahan dari dalam. Komitmen tersebut tercermin dalam tindakan sepanjang 2025.

Di tahun tersebut, Indonesia mengikuti 10 pencalonan penting di berbagai organisasi internasional dan berhasil dimenangkan.

Sugiono memandang angka tersebut bukan cuma angka, tapi soal pengaruh dan dampak wujud kepercayaan Indonesia terhadap multilateralisme.

Komunitas internasional saat ini sedang cemas usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan agresi ke Venezuela pada 3 Januari. Dia juga menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta ibu negara Cilia Flores.


Sebagian negara mengecam tindakan Trump dan menyebut operasi itu melanggar hukum internasional.

Namun, di kesempatan terpisah, Trump bahkan menyatakan tak butuh hukum internasional dan akan menjalankan kepemimpinan global dengan moralitas sendiri.

AS, di bawah Trump, berambisi untuk mencaplok Greenland, Kanada, Panama, hingga mengganti pemerintahan Iran.

(isa/rds)


[Gambas:Video CNN]