Iran Tuntut Pedemo Hukuman Gantung, Trump Ancam Akan Bertindak
Jaksa Teheran, Iran, menyatakan sejumlah tersangka akan dituntut dengan dakwaan 'moharebeh' atau 'bertindak membangkang Tuhan' terkait demonstrasi baru-baru ini.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengancam akan mengambil tindakan "sangat tegas" jika pemerintah Iran melanjutkan ancaman hukuman gantung kepada unjuk rasa, pada Selasa (13/1).
Sementara Teheran menanggapi pernyataan tersebut dengan menyebut peringatan AS sebagai dalih untuk melakukan intervensi militer.
"Kami akan mengambil tindakan sangat tegas jika mereka melakukan hal semacam itu," kata Trump, seperti dikutip AFP.
"Saat mereka mulai membunuh ribuan orang dan sekarang Anda memberitahu saya soal hukuman gantung. Kita akan lihat bagaimana konsekuensinya bagi mereka."
Ia juga menyampaikan kepada CBS News bahwa AS akan bertindak jika Iran mulai menggantung pengunjuk rasa.
Sebelumnya pada Selasa, Trump menulis di platform Truth Social-nya agar warga Iran "TERUS Berdemonstrasi."
Namun, ia menambahkan bahwa kerusuhan akibat unjuk rasa membuatnya harus membatalkan pertemuan dan mengirim bantuan.
"Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan pengunjuk rasa yang tidak masuk akal BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN," tulis Trump.
Dalam video terbaru yang diunggah di media sosial, terlihat jenazah berjajar di kamar mayat Kahrizak di selatan ibu kota Iran, dengan tubuh dibungkus kantong hitam.
Menurut jurnalis AFP, jaringan telepon internasional pulih pada Selasa, tetapi hanya untuk panggilan keluar, dan kualitas layanan tetap tidak stabil.
Kemarahan internasional meningkat atas tindakan keras pemerintah Iran yang menurut kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, sebanyak 2.403 orang tewas meliputi anak di bawah 18 tahun.
Media resmi Iran menyebut puluhan anggota aparat keamanan tewas, dengan pemakaman mereka berubah menjadi demonstrasi pro-pemerintah besar-besaran.
Misi Iran di PBB mengunggah pernyataan di platform X, menyatakan bahwa "buku pedoman" Washington akan "gagal lagi."
Pernyataan itu menilai kebijakan AS terhadap Iran berfokus pada perubahan rezim, dengan sanksi, ancaman, dan kekacauan yang dijadikan dalih untuk intervensi militer.
Selain itu, negara-negara Eropa juga menunjukkan kemarahan atas tindakan tersebut, dengan Prancis, Jerman, dan Inggris memanggil duta besar Iran masing-masing, demikian pula Uni Eropa.
Lihat Juga : |
"Jumlah korban yang terus meningkat di Iran sangat mengerikan," kata Ketua Uni Eropa Ursula von der Leyen.
Ia juga berjanji akan memberlakukan sanksi lebih lanjut terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Demonstrasi yang bermula dari kemarahan atas kenaikan biaya hidup itu kini berkembang menjadi tantangan besar terhadap sistem teokrasi yang berkuasa sejak revolusi 1979.
(rnp/bac)