Cerita Warga Greenland Takut Wilayahnya Dicaplok Trump

CNN Indonesia
Rabu, 14 Jan 2026 18:07 WIB
Warga Greenland khawatir akan kehilangan kendali atas tanah air mereka setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali menegaskan akan mengambil pulau mereka.
Cerita warga Greenland takut wilayahnya dicaplok Trump. (AFP/JULIETTE PAVY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Greenland khawatir akan kehilangan kendali atas tanah air mereka setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali menegaskan akan mengambil pulau mereka.

Seorang guru sekolah menengah, Simone Bagai, menilai pernyataan Trump mencerminkan ketidakpahaman terhadap hak dan prinsip moral Greenland.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ia menunjukkan ketidakpahaman total terhadap hak konstitusional dan integritas moral," ujar Bagai, seperti dikutip CNN.

"Greenland adalah milik rakyat Greenland, dan apakah mereka ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat? Jelas tidak. Hal itu sudah disampaikan berkali-kali dengan cara yang sopan," tambah dia.

Sementara itu, insinyur pemerintah daerah, Ludvig Petersen, juga resah. Ia menolak gagasan Greenland menjadi bagian dari AS.

"Saya tidak suka gagasan menjadi bagian dari Amerika," ujarnya.

"Kekhawatiran utama saya adalah privatisasi layanan kesehatan dan pendidikan. Itu bukan sesuatu yang biasa bagi kami," Petersen menambahkan.

Trump yang terus mengeklaim akan "melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak," membuat Petersen yakin pengambilalihan AS bisa benar-benar terjadi.

"Saya takut ia (Trump) akan melakukannya," katanya.

Meski mencoba memahami logika Trump, ia tetap merasa hal itu tidak masuk akal dan mempertanyakan mengapa AS tak cukup mengaktifkan pangkalan militernya.

Di sisi lain, seorang sopir taksi Inuit menceritakan perubahan iklim memutus tradisi berburu anjing laut dan memelihara puluhan anjing menjadi beban. Keseimbangan antara manusia dan alam yang menjadi inti kehidupan Greenland pun memudar.

"Dia bodoh. Trump mengira dia besar, tapi bagi kami dia kecil," ujarnya, seraya menambahkan tidak ingin AS mengambil alih Greenland.

Sementara itu, pemilik usaha pakaian dari kulit anjing laut, Mia Chemnitz, menekankan kesenjangan pemahaman antara dunia luar dan masyarakat Greenland.

"Ketika saya berbicara tentang Greenland, saya berbicara tentang masyarakat, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di sini," katanya.

"Namun, ketika dunia membicarakan Greenland, yang dibahas adalah wilayah dan sumber daya. Itu bukan hal yang sama," kata Chemnitz.

Mempertanyakan keinginan Trump

Chemnitz juga mempertanyakan apa yang sebenarnya diinginkan oleh AS dari Greenland.

"Ada suara kecil di kepala saya yang bertanya, apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kami? Kapan kami dianggap tidak lagi berharga?" katanya.

Menurut Chemnitz, retorika Trump, justru membuat warga ragu menjalin hubungan dengan Amerika.

Sebagai masyarakat damai tanpa militer, Greenlander sadar mereka tak mungkin melawan kekuatan militer AS.

Seperti mayoritas warga Greenland, lebih dari 85 persen, Chemnitz mendukung kemerdekaan dari Denmark, meski menyadari kemandirian sulit dan membutuhkan dukungan internasional.

(rnp/bac)


[Gambas:Video CNN]