Diremehkan Trump, Siapa PM Greenland Jens-Frederik Nielsen?

CNN Indonesia
Kamis, 15 Jan 2026 19:35 WIB
PM Greenland Jens-Frederik Nielsen menjadi perhatian usai diremehkan Presiden Donald Trump gegara ambisinya membuat wilayah otonomi Denmark itu bagian dari AS. (Foto: AFP/LUDOVIC MARIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menjadi perhatian setelah diremehkan Presiden Donald Trump menyusul ambisinya menjadikan wilayah otonomi Denmark itu bagian dari Amerika Serikat.

Trump mengaku tak kenal Nielsen ketika ditanya tanggapannya setelah sang PM Greenland menolak wilayahnya menjadi bagian dari AS.

"Itu masalah mereka. Saya tidak setuju dengannya. Saya tidak tahu siapa dia. Saya tidak tahu apa pun tentang dia, tapi itu akan menjadi masalah besar baginya," ujar Trump, merespons pertanyaan mengenai penolakan Nielsen terhadap rencana AS.

Sebelumnya, dalam konferensi pers di Copenhagen, Nielsen menegaskan bahwa Greenland akan tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Ia menekankan rakyat Greenland ogah dipimpin AS.

"Greenland tidak ingin dimiliki oleh AS. Greenland tidak ingin diperintah oleh AS. Greenland tidak akan menjadi bagian dari AS," kata Nielsen.

Ucapan Nielsen sendiri dilontarkan setelah Trump berulang kali menekan Greenland dengan menyatakan mau memiliki pulau terbesar di dunia itu. Bagi Trump, Greenland penting untuk keamanan nasional AS.

Profil PM Greenland

Jens-Frederik Nielsen merupakan perdana menteri termuda Greenland yang memimpin pulau tersebut di usia 34 tahun. Ia menjadi PM setelah partai Demokrat sayap kanan-tengahnya meraup nyaris 30 persen suara dalam pemilihan parlemen.

Partainya kemudian membentuk koalisi bersama Partai Siumut, Inuit Ataqatigiit, dan Atassut hingga mewakili sekitar 75 persen kursi parlemen. Hanya Naleraq yang dikecualikan dan tetap berada di pihak oposisi. Naleraq adalah partai yang condong ke Amerika Serikat.

Saat berkampanye, Nielsen menggemakan keinginan untuk memberikan kekuasaan Greenland ke tangan putra bangsa. Ia juga mendukung Greenland merdeka dari Denmark.

Meski mendukung kemerdekaan, Nielsen berpendapat proses tersebut harus bertahap dan perlu ditempuh dengan cermat supaya Greenland punya "fondasi yang baik" saat sudah betul-betul merdeka.

Pilih Denmark daripada AS

Dengan tekanan Trump belakangan, Nielsen mau tak mau dihadapkan pada pilihan. Jika situasi memaksanya memilih antara Denmark dan AS, ia mantap memilih Denmark.

"Kami memilih Greenland yang kami kenal hari ini, yang merupakan bagian dari Kerajaan Denmark," kata Nielsen pada waktu yang sama ketika menentang keinginan Trump.

Pengamat di Arctic Institute, Pavel Devyatkin, mengatakan Nielsen saat ini "sedang berjalan di atas tali dengan pragmatisme yang mengesankan."

"Sebagai pemimpin yang pro-bisnis, dia menginginkan investasi Amerika, tetapi dia menolak membiarkan Greenland diperlakukan bak hadiah yang harus diperoleh," kata Devyatkin kepada Anadolu Agency.

Menurut Devyatkin, Nielsen pintar memanfaatkan situasi untuk "membuka pintu perdagangan" dengan AS sambil tetap menerima bantuan diplomatik dari Denmark.

Nielsen tahu Greenland rentan tanpa Denmark sehingga ia tetap menjaga hubungan baik dengan Kerajaan. Kemudian, di saat yang sama, ia juga membuka ruang negosiasi demi masuknya investasi AS.

(blq/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK