Ke Denmark & Beri Dukungan Greenland, Anggota Kongres AS Lawan Trump?

CNN Indonesia
Sabtu, 17 Jan 2026 20:30 WIB
Rencana Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok Greenland mendapat kecaman dari pemimpin dunia, bahkan dari dalam negeri AS-nya juga.
Sebelas anggota Kongres AS memberikan keterangan pers saat berada di gedung parlemen Denmark, Kopenhagen, Kamis (16/1). (REUTERS/Tom Little)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mencaplok Greenland memicu kecaman keras dari para pemimpin dunia. Kecaman juga datang dari dalam Negeri Paman Sam itu.

Tengah pekan ini, 11 anggota Kongres AS melakukan kunjungan ke Kopenhagen, Denmark, Kamis (16/1). Dalam kunjungan yang disambut Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen, anggota Kongres AS itu memberikan dukungan kepada negara itu dan Greenland.

Kunjungan anggota bikameral AS itu berlangsung dua hari setelah pertemuan yang menegaskan AS dan Denmark tak berada dalam 'kesepakatan mendasar' mengenai masa depan Greenland. Saat ini pulau di Arktik itu adalah wilayah otonom Denmark.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami menunjukkan solidaritas bipartisan dengan rakyat negara ini dan dengan Greenland. Mereka telah menjadi teman dan sekutu kami selama beberapa dekade," kata Senator AS dari Partai Demokrat, Dick Durbin, kepada wartawan di Kopenhagen seperti dikutip dar AFP.

"Kami ingin mereka tahu bahwa kami sangat menghargai hal itu. Dan pernyataan yang dibuat oleh presiden [Trump] tidak mencerminkan apa yang dirasakan rakyat Amerika," tambahnya.

Selain Durbin, delegasi kongres AS itu terdiri atas senator Demokrat: Chris Coons, Peter Welch, dan Jeanne Shaheen. Lalu anggota DPR AS dari Partai Demokrat yakni Steny Hoyer, Gregory Meeks, Madeleine Dean, Sara Jacobs, dan Sarah McBride.

Kemudian ada juga senator dari Partai Republik--partai yang sama dengan Donald Trump--yakni Thom Tillis dan Lisa Murkowski.

Para anggota Kongres AS itu berada di Kopenhagen dari Jumat hingga Sabtu (17/1) ini. Selanjutnya mereka bertolak ke Davos, Swiss, untuk ikut Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026.

Mengutip dari Reuters, usai pertemuan di Denmark, Coons mengatakan setelah kembali ke daerah masing-masing di AS, mereka akan berupaya menurunkan ketegangan yang terjadi.

Para anggota Kongres AS itu--baik dari Partai Demokrat maupun Republik--saat berada di Kopenhagen memastikan akan berada di belakang undang-undang yang membatasi kemampuan Trump merebut Greenland.

"Tetap teguh pada hak Anda (Denmark dan Greenland] untuk menentukan nasib sendiri. Itu sangat penting. Kami mendukungnya. Presiden [Trump] tidak berhak mencampuri urusan Greenland atau Denmark, kata Welch kepada wartawan di kawasan Istana Christianborg--tempat parlemen Denmark berkantor.

Sementara itu, Trump masih bersikeras bahwa AS perlu menguasai pulau otonom milik Kerajaan Denmark tersebut demi alasan "keamanan nasional".

Bahkan pada Sabtu (17/1) ini, Trump mengancam akan menjatuhkan tarif bagi negara-negara yang tidak mendukung rencananya menganeksasi Greenland.

Sebelumnya, Kantor Kepresidenan AS, Gedung Putih menyatakan opsi militer tetap tersedia. Sekretaris Pers Karoline Leavitt menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer adalah "pilihan yang selalu berada di tangan Panglima Tertinggi."

Eskalasi di Greenland kali ini menandai krisis terdalam dalam hubungan transatlantik sejak Perang Dunia II.

Utusan khusus Trump untuk Greenland, Jeff Landry mengatakan bakal mengunjungi Greenland pada Maret mendatang. Landry yakin kesepakatan untuk Greenland itu akan segera tercapai.

"Saya yakin ada kesepakatan yang seharusnya dan akan tercapai setelah ini selesai," kata Jeff Landry kepada Fox News dalam sebuah wawancara, Jumat kemarin.

"Presiden benar-benar serius. Saya pikir dia telah menetapkan patokannya. Dia telah memberi tahu Denmark apa yang dia cari."

Sebetulnya bukan kali ini saja Trump ingin menjadikan Greenland bagian dari AS. Pada periode kepresidenannya yang pertama, di 2019 lalu dia juga mendorong agar Greenland menjadi bagian AS.

Namun kala itu langkah Trump dijegal di Washington, bahkan dari sejumlah anggota kongres dari partainya sendiri, Partai Republik.

(kid)


[Gambas:Video CNN]