2 Jenderal Top China Diduga Bocorkan Rahasia Nuklir-Indikasi Kudeta

CNN Indonesia
Senin, 26 Jan 2026 14:20 WIB
Jenderal top China Zhang Youxia dipecat dari Partai Komunis. (AFP/PEDRO PARDO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak dua jenderal tertinggi China dicopot diduga gegara membocorkan informasi rahasia tentang program nuklir Beijing kepada Amerika Serikat hingga terindikasi hendak melancarkan kudeta terhadap Presiden Xi Jinping.

Wall Street Journal (WSJ) melaporkan hal tersebut berdasarkan informasi dari sejumlah orang yang mengetahui permasalahan itu.

Dalam artikel yang dirilis pada Minggu (25/1), WSJ menyebut Zhang Youxia (75) diduga dipecat Xi Jinping karena membocorkan data teknis inti mengenai senjata nuklir China ke AS. Ia juga diduga membentuk kelompok politik dan menyalahgunakan wewenangnya dalam keputusan militer.

Selain itu, Zhang juga dituduh menerima suap sebagai imbalan untuk mempromosikan seorang prajurit menjadi menteri pertahanan. Ini merujuk pada Li Shangfu, mantan Menteri Pertahanan China yang dicopot Xi pada 2023 lalu.

Menurut WSJ, Xi telah menugaskan sebuah satuan untuk menyelidiki masa jabatan Zhang sebagai komandan Wilayah Militer Shenyang pada periode 2007-2012.

Otoritas juga dilaporkan telah menyita perangkat seluler para perwira yang naik pangkat bersama Zhang dan Liu Zhenli, jenderal pangkat tinggi yang juga dicopot Xi Jinping dan sedang diselidiki sejak Sabtu (24/1) lalu.

[Gambas:Video CNN]

Zhang sejauh ini tidak bisa dihubungi untuk dimintai komentar. Kementerian Pertahanan China dan Kedutaan Besar China di Washington juga tidak menanggapi pertanyaan media.

Pencopotan dan penyelidikan terhadap Zhang dan Liu ini mengejutkan dunia lantaran kedua tokoh merupakan jajaran komando militer tertinggi di China.

Zhang Youxia merupakan wakil ketua Komisi Militer Pusat (CMC), sebuah badan di Partai Komunis yang mengendalikan angkatan bersenjata Beijing. Liu Zhenli sementara itu adalah kepala Departemen Staf Gabungan CMC.

Pemecatan keduanya kini membuat komando militer tertinggi China tinggal diduduki dua orang, yaitu Xi Jinping dan Zhang Shengmin, wakil ketua peringkat kedua yang bertanggung jawab atas urusan disiplin di militer.

Gonjang-ganjing militer ini adalah yang terbesar di China sejak berakhirnya pemerintahan Mao Zedong pada 1976. Banyak pengamat yang melihat kejatuhan Zhang sebagai retaknya hubungan erat dia dengan Xi Jinping.

Ayah Zhang dan Xi berasal dari Provinsi Shaanxi dan bertugas bersama dalam perang saudara China. Xi Jinping telah mempertahankan jabatan tinggi Zhang sampai melebihi batas usia pensiun yakni 68 tahun.

Pengamat militer China sekaligus mantan kepala analis China di CIA, Dennis Wilder, mengatakan pencopotan Zhang tampaknya berkaitan dengan kegelisahan Xi Jinping akan potensi kudeta.

Wilder berujar setelah Zhang memenangkan pertarungan dengan He Weidong, wakil ketua CMC kedua dan anggota faksi rival, tahun lalu, Xi mungkin saja khawatir bahwa Zhang berpotensi amat berkuasa di militer.

"Xi mungkin khawatir bahwa ... Zhang sangat berkuasa di militer. Dengan asumsi bahwa Xi menginginkan masa jabatan keempat, dia pasti khawatir bahwa Zhang dapat memimpin upaya di dalam Partai untuk menggulingkannya," kata Wilder, seperti dikutip Financial Times.

https://www.ft.com/content/f052e439-7b61-4370-aaac-dda1d1d06483

Menurut pernyataan Kementerian Pertahanan China pada Sabtu, Zhang dan Liu diselidiki atas "pelanggaran disiplin serius dan pelanggaran hukum". Ini merupakan kode Partai Komunis China untuk korupsi yang juga umum dipakai dalam bersih-bersih politik.

Sementara itu, menurut surat kabar resmi militer PLA Daily pada Minggu (25/1), Zhang dan Liu telah "menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua secara serius". Istilah ketua ini merujuk pada Xi Jinping selaku panglima tertinggi militer.

"(Keduanya) secara serius bersekongkol dalam masalah politik dan korupsi yang memengaruhi kepemimpinan absolut partai atas militer dan membahayakan pondasi kekuasaan partai," demikian editorial corong PLA tersebut.

Sementara itu, James Char, seorang asisten profesor di Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam Singapura yang telah melacak pembersihan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) oleh Xi selama satu dekade, sangsi bahwa pencopotan Zhang terkait dengan upaya kudeta.

"Saya sangat ragu bahwa Zhang Youxia atau siapa pun di rezim tersebut punya keberanian untuk terlibat dalam konfrontasi terbuka melawan Xi Jinping," katanya.

Meski begitu, ia meyakini jatuhnya Zhang mungkin saja terkait dengan politik faksional dan "mountaintop-ism", yaitu kebiasaan para pemimpin regional untuk membangun basis kekuasaan mereka sendiri, hal yang telah lama menghantui Partai Komunis sejak masa-masa gerilya.

(blq/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK