Ini Daftar Negara yang Paling Menderita Setelah AS Hengkang dari WHO
Setelah Amerika Serikat menyatakan keluar dari organisasi kesehatan dunia di bawah Perserkatan Bangsa-Bangsa (WHO), sejumlah pendanaan terhadap organisasi ini pun diputus.
Padahal, WHO menyalurkan bantuan ke sejumlah negara yang terserang pandemi parah. Sepanjang tahun 2025, sejumlah pakar kesehatan global sudah memperingatkan bahwa penarikan diri AS dari WHO dapat melemahkan kemampuan Amerika dan WHO dalam menangani wabah penyakit dan ancaman kesehatan global.
Selama ini, lembaga kesehatan khusus PBB tersebut memiliki mandat untuk mengoordinasikan kesiapsiagaan menghadapi wabah penyakit, seperti mpox, Ebola, dan polio. Ini adalah wabah yang menyerang sejumlah negara terutama Afrika dan Asia dengan pendanaan yang besar.
Selain itu, WHO juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara berpenghasilan rendah, membantu distribusi vaksin yang jumlahnya terbatas, serta menetapkan pedoman penanganan ratusan kondisi kesehatan, termasuk kesehatan mental dan kanker.
"Saya berharap Amerika Serikat akan mempertimbangkan kembali keputusannya dan bergabung lagi dengan WHO," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers awal bulan ini.
"Penarikan diri dari WHO merupakan kerugian bagi Amerika Serikat dan juga kerugian bagi seluruh dunia," ia menambahkan.
Berikut sejumlah negara yang paling menderita setelah AS resmi hengkang dari WHO:
Kongo
Kongo jadi negara yang paling menderita ketika anggaran untuk penyakit cacar monyet (mpox) ini terhenti atau berkurang drastis.
Dalam enam minggu terakhir dan hingga 7 Desember 2025 lalu, menurut WHO, kasus terbanyak dilaporkan oleh Kongo dan Kenya (masing-masing 366 dan 140 kasus). Wabah ini juga menyerang sejumlah negara Afrika lain seperti Uganda, Burundi, Zambia, Sudan Selatan, dan Tanzania.
Berdasarkan data 2024-2025, dana untuk penanganan mpox secara global utamanya berasal dari Pandemic Fund (Dana Pandemi) hingga US$500 juta (sekitar Rp7,7 triliun) untuk membantu negara-negara terdampak Mpox, termasuk dalam peningkatan kesiapsiagaan.
Sementara WHO mengeluarkan dana kontingensi darurat (awal US$1,45 juta) dan meluncurkan rencana strategis global senilai US$135 juta (sekitar Rp2,1 triliun) untuk merespons wabah dari September 2024 hingga Februari 2025.
Republik Demokratik Kongo, Guinea, Liberia, dan Sierra Leone
Negara-negara tersebut memiliki jumlah wabah Ebola terbanyak sejak virus ini ditemukan pada tahun 1976. Wabah Ebola terbesar dalam sejarah terjadi antara 2013-2016, yang mengakibatkan lebih dari 28.000 kasus dan 11.000 kematian, dengan Liberia mencatat kasus tertinggi.
Kongo konsisten mencatat wabah terbanyak karena faktor geografis (hutan lebat) dan kehadiran kelelawar buah yang terinfeksi.
Berdasarkan data awal tahun 2025, pendanaan untuk menanggulangi wabah Ebola berasal dari kombinasi lembaga internasional, pemerintah negara maju, dan organisasi kesehatan dunia.
WHO menyediakan tambahan dana darurat, seperti 2 juta dolar AS untuk Uganda pada Februari 2025, dan memimpin penggalangan dana (appeals) untuk merespons wabah.
Afghanistan dan Pakistan
Afghanistan dan Pakistan merupakan negara dengan jumlah kasus poliovirus liar (WPV) terbanyak, menjadikannya negara endemik tersisa di dunia hingga akhir 2023.
Berdasarkan informasi terbaru per akhir tahun 2025, WHO bersama mitra Global Polio Eradication Initiative (GPEI) menghadapi tantangan pendanaan. Komitmen Dana Baru Desember 2025, para pemimpin global, yayasan, dan mitra kesehatan mengumumkan komitmen kolektif sebesar US$ 1,9 miliar (sekitar Rp30 triliun) di Abu Dhabi untuk memajukan pemberantasan polio.
(imf/bac)