Hide Ads

Ini Dampak Regional Bila AS & Israel Serang Iran

CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 06:35 WIB
Amerika Serikat dan Israel diklaim sepakat melakukan serangan yang cepat dan tegas terhadap Iran.
Kapal induk USS Abraham Lincoln masuk Timur Tengah. (AFP/HO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat dan Israel diklaim sepakat melakukan serangan yang cepat dan tegas terhadap Iran.

Klaim tersebut disampaikan oleh Channel 14 Israel, yang menyebut kesepakatan itu muncul dari pembahasan tingkat tinggi antara kedua negara.

Dalam pertemuan itu, pejabat AS menyampaikan kesiapan penuh menghadapi Iran yang memerlukan waktu serta persiapan matang. Namun, mereka menegaskan bahwa AS selalu siap mengambil langkah-langkah konkret.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir situs Middle East Monitor, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, mengadakan pertemuan dengan pejabat militer Israel di Tel Aviv, pada Minggu (25/1). Pertemuan tersebut membahas berbagai isu, salah satunya mengenai perkembangan situasi di Iran.

Sementara Presiden Donald Trump diklaim mendapatkan sejumlah bocoran laporan intelijen AS yang menunjukkan posisi pemerintah Iran melemah. Laporan itu menilai bahwa kekuasaan pemerintah Iran berada pada titik terlemah sejak pemerintahan yang dipimpin shah digulingkan dalam Revolusi Islam 1979.

"Presiden Trump secara rutin menerima briefing mengenai intelijen di seluruh dunia," kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, seperti dikutip New York Times.

"Sebagai panglima tertinggi, akan menjadi kelalaian jika ia tidak rutin menerima informasi ini. Terkait Iran, Presiden Trump terus memantau situasi dengan cermat," tambah dia.

[Gambas:Video CNN]

Apa dampak serangan AS ke Iran?

Sejumlah analis sudah memberikan pandangan bila AS yang didukung Israel benar-benar jadi menyerang Iran. Pandangan itu sudah sering dikemukakan sejak Iran diserang Juni lalu.

Andreas Krieg, profesor madya di King's College London dan direktur MENA Analytica, misalnya, menyebutkan perang terhadap Iran akan menandai titik balik penting-bukan hanya untuk arah konflik, tetapi juga untuk seluruh Timur Tengah dan tatanan internasional," yang secara fundamental dapat membentuk kembali kawasan mayoritas Muslim-Arab tersebut," katanya.

"Hal itu akan memperkuat aktor-aktor garis keras di seluruh kawasan dan mungkin akan merusak upaya perdamaian yang baru mulai terjalin antara negara-negara Teluk dengan Iran," katanya kepada TRT World.

Jika AS melakukan intervensi militer, sekutu regional Iran yang melemah dalam poros perlawanan, seperti koalisi pasukan Syiah dari Hizbullah Lebanon, Houthi Yaman, dan Kata'ib Hizbullah Irak, mungkin akan diaktifkan kembali.

Sementara itu, meskipun rakyat Iran saat ini berada di titik rendah akibat demonstrasi atau tekanan ekonomi, sebagian warganya justeru siap perang.

"Sebagian penduduk Iran memiliki pandangan radikal dan siap berperang," kata Sergei Markov, seorang analis politik terkemuka Rusia dan mantan penasihat Presiden Vladimir Putin.

Jika AS dan Israel terus menempuh opsi militer, dengan harapan memicu perubahan rezim di Teheran atau memicu pemberontakan rakyat, mereka berisiko memprovokasi hal sebaliknya: perang yang berkepanjangan dan kacau tanpa jaminan transformasi politik.

"Kecuali terjadi revolusi Iran baru, kita akan melihat ketegangan yang sangat besar setelah kemungkinan serangan AS-Israel tersebut," kata Matthew Bryza, mantan diplomat AS dan pejabat senior di pemerintahan Presiden George W Bush selama Perang Irak.

"Jika rezim ulama saat ini tetap berkuasa di Teheran," mereka dapat mengambil tindakan seperti memblokir Selat Hormuz yang strategis dan melakukan serangan hibrida terhadap target AS dan Israel di Timur Tengah.

(imf/bac)