Trump Ancam Kirim Jet 'Invasi' Kanada Jika Ottawa Batal Beli F-35 AS

CNN Indonesia
Selasa, 27 Jan 2026 19:00 WIB
Amerika Serikat mengancam akan mengirim jet tempur ke wilayah udara Kanada jika Ottawa mundur dari rencana pembelian 88 jet tempur F-35 buatan Lockheed Martin. (Foto: REUTERS/Alexander Drago)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat mengancam akan mengirim jet tempur ke wilayah udara Kanada jika Ottawa mundur dari rencana pembelian 88 jet tempur F-35 buatan Lockheed Martin.

Pembatalan pembelian jet tempur ini turut membuat AS berpotensi "melanggar" perjanjian Komando Pertahanan Udara Amerika Utara (NORAD) dengan Kanada yang telah berlaku selama puluhan tahun. Peringatan itu disampaikan Duta Besar AS untuk Kanada, Pete Hoekstra.

Dalam adu pernyataan terbaru antara AS dan Kanada terkait kesepakatan tersebut, Hoekstra memperingatkan jika Kanada membeli jumlah jet tempur yang lebih sedikit dari perjanjian, Amerika terpaksa "menutup kekosongan" dalam aspek keamanan.

Langkah itu bisa berarti AS harus membeli lebih banyak jet tempur F-35 untuk kepentingannya sendiri dan menggunakannya untuk melakukan intervensi di wilayah udara Kanada dengan frekuensi yang lebih tinggi.

Berdasarkan ketentuan NORAD saat ini, AS dan Kanada diperbolehkan beroperasi di wilayah udara masing-masing untuk melacak atau mencegat ancaman.

Namun, Hoekstra mengindikasikan bahwa intervensi AS dapat melampaui ketentuan NORAD tersebut apabila kesepakatan pembelian jet tempur diubah karena memerlukan penyesuaian baru terhadap perjanjian era Perang Dingin itu.

"NORAD harus diubah," kata Hoekstra kepada CBC News seperti dikutip The Independent.

Pernyataan Hoekstra muncul beberapa bulan setelah pemerintah Kanada menyatakan tengah "meninjau ulang" ketentuan kesepakatan pembelian jet tempur tersebut. Peninjauan ulang ini terjadi lantaran Ottawa mendapati rencana pembelian itu jauh lebih mahal dari perkiraan awal.

[Gambas:Video CNN]

Pada 2022, Kanada menyepakati pembelian 88 jet tempur canggih F-35A dari Lockheed Martin, dengan komitmen pendanaan awal untuk 16 unit yang siap dikirim.

Namun, program itu dengan cepat menghadapi berbagai kendala. Selain proses produksi yang memakan waktu lebih lama dari perkiraan, audit awal pada 2025 menemukan total biaya program melonjak menjadi US$27,7 miliar, naik dari estimasi awal sebesar US$19 miliar.

Di tengah meningkatnya ketegangan AS-Kanada akibat ancaman tarif dari Presiden Donald Trump, Perdana Menteri Kanada Mark Carney pun menyerukan peninjauan ulang kesepakatan tersebut.

Kini, para pejabat Kanada dilaporkan mulai melirik negara lain sebagai pemasok jet tempur, termasuk Saab, perusahaan dirgantara dan pertahanan asal Swedia yang memproduksi jet tempur JAS 39 Gripen E.

Saab menawarkan untuk memproduksi pesawat tersebut di Kanada, dengan klaim dapat turut menciptakan sekitar 12.600 lapangan kerja.

"Pemerintah tertarik pada berbagai proyek besar yang tidak hanya mampu melindungi keamanan dan kedaulatan Kanada, tetapi juga menciptakan lapangan kerja di seluruh negeri," kata Menteri Industri Mélanie Joly kepada CBC News.

"Kami tentu tidak bisa mengendalikan Presiden Trump, tetapi kami bisa mengendalikan investasi pertahanan kami, kepada siapa kontrak diberikan, dan bagaimana pada akhirnya kami menciptakan lapangan kerja di Kanada. Itu yang akan menjadi fokus kami."

Namun, Hoekstra memperingatkan bahwa jika Kanada memilih membeli jet Gripen E buatan Saab, AS tetap harus meninjau ulang cara kerja sama keamanannya dengan negara tetangga di utara tersebut.

"Jika mereka memutuskan menggunakan produk yang lebih inferior dan tidak seinteroperabel serta sekompatibel F-35, itu akan mengubah kemampuan pertahanan kami," ujar Hoekstra.

"Oleh karena itu, kami harus memikirkan bagaimana cara menutup kekurangan tersebut," tambahnya.

Peringatan Hoekstra menjadi upaya terbaru pejabat AS untuk menekan negara lain agar mengikuti keinginan pemerintahannya, khususnya terkait isu keamanan nasional.

(rds/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK