Hide Ads

Militer Iran Siaga Tinggi, Ancam AS dan Israel Jika Menyerang

CNN Indonesia
Sabtu, 31 Jan 2026 19:50 WIB
Militer Iran saat ini dalam status penuh dan defensif di tengah ancaman serangan AS dan Israel.
Militer Iran saat ini dalam status penuh dan defensif di tengah ancaman serangan AS dan Israel. (AFP/-)
Jakarta, CNN Indonesia --

Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (31/1) tidak melakukan serangan. Dia mengatakan pasukan negaranya dalam keadaan siaga tinggi menyusul pengerahan militer besar-besaran AS di teluk.

Ia menegaskan keahlian nuklir negaranya tidak dapat dihilangkan. Ini merupakan respons bagi Presiden AS Donald Trump yang mengatakan dia berharap Teheran mencari kesepakatan guna menghindari serangan AS.

"Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa ragu itu akan membahayakan keamanannya sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim Zionis," kata Hatami, diberitakan AFP yang mengutip kantor berita IRNA.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hatami menyatakan angkatan bersenjata Iran "dalam kesiapan defensif dan militer penuh".

AS telah mengirim kelompok serang angkatan laut ke Timur Tengah yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln. Trump mengancam akan melakukan intervensi militer setelah sikap brutal otoritas Iran terhadap protes antipemerintah selama dua minggu.

Pengerahan militer tersebut telah menimbulkan kekhawatiran atas kemungkinan konfrontasi langsung AS dengan Iran. Iran sudah mengancam akan membalas dengan serangan rudal terhadap pangkalan, kapal dan sekutu AS, terutama Israel, jika terjadi serangan.

Trump pada Jumat mengatakan ia memperkirakan Iran akan berupaya menegosiasikan kesepakatan mengenai program nuklir dan rudalnya alih-alih menghadapi aksi militer Amerika.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan bahwa Teheran siap untuk pembicaraan nuklir, tetapi rudal dan pertahanannya "tidak akan pernah dinegosiasikan".

Serangan AS

AS sudah melakukan serangan terhadap situs-situs nuklir utama Iran pada Juni lalu ketika bergabung dengan perang 12 hari Israel melawan musuh regionalnya itu.

Serangan Israel juga menghantam situs-situs militer di seluruh negeri serta menewaskan perwira senior dan ilmuwan nuklir terkemuka.

Namun Hatami pada Sabtu menegaskan bahwa teknologi nuklir Iran "tidak dapat dihilangkan, bahkan jika para ilmuwan dan putra-putra bangsa ini menjadi martir".

Pada Jumat, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) akan melakukan "latihan angkatan laut tembak langsung selama dua hari" di Selat Hormuz, pusat transit utama untuk pasokan energi global.

Dalam sebuah pernyataan, CENTCOM memperingatkan IRGC terhadap "perilaku yang tidak aman dan tidak profesional di dekat pasukan AS".

AS menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris pada 2019, sebuah langkah yang diikuti Uni Eropa pada Kamis.

Keputusan Uni Eropa tersebut menuai reaksi marah dari Teheran, yang bersumpah akan membalasnya.

Ribuan tewas

Protes di dalam negeri terhadap kenaikan biaya hidup meletus di Iran pada 28 Desember, sebelum berubah menjadi gerakan antipemerintah yang lebih luas. Gerakan ini mencapai puncaknya pada 8 dan 9 Januari.

Pihak berwenang Iran mengatakan protes dimulai secara damai sebelum berubah menjadi "kerusuhan" yang melibatkan pembunuhan dan vandalisme. Iran menyalahkan AS dan Israel karena memicu kerusuhan dalam "operasi teroris".

Jumlah korban tewas resmi dari pihak berwenang adalah 3.117.

Namun, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS mengatakan telah mengkonfirmasi 6.563 kematian, termasuk 6.170 demonstran dan 124 anak-anak.

Protes mereda

Pada Sabtu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mendesak pemerintahnya memperhatikan keluhan publik setelah demonstrasi.

"Kita harus bekerja dengan rakyat dan untuk rakyat serta melayani rakyat semaksimal mungkin," kata Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah.

"Jika kita bertindak adil, rakyat akan melihatnya dan menerimanya, dan dalam kondisi seperti itu, tidak ada kekuatan yang dapat melumpuhkan pemerintah, masyarakat, atau bangsa yang bertindak adil, jujur, dan berdasarkan hak."

Pada Sabtu, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengunjungi makam Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam, di selatan Teheran.

Dalam sebuah video yang ditayangkan di situs web resminya, Khamenei melakukan salat di makam tersebut dalam rangka perayaan 10 hari peringatan ke-47 Revolusi Islam tahun 1979.

(fea)


[Gambas:Video CNN]