Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ingin mencaplok Greenland, salah satunya karena tak ingin bertetangga langsung dengan Rusia dan China.
"Kita harus membela Greenland, karena kalau tidak, Rusia dan China melakukannya," katanya di Gedung Putih Januari lalu.
Dengan menguasai Greenland, kata Trump, negaranya tidak akan bertetangga langsung dengan kedua negara besar itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak akan memiliki China atau Rusia sebagai tetangga," ujarnya yakin. Memang Rusia dan China, dalam banyak hal merupakan seteru Amerika Serikat yang paling kuat.
Namun soal tidak ingin bertentangga langsung, fakta justru membuktikan sebaliknya: Rusia dan AS sudah bertetangga melalui Pulau Diomede Besar dan Diomede Kecil, yang dipisahkan jarak hanya empat kilometer saja.
Dua pulau tetangga
Pulau Diomede Besar dan Diomede Kecil terletak di Selat Bering, selat pemisah antara Benua Asia dan Amerika.
Pada bagian Benua Asia terdapat semenanjung Chuchi yang berada di Rusia bagian Barat dan Alaska bagian Timur AS.
Selat ini berjarak sekitar 83-85 kilometer saja. Nah, di selat inilah Pulau Diomede Besar (milik Rusia) dan Diomede Kecil (milik AS) bertetangga, sebab hanya terpisah empat kilometer saja.
Meski terpisah jarak yang pendek namun memiliki zona waktu yang berbeda yang cukup jauh. Kedua pulau memiliki beda waktu hingga 21 jam atau nyaris sehari. Selat Bering merupakan lokasi garis khayal "Batas Penanggalan Internasional" berada
[Gambas:Video CNN]
Garis ini yang menentukan zona waktu tiap-tiap wilayah di seluruh dunia.
Jika seseorang pergi ke arah barat dan melewati Batas Penanggalan Internasional, maka waktunya maju 24 jam. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang pergi ke timur dan melewati garis Batas Penanggalan Internasional, maka waktunya mundur 24 jam.
Jadi, Pulau Diomedes Besar yang berada di wilayah Rusia, dijuluki Pulau Besok (Tomorrow Island). Sementara pulau yang kecil dijuluki Pulau Kemarin (Yesterday Island) karena berada di wilayah Amerika Serikat.
Meski di kedua pulau ini tidak memiliki populasi permanen, tapi keberadaannya sangat penting. Pulau Diomede Besar misalnya, menjadi situs stasiun observasi cuaca Rusia dan pos militer yang penting di negara itu, demikian dikutip dari Britannica.
Sementara Pulau Diomede Kecil, berdasarkan sensus pada tahun 2021-2023 hanya diisi oleh sekitar 82 orang saja, yang mayoritas diisi oleh Suku Inuit atau Eskimo.Suhu yang sangat dingin menyebabkan pulau ini jarang didatangi penduduk. Warga setempat pun hanya berburu (paus dan anjing laut) atau pasokan yang didatangkan melalui helikopter.
Orang Eskimo yang terkenal dengan rumah esnya (igloo) memiliki bentuk tubuh pendek, bermuka bulat, yang menjadi kelebihan dalam bertahan di suhu sangat dingin.
Dikutip dari laman survei geologi AS disebutkan, dalam kondisi musim dingin yang tepat, jembatan es terbentuk antara Kepulauan Diomede di Selat Bering. Secara teori, ini adalah satu-satunya tempat di mana Anda dapat berjalan kaki dari Rusia ke Amerika Serikat (dan sebaliknya), namun perjalanan antara satu Kepulauan Diomede dengan yang lain dilarang keras.
Sementara laman Russia Beyond menuliskan kedua pulau itu, sebagai "Kepulauan Diomede, yang dinamai menurut Santo Diomedes oleh Vitus Bering. Pulau Diomede Besar, dengan luas sekitar 10 km persegi, dimiliki oleh Rusia dan dikenal pula sebagai Pulau Ratmanov.
Sementara Pulau Diomede Kecil, bagian dari Alaska (juga dikenal sebagai Pulau Kruzenshtern), berukuran sekitar 5 km persegi. Jarak antara kedua pulau itu hanya 4.160 m. Jadi, Anda bisa melihat Rusia dengan menapakkan kaki di atas tanah Paman Sam (yang dahulu merupakan wilayah Rusia)."
Namun, seperti yang ditulis Peter Iseman di The New York Times pada 1988, penduduk setempat masa bodoh terhadap perbatasan orang kulit putih dan garis waktunya yang sama-sama fiktif. "Kami pergi berburu hari ini," kata penduduk Diomede Kecil. "Kami membunuhnya besok, dan kami mencincang dan memakannya kemarin," katanya memberi gambaran perbedaan waktu yang mencolok namun tidak punya arti apa-apa.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Perbatasan kedua negara adidaya ini, dimulai pada 1867, ketika Rusia menjual Alaska ke Amerika Serikat. Sejak itu, kedua negara praktis berbagi perbatasan perairan di antara dua Pulau Diomede. Yang menarik, penduduk pulau-pulau itu, orang-orang Chukchi dan Eskimo, bebas bepergian antarpulau tanpa visa sejak 1989. Namun, sebagian besar penduduk Pulau Ratmanov alias Diomede Besar telah pindah ke Rusia daratan. Kini, yang tersisa di pulau itu hanya pos perbatasan Rusia.
Di sisi lain, populasi Eskimo di Pulau Kruzenshtern (Diomede Kecil) juga tak pernah bertambah.
Laman sejarah Amerika Serikat (history.state.gov) menuliskan pembelian Alaska oleh AS dengan citra penuh kemenangan, "Pembelian Alaska pada tahun 1867 menandai berakhirnya upaya Rusia untuk memperluas perdagangan dan pemukiman ke pantai Pasifik Amerika Utara, dan menjadi langkah penting dalam kebangkitan Amerika Serikat sebagai kekuatan besar di kawasan Asia-Pasifik."
Perjalan ini dimulai pada tahun 1725, ketika Tsar Rusia Peter Agung mengirim pelaut Vitus Bering untuk menjelajahi pantai Alaska, Rusia memiliki minat yang besar pada wilayah ini, yang kaya akan sumber daya alam dan berpenduduk sedikit.
Ketika Amerika Serikat melakukan ekspansi ke barat pada awal tahun 1800-an, orang Amerika segera mendapati diri mereka bersaing dengan penjelajah dan pedagang Rusia.
Namun, St Petersburg kekurangan sumber daya keuangan untuk mendukung pemukiman besar atau kehadiran militer di sepanjang pantai Pasifik Amerika Utara dan jumlah pemukim Rusia tetap di Alaska tidak pernah lebih dari empat ratus orang. Kekalahan dalam Perang Krimea semakin mengurangi minat Rusia di wilayah ini.
Pembelian Alaska pada tahun 1867 menandai berakhirnya upaya Rusia untuk memperluas perdagangan dan pemukiman ke pantai Pasifik Amerika Utara, dan menjadi langkah penting dalam kebangkitan Amerika Serikat sebagai kekuatan besar di kawasan Asia-Pasifik. Dimulai pada tahun 1725, ketika Tsar Rusia Peter Agung mengirim Vitus Bering untuk menjelajahi pantai Alaska, Rusia memiliki minat yang besar pada wilayah ini, yang kaya akan sumber daya alam dan berpenduduk sedikit.
Ketika Amerika Serikat melakukan ekspansi ke barat pada awal tahun 1800-an, orang Amerika segera mendapati diri mereka bersaing dengan penjelajah dan pedagang Rusia. Namun, St. Petersburg kekurangan sumber daya keuangan untuk mendukung pemukiman besar atau kehadiran militer di sepanjang pantai Pasifik Amerika Utara dan jumlah pemukim Rusia tetap di Alaska tidak pernah lebih dari empat ratus orang. Kekalahan dalam Perang Krimea semakin mengurangi minat Rusia di wilayah ini.
Rusia menawarkan untuk menjual Alaska kepada Amerika Serikat pada tahun 1859, dengan keyakinan bahwa Amerika Serikat akan mengimbangi rencana saingan terbesar Rusia di Pasifik, yaitu Inggris Raya.
Perang Saudara AS yang akan segera terjadi menunda penjualan tersebut, tetapi setelah perang, Menteri Luar Negeri William Seward dengan cepat menerima tawaran baru dari Rusia dan pada tanggal 30 Maret 1867, menyetujui proposal dari Menteri Rusia di Washington, Edouard de Stoeckl, untuk membeli Alaska seharga $7,2 juta.
Senat menyetujui perjanjian pembelian pada tanggal 9 April; Presiden Andrew Johnson menandatangani perjanjian tersebut pada tanggal 28 Mei, dan Alaska secara resmi dialihkan ke Amerika Serikat pada tanggal 18 Oktober 1867. Pembelian ini mengakhiri kehadiran Rusia di Amerika Utara dan memastikan akses AS ke wilayah utara Pasifik.
Sementara dari pihak Rusia, ide penjualan itu punya dasar berbeda, yakni Rusia yang merasa dikepung oleh koalisi Inggris, Prancis dan Turki dalam Perang Krimea. "Jelas Rusia tidak bisa lagi melindungi atau pun menyokong Alaska, jalur laut pun sudah dikuasai oleh sekutu. Potensi tambang emas menjadi tidak jelas. Ketakutan muncul kalau Inggris dapat memblokir Alaska, sehingga Rusia tidak akan mendapatkan apa-apa," demikia dikitup dari laman Russia Beyond.
Ketegangan antara Moskow dan London terus meningkat, sedangkan hubungan dengan pemerintah Amerika Serikat menjadi paling kelam dari yang pernah ada. Ide penjualan Alaska muncul praktis secara bersamaan di benak Rusia dan Amerika Serikat. Baron Edward de Stoeckl, utusan Rusia di Washington, atas titah Kaisar melakukan negosiasi dengan Sekretaris Negara Amerika Serikat, William H Seward.
Waktu para pejabat menyepakati penjualan Alaska, opini masyarakat dari kedua negara malah menentang hal tersebut. "Bagaimana kami menyerahkan tanah yang dikembangkan dengan penuh pengorbanan tenaga dan waktu, tanah yang dilewati oleh telegram dan banyak ditemukan tambang emas?" tulis koran-koran Rusia. "Untuk apa 'peti es' dan 50 ribu orang Eskimo liar yang minum lemak ikan sebagai sarapan itu bagi Amerika?", keluh pers Amerika. Tidak hanya mereka, Senat dan Kongres pun menentang keputusan tersebut.
Pada 30 Maret 1867, perjanjian jual beli 1,5 juta hektar tanah milik Rusia di Amerika Serikat seharga 7,2 juta dolar AS telah ditandatangani di Washington. Jumlah tersebut murni hanya sebagai simbol saja. "Bahkan tanah terbuang di Siberia pun tidak dijual semurah itu. Tetapi situasi saat itu sangat kritis, bahkan bisa saja Rusia tidak mendapatkan apa-apa." Begitu pembelaan Rusia.
Terowongan Selat Bering
Dari peristiwa itu, Rusia seperti paham bahwa kedua negara sebenarnya tidaklah begitu berjauhan. Tidak heran, Pemerintah Presiden Vladimir Putin mengusulkan pembangunan terowongan bawah laut yang menghubungkan Amerika Serikat dan Rusia sepanjang 112 kilometer melewati Selat Bering. Utusan investasi Rusia, Kirill Dmitriev, mengatakan bahwa pembangunan terowongan jalur kereta api dan kargo sepanjang 112 kilometer antara Siberia dan Alaska itu akan membuka "peluang eksplorasi sumber daya bersama" antara kedua negara.
"Mari kita bangun masa depan bersama. Bayangkan menghubungkan AS dan Rusia, Amerika dan Afro-Eurasia dengan Terowongan Putin-Trump," tulis Dmitriev di X.
Unggahan Dmitriev yang mempromosikan "Terowongan Putin-Trump" itu muncul saat Trump dan Putin melakukan percakapan telepon selama dua jam Oktober tahun lalu, jelang rencana pertemuan mereka di Budapest.
Menurut Dmitriev, teknologi modern yang dikembangkan oleh Boring Company milik Elon Musk memungkinkan proyek ini dapat dilaksanakan dengan biaya kurang dari 8 miliar dolar AS - sepertiga dari biaya jembatan Selat Kerch ke Krimea. Ia menulis bahwa dengan rekayasa mutakhir, pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari delapan tahun.
Terowongan di bawah Selat Bering dapat "membuka prospek baru untuk perdagangan internasional dan memperkuat hubungan ekonomi antara Rusia dan Amerika Utara," kata Dmitriev.
Seperti yang dikatakan Channel One Rusia, "Ini sungguh menakjubkan," dikutip dari The Moscow Times.