Mengenal New START, Perjanjian Nuklir AS-Rusia yang 'Kedaluwarsa'

CNN Indonesia
Senin, 09 Feb 2026 15:00 WIB
Perjanjian senjata nuklir AS dan Rusia New START terancam kedaluwarsa usai ogah diperpanjang Trump.
Mengenal perjanjian pembatasan senjata antara AS dan Rusia, New START. Foto: REUTERS/Kevin Lamarque
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Masa berlaku perjanjian pengendalian perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, New START (Strategic Arms Reduction Treaty), berakhir pada 5 Februari lalu.

Perjanjian itu membatasi jumlah hulu ledak nuklir dan rudal yang bisa dikerahkan masing-masing pihak hingga 1.550 unit, dan hanya mengizinkan maksimal 700 rudal darat atau laut yang mampu membawa senjata tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

New START ditandatangani Presiden AS saat itu Barack Obama dan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev pada 2010.

Namun, hingga saat ini, Presiden AS Donald Trump tampak tidak berniat memperpanjang perjanjian yang dapat menghindari perlombaan senjata nuklir AS-Rusia itu. Ia bahkan sempat mengatakan akan membiarkan tenggat waktu perjanjian tersebut berlalu.

"Jika berakhir, ya berakhir saja," kata dia pada Januari, dikutip ABC News.

Lantas, apa itu perjanjian New START antara AS dan Rusia?

Melansir situs resmi Pemerintah AS, New START merupakan perjanjian antara AS dan Federal Rusia mengenai sejumlah langkah pengurangan lebih lanjut terhadap senjata serangan strategis.

Perjanjian ini berkontribusi pada peningkatan keamanan nasional AS melalui penetapan batasan yang dapat diverifikasi, terhadap seluruh nuklir jarak jauh antarbenua yang dikerahkan oleh Rusia.

New START resmi mulai diberlakukan pada 5 Februari 2011. Berdasarkan perjanjian itu, AS dan Federal Rusia diberikan jangka waktu tujuh tahun untuk memenuhi batasan utama terkait senjata ofensif strategis yang berakhir pada 5 Februari 2018.

Setelah itu, kedua negara berkewajiban untuk mempertahankan batasan itu selama perjanjian masih berlaku.

Batas-batas Agregat New START

AS dan Federal Rusia telah memenuhi batasan utama yang ditetapkan dalam perjanjian New START sejak 5 Februari 2018, dan hingga kini tetap berada pada atau di bawah ambang batas itu.

"Kedua negara dibatasi untuk mengerahkan maksimal 700 rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM), serta pesawat pembom berat yang dilengkapi persenjataan nuklir," demikian penjelasan dalam dokumen pemerintah AS.

"Jumlah hulu ledak nuklir yang boleh dikerahkan dibatasi hingga 1.550 unit, yang mencakup hulu ledak pada ICBM, SLBM, serta pesawat pembom berat," lanjut penjelasan itu.

Dalam perhitungan ini, setiap pesawat pembom berat dihitung sebagai satu hulu ledak.

Perjanjian New START juga menetapkan batas maksimal 800 unit untuk peluncur ICBM yang dikerahkan maupun tidak dikerahkan, peluncur SLBM, serta pesawat pembom berat yang dilengkapi senjata nuklir.

Fleksibilitas kekuatan nuklir dan mekanisme pengawasan

Perjanjian New START memberikan fleksibilitas kepada masing-masing pihak untuk menentukan struktur kekuatan nuklir strategisnya. Fleksibilitas ini tetap harus berada dalam batasan utama yang telah disepakati bersama.

Bagi AS, perjanjian itu memungkinkan pengerahan dan pemeliharaan kekuatan nuklir strategis dengan cara yang dinilai paling sesuai dengan kepentingan keamanan nasional.

"New START memberi ruang bagi Amerika Serikat untuk mengatur kekuatan nuklir strategisnya secara fleksibel, selama tetap mematuhi batas perjanjian," demikian penjelasan tersebut.

Selain mengatur struktur kekuatan, New START juga menetapkan mekanisme pengawasan yang ketat. Mekanisme ini bertujuan memastikan kedua pihak mematuhi seluruh ketentuan perjanjian. Prosedur pengawasan mencakup konversi dan penghapusan senjata ofensif strategis.

"Perjanjian ini juga mengatur pembentukan dan pengoperasian basis data informasi bersama, serta pertukaran data telemetri."

Selain itu, kedua negara berkomitmen untuk tidak mengganggu sarana teknis verifikasi nasional.

New START juga memungkinkan dilakukannya inspeksi di lokasi. Seluruh proses pengawasan tersebut dibahas melalui Komisi Konsultatif Bilateral (BCC).

Pertukaran data dan sistem pemberitahuan

Melalui Perjanjian New START, kedua pihak secara rutin saling bertukar data mengenai jumlah, lokasi, serta karakteristik teknis sistem persenjataan dan fasilitas yang tercakup dalam perjanjian.

Selain pertukaran data, AS dan Federasi Rusia juga diwajibkan untuk menyampaikan pemberitahuan secara berkala terkait perubahan pada kekuatan nuklir strategis masing-masing.

"Mekanisme ini memberikan AS akses terhadap informasi penting dan mendalam mengenai kekuatan nuklir Federasi Rusia, yang tidak akan tersedia tanpa adanya perjanjian itu."

Tanpa New START, kesadaran dan keandalan informasi AS mengenai rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM), serta pesawat pembom berat milik Rusia akan jauh berkurang.

(rnp/dna/bac)