File Epstein: Jeffrey Bayar Tes Genetik demi Perpanjang Umur
Jeffrey Epstein, terpidana kasus kejahatan seksual, ternyata pernah membayar tes genetik sebagai upaya untuk memanfaatkan materi genetiknya sendiri bagi pengobatan regeneratif.
Menurut dokumen terbaru yang dirilis, seperti diberitakan CNN pada Sabtu (7/2), teknologi itu bertujuan memperbaiki tubuh dengan cara menumbuhkan jaringan dan organ baru untuk menggantikan yang sudah rusak.
Beberapa tahun setelah divonis atas kasus prostitusi anak pada 2008, Epstein membayar tes khusus kepada seorang dokter di salah satu rumah sakit ternama di Amerika. Ia mengeksplorasi pembuatan sel punca (stem cell) yang berperan penting dalam sistem imun dan penyembuhan.
Peneliti tersebut adalah Joseph Thakuria, yang saat itu menjabat sebagai dokter senior di Massachusetts General Hospital (MGH) Boston dan berafiliasi dengan proyek studi genom di Harvard Medical School.
Dalam pernyataannya kepada CNN, Thakuria mengatakan Epstein terdaftar dalam Harvard Personal Genome Project, basis data publik global berisi informasi genetik sukarelawan agar para ilmuwan bisa mempelajari lebih dalam tentang sifat dan gen manusia.
Nama Thakuria sebelumnya tidak pernah dikaitkan dengan Epstein, dan ia tidak dituduh melakukan kesalahan apa pun.
Perwakilan Harvard dan MGH menyatakan bahwa pihak rumah sakit tidak memiliki catatan resmi yang menyetujui studi yang dijelaskan dalam email-email Epstein tersebut. Thakuria juga sudah meninggalkan rumah sakit pada 2022.
Dalam dokumen yang dirilis Departemen Kehakiman AS, terdapat proposal yang dikirim Thakuria kepada Epstein pada Februari 2014.
Ia meminta Epstein mendanai proyek pribadi untuk memetakan gen pasien guna mencari pemicu penyakit mereka. Dalam proposal itu, ia juga menawarkan opsi penelitian genetik khusus untuk Epstein.
Beberapa bulan kemudian, Thakuria mengirimkan tagihan besar untuk berbagai proyek, termasuk investasi awal senilai US$2.000 (sekitar Rp33 juta dengan kurs US$1=Rp16.855,50) untuk memetakan sebagian gen Epstein melalui sampel air liur.
Tagihan tersebut mencakup perkiraan biaya "studi umur panjang pribadi" yang mengusulkan penggunaan penyuntingan gen.
Investasi awal itu digunakan untuk memetakan exome (bagian dari gen) dan fibroblast, yaitu sel pada jaringan ikat seperti kulit dan otot yang digunakan dalam riset terbaru untuk membalikkan proses penuaan. Staf Epstein mengirimkan cek pembayaran di hari yang sama.
"Tuan Epstein terdaftar dalam Personal Genome Project untuk mempelajari kecenderungan genetiknya terhadap berbagai kondisi kesehatan," kata Thakuria.
"Ia memberikan cek US$2.000 untuk menutupi biaya pemetaan DNA," ungkapnya dengan menegaskan bahwa hubungan mereka murni sebagai dokter-peneliti dan subjek penelitian.
"Saya merasa sangat sedih atas apa yang dialami para korbannya, dan saya menyesal saat itu tidak mengetahui lebih banyak tentang latar belakang dan tingkat kejahatannya," tambah Thakuria.
Bagian dari proposal tersebut melibatkan penyuntingan stem cell Epstein menggunakan teknologi CRISPR yang saat itu masih baru, untuk "memasukkan mutasi yang diyakini dapat meningkatkan umur panjang," tulis Thakuria.
Ia bahkan menyebut hanya menawarkan layanan ini secara eksklusif kepada Epstein karena keterbatasan tenaga kerja.
Tagihan tersebut juga menawarkan opsi riset masa depan, seperti pembuatan stem cell baru mulai dari US$10.000, hingga pemetaan gen lengkap milik Epstein dan kedua orang tuanya yang bisa memakan biaya puluhan ribu dolar.
Jika seluruh proyek yang diusulkan dijalankan, total biayanya mencapai US$193.400 (sekitar Rp3,2 miliar mengikuti inflasi).
Meski CNN tidak menemukan bukti pembayaran untuk layanan mahal tersebut, komunikasi email antara Thakuria, Epstein, dan asistennya terus berlanjut setidaknya hingga 2015.
Dalam email-email itu, asisten Epstein terus menanyakan perkembangan pekerjaan awal Thakuria. Bahkan, Epstein sempat merasa kesal karena penundaan dan mengancam akan melaporkan Thakuria kepada atasannya jika hasil tes tidak segera diberikan.
Jeffrey Epstein kini sudah meninggal dunia. Ia dilaporkan ditemukan tewas di dalam sel penjara Metropolitan Correctional Center, New York, pada 10 Agustus 2019, saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur.
Hasil autopsi resmi menyatakan bahwa penjahat seks tersebut meninggal karena bunuh diri dengan cara gantung diri.
Namun, kematiannya memicu berbagai teori konspirasi dan spekulasi publik yang luas. Hal ini disebabkan oleh beberapa kejanggalan pada malam kejadian, seperti rusaknya kamera pengawas di depan selnya dan dua petugas penjara yang tertidur serta memalsukan catatan pemantauan.
Hingga kini, dokumen-dokumen terkait aktivitasnya terus dirilis ke publik secara bertahap demi transparansi hukum.
(chri)