Presiden Somalia Kecam Intervensi Israel, Tolak Pangkalan Militer

CNN Indonesia
Minggu, 08 Feb 2026 21:50 WIB
Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud mengecam keras intervensi yang dilakukan oleh Israel terhadap wilayah Somaliland yang ingin memisahkan diri. AFP/LUIS TATO
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud mengecam keras intervensi yang dilakukan oleh Israel terhadap wilayah Somaliland yang ingin memisahkan diri.

Hassan menegaskan menolak tegas dan siap menghadapi kehadiran militer Israel di wilayah Somaliland. Ia menyebut pengakuan Israel terhadap Somaliland juga hanya akab meningkatkan ketidakstabilan dan memperlemah tatanan internasional.

Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Hassan menyebut dirinya tidak akan pernah mengizinkan adanya pembentukan pangkalan Israel di Somaliland dan akan menghadapinya.

Ia juga memperingatkan bahwa usulan pangkalan militer itu justru akan digunakan Israel sebagai batu loncatan untuk menyerang negara-negara tetangga.

Hassan menilai manuver diplomatik yang dilakukan oleh Israel sebagai tindakan yang ceroboh hingga melanggar hukum internasional.

"Kami akan berjuang sesuai kapasitas kami. Tentu saja, kami akan membela diri," katanya.

"Dan itu berarti kami akan menghadapi pasukan Israel mana pun yang datang, karena kami menentang hal itu dan kami tidak akan pernah mengizinkannya," imbuhnya.

Hassan mengatakan langkah Israel itu telah mencampuri kedaulatan dan integritas teritorial Somalia. Serta merusak stabilitas, keamanan dan perdagangan di seluruh Afrika, Laut Merah dan bagian dunia lainnya.

Ia menambahkan penggunaan kekuatan mematikan oleh Israel terhadap warga Palestina di Gaza tidak dapat dipisahkan dari apa yang terjadi di Somaliland.

"Hal utama di antara kekhawatiran global adalah melemahnya tatanan internasional berbasis aturan yang telah mapan. Tatanan itu sudah tidak utuh lagi," jelasnya.

Ia memperingatkan bahwa lembaga-lembaga yang dibentuk setelah Perang Dunia II berada di bawah ancaman serius.

"Karena prinsip sapa yang kuat, dia yang benar semakin menggantikan kepatuhan terhadap hukum internasional," pungkasnya.

(tfq/mik)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK