UEA Mau Bangun Perumahan Sementara buat Warga Gaza di Area Israel

CNN Indonesia
Senin, 09 Feb 2026 16:30 WIB
Uni Emirat Arab (UEA) berencana membangun kompleks perumahan bagi warga Palestina di wilayah Gaza yang diduduki Israel.
Tenda-tenda di Jalur Gaza. (AFP/OMAR AL-QATTAA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Uni Emirat Arab (UEA) berencana membangun kompleks perumahan bagi warga Palestina di wilayah Gaza yang diduduki Israel.

Dalam sebuah peta yang dilihat Reuters dan orang-orang yang diberi informasi mengenai ini, terlihat bahwa UEA telah menunjuk sebuah lokasi untuk dibangun "Kompleks Perumahan Sementara Emirat".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lokasi itu di dekat Rafah, perbatasan Jalur Gaza dan Mesir yang dulunya kota berpenduduk seperempat juta jiwa namun sekarang nyaris sepenuhnya hancur imbas serangan Israel.

Meski begitu, rencana UEA ini diragukan sejumlah pihak karena beberapa alasan. Pertama, sebagian besar warga Palestina mungkin akan keberatan untuk ditempatkan di zona yang dikuasai Israel.

Mayoritas warga Palestina selama ini tinggal di wilayah Gaza yang dikelola kelompok milisi Hamas. Pemindahan warga Gaza ke wilayah yang dikuasai Israel berpotensi menciptakan perpecahan di Gaza.

Lebih lanjut, Mesir juga menentang pembangunan kompleks ini. Kepada Middle East Eye (MEE), para pejabat Mesir mengatakan pemindahan warga Palestina ke zona "garis kuning" bisa menjadi langkah de facto untuk memecah wilayah Gaza.

[Gambas:Video CNN]

Di samping itu, Mesir juga khawatir hal ini akan mengancam keamanan nasionalnya, termasuk mengenai potensi pengungsian massal ke Sinai, hal yang selalu ditolak Kairo.

Rafah merupakan wilayah pertama yang ingin direkonstruksi oleh Amerika Serikat (AS). Namun, banyak negara enggan mengalokasikan dana untuk rencana tersebut lantaran khawatir bahwa desakan Israel mengenai perlucutan senjata Hamas dapat menyebabkan pecahnya konflik kembali.

Rencana UEA sendiri tampaknya masih tahap awal. Kendati demikian, Abu Dhabi sedang berkoordinasi dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan Dewan Perdamaian.

Menurut para diplomat yang bicara kepada Reuters, inisiatif UEA ini mirip dengan proposal Trump soal Gaza. Para pejabat AS disebut berharap kompleks perumahan ini bisa menghasilkan momentum menuju pelucutan senjata Hamas, mendorong warga Gaza meninggalkan zona kekuasaan Hamas, serta menghilangkan populasi sipil dari kelompok Islamis tersebut.

Kenneth Katzman, seorang ahli Timur Tengah di lembaga think tank The Soufan Cente, mengatakan kompleks ini dirancang sebagai cara untuk secara bertahap "mencekik Hamas". Menurutnya, langkah ini baru bisa efektif jika program dibangun dalam skala besar.

"Hanya beberapa proyek perumahan saja tidak akan mengalahkan Hamas. Anda perlu melakukan banyak hal agar ada dampaknya," katanya.

UEA, yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada 2020, memandang Hamas dan kelompok-kelompok Islamis politik lainnya sebagai ancaman terhadap stabilitas Timur Tengah.

Laporan Reuters tidak menyebutkan siapa yang akan mengelola kompleks perumahan sementara tersebut.

Para diplomat dan analis sementara itu mengatakan kepada MEE bahwa UEA akan memainkan peran kunci di Gaza, menyusul penunjukan Nickolay Mladenov sebagai perwakilan tinggi untuk Gaza.

Mantan diplomat Bulgaria dan pejabat PBB tersebut mengemban tugas sebagai penghubung antara komite teknokrat Palestina dan Dewan Perdamaian Trump.

Setelah meninggalkan PBB, Mladenov bekerja untuk UEA di Akademi Diplomatik Anwar Gargash.

(blq/bac)


[Gambas:Video CNN]