Mantan Pacar Epstein Tolak Bersaksi di DPR AS, Minta Ampunan Trump
Mantan kekasih pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein, Ghislaine Maxwell, menolak memberikan kesaksian di hadapan Komite Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat.
Maxwell memilih bungkam dan hanya mau menjawab apabila Presiden AS Donald Trump memberinya pengampunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Time, deposisi atau pengambilan kesaksian pra sidang terhadap Maxwell tak menghasilkan apa-apa lantaran perempuan 64 tahun itu menolak menjawab satu pun pertanyaan yang diajukan Ketua Komite Pengawasan DPR James Comer pada Senin (9/2).
Maxwell enggan menjawab karena mau mendapat pengampunan lebih dulu dari Trump.
Pengacara Maxwell, David Oscar Markus, mengatakan kliennya siap bicara sepenuhnya dan sejujur-jujurnya jika diberikan pengampunan oleh sang Presiden.
"Maxwell siap bicara sepenuhnya dan dengan jujur jika diberikan pengampunan oleh Presiden Trump," kata Markus dalam sebuah pernyataan selama deposisi pada Senin (9/2).
"Hanya dia (Maxwell) yang bisa memberikan keterangan lengkap. Beberapa orang mungkin tidak menyukai apa yang mereka dengar tapi kebenaran itu penting. Misalnya, baik Presiden Trump maupun Presiden Clinton tidak bersalah atas kesalahan apa pun," lanjutnya.
Maxwell merupakan mantan kekasih Epstein yang juga terpidana pelaku kejahatan seksual anak. Ia dinyatakan bersalah atas perdagangan seks anak dan pelanggaran lain yang terkait dengan Epstein pada 2021.
Maxwell menjadi sosok kunci dalam kasus Epstein karena merupakan konspirator dan fasilitator utama di balik jaringan kejahatan seksual Epstein. Ia membantu Epstein dalam memikat dan menyalurkan anak-anak di bawah umur untuk dieksploitasi secara seksual.
Para anggota Komite Pengawasan DPR dari Partai Demokrat mengecam permintaan Maxwell akan pengampunan Trump karena menilai hal tersebut menghambat penyelidikan parlemen. Mereka juga kesal karena Trump terus berceloteh untuk membuka peluang pemberian ampunan tersebut.
"Dia terus menerus berkampanye untuk mendapatkan pengampunan dari Presiden Trump, dan Presiden juga belum mengesampingkan kemungkinan itu," kata anggota Kongres Suhas Subramanyam.
"Oleh karena itu, dia terus menolak untuk bekerja sama dengan penyelidikan kami," lanjutnya.
Comer sementara itu menyebut bungkamnya Maxwell "sangat mengecewakan" karena komite punya banyak pertanyaan tentang kejahatan yang dia dan Epstein lakukan. Komite juga berniat menggali lebih dalam soal kemungkinan adanya konspirator lain.
Sebelum deposisi digelar, sekelompok korban Epstein telah mendesak panel untuk kritis terhadap segala kesaksian Maxwell. Pasalnya, Maxwell pernah berbohong di bawah sumpah kepada Wakil Jaksa Agung Todd Blanche bahwa ia tak ingat pernah melihat Trump di rumah Epstein.
Padahal, email yang dirilis pada November menunjukkan Epstein pernah berkata kepada Maxwell bahwa Trump telah menghabiskan waktu "berjam-jam" di rumahnya.
Kelompok korban Epstein meminta agar panel DPR memastikan bahwa deposisi ini "tidak menjadi alat lain yang digunakan untuk merugikan atau membungkam para korban."
"Kebenaran, akuntabilitas, dan transparansi harus menjadi prioritas, bukan rehabilitasi narasi seorang pelaku perdaganan manusia yang telah dihukum," demikian isi surat permintaan para krban.
(blq/bac)[Gambas:Video CNN]


