RI Diklaim Kirim Wakil ke Israel soal Pasukan ISF, Ini Jawaban Kemhan

CNN Indonesia
Rabu, 11 Feb 2026 18:46 WIB
Pejabat militer Indonesia dikabarkan akan mengunjungi pusat komando AS di Israel untuk persiapan pengiriman International Stabilization Force di Jalur Gaza.
Pejabat militer Indonesia dikabarkan akan mengunjungi pusat komando AS di Israel untuk persiapan pengiriman International Stabilization Force di Jalur Gaza. (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perwakilan militer dari Indonesia diklaim akan mengunjungi pusat komando Amerika Serikat di Kiryat Gat, Israel, pada pekan ini untuk mempersiapkan pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) di Jalur Gaza Palestina.

ISF merupakan bagian dari upaya Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza.

Media Israel Ynetnews mengeklaim kunjungan perwakilan RI tersebut dilakukan untuk memulai persiapan pengerahan ribuan pasukan Indonesia "guna menggantikan tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di sepanjang Garis Kuning di Gaza pada akhir tahun ini."

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ynetnews, perwakilan tersebut akan berdiskusi dengan IDF mengenai wewenang dan tanggung jawab pasukan RI, yang jadi pasukan asing pertama di Gaza sejak 1967, serta membahas soal prosedur koordinasi tembakan dan aturan keterlibatan di wilayah antara komunitas Negev barat dan Jalur Gaza.

Sementara itu, Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan RI (Setjen Kemhan) Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait membantah ada perwakilan militer Indonesia yang akan berkunjung ke Israel terkait hal ini.

"Terkait pemberitaan tersebut, sampai saat ini belum ada rencana/agenda resmi perwakilan militer Indonesia untuk masuk ke Israel atau mengunjungi pangkalan militer AS di sana," ucap Rico saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat soal laporan Ynetnews tersebut, Rabu (11/2).

Rico menuturkan pada prinsipnya, hal-hal yang menyangkut kunjungan, akses, dan pengaturan operasional hanya dapat dipertimbangkan apabila sudah ada kejelasan kerangka hukum dan pengaturan misi, termasuk SOFA/Status of Forces Agreement dan mekanisme resmi yang disepakati.

"Jadi untuk saat ini, informasi itu (laporan Ynetnews) belum dapat kami konfirmasi," ucap Rico menambahkan.

Dalam laporannya, Ynetnews menyebut pasukan Indonesia nantinya akan dilatih dan dipersenjatai di Yordania atau Mesir. Ynetnews juga merinci pasukan RI tidak diperbolehkan beroperasi di wilayah Gaza yang dikuasai kelompok milisi Hamas.

"Misi mereka termasuk mengamankan pembangunan awal Rafah dan menjaga lokasi pengumpulan dan penyimpanan senjata Hamas, jika organisasi tersebut setuju untuk menyerahkannya, sebagaimana diuraikan dalam perjanjian gencatan senjata," demikian laporan Ynetnews.

"Pada tahap ini, kedatangan pasukan asing tidak dimandatkan untuk beroperasi di terowongan di kedua sisi Garis Kuning," tambah Ynetnews.

Sementara itu, pada Selasa (10/2), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memang sudah menyatakan Indonesia akan mengirim sekitar 8.000 prajurit ke Jalur Gaza untuk bergabung dengan ISF. Sementara itu, total pasukan ISF ditaksir mencapai sekitar 20 ribu personel yang berasal dari berbagai negara lainnya. 

"Belum, sedang dibicarakan. Tapi ada kemungkinan kita akan (kirim) kurang lebih di angka 8.000 itu. Total (tentaranya) 20 ribu," kata Prasetyo di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (10/2), ketika ditanya mengenai kapan pengerahan ini berlangsung.

Prasetyo menuturkan hingga kini Indonesia masih mempersiapkan skema pengiriman pasukan, termasuk komposisi personel dari masing-masing negara yang terlibat. Menurutnya, ada sekitar 20 ribu personel dari berbagai negara yang akan dikerahkan ke Gaza sebagai bagian dari ISF.

Terkait lokasi penempatan pasukan, termasuk isu penugasan di wilayah Rafah, Prasetyo menegaskan pemerintah belum menetapkan titik penempatan secara pasti. Belum ada rincian mengenai jadwal pengiriman pasukan, mandat, serta mekanisme operasional pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian tersebut.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak dalam kesempatan terpisah juga menyampaikan hingga kini rincian mengenai jumlah prajurit yang akan dikerahkan ke Gaza belum difinalisasi.

Kendati demikian, pelatihan untuk calon tentara di Gaza sudah dimulai, di mana mereka akan berfokus pada peran medis dan teknik.

"Kami sudah mulai melatih orang-orang yang berpotensi menjadi penjaga perdamaian. Jadi kami menyiapkan satuan teknik dan kesehatan," ujarnya.

(blq/rds/bac)


[Gambas:Video CNN]