Iran Bangun Bunker Beton di Situs Militer Rahasia, Waspada Serangan AS

CNN Indonesia
Jumat, 20 Feb 2026 06:35 WIB
Iran disebut telah membangun bunker beton dan mempercepat perbaikan sejumlah situs militer di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS.
Iran disebut telah bangun bunker beton di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS. Ilustrasi. Foto: MAXAR TECHNOLOGIES/Handout via REUTERS
Jakarta, CNN Indonesia --

Citra satelit memperlihatkan Iran telah membangun bunker beton di atas fasilitas baru di sebuah situs militer rahasia.

Iran juga disebut telah mempercepat proses pembangunan di lokasi yang dibom oleh Israel dalam serangan pada tahun 2024 lalu, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat beberapa pekan terakhir.

Dilansir Al Jazeera, citra satelit juga menunjukkan bahwa Iran telah "mengubur: pintu masuk terowongan di situs nuklir yang dibom oleh AS selama perang 12 hari tahun lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iran juga memperkuat pintu masuk terowongan di dekat lokasi lain, dan telah memperbaiki pangkalan rudal yang terkena serangan AS dan Israel.

Sekitar 30 km tenggara ibu kota Teheran, Kompleks Parchin merupakan salah satu situs militer paling sensitif di Iran. Israel dilaporkan menyerang Parchin pada Oktober 2024.

Citra satelit sebelum dan sesudah serangan menunjukkan kerusakan luas pada sebuah bangunan, dan rekonstruksi terlihat pada citra 6 November 2024. Pada Senin (16/2), struktur itu tertutup oleh beton.

Selain itu, Iran juga memperkuat pintu terowongan di lokasi lain dan memperbaiki basis rudal yang rusak akibat serangan. Kondisi ini terjadi di tengah pengawasan ketat negara-negara di kawasan dan dunia terhadap kemungkinan eskalasi besar.

Institut untuk Ilmu Pengetahuan dan Keamanan Internasional (ISIS) menyebut pembangunan di fasilitas baru Taleghan 2 itu sebagai "sarkofagus beton".

"Mengulur negosiasi memberi keuntungan: Dalam dua sampai tiga minggu terakhir, Iran sibuk menimbun fasilitas baru Taleghan 2 ... Lebih banyak tanah tersedia dan fasilitas itu mungkin segera menjadi bunker yang sepenuhnya tak dikenali, memberikan perlindungan signifikan dari serangan udara," tulis pendiri ISIS, David Albright, di X, seperti dikutip Al Jazeera.

ISIS juga melaporkan Iran menimbun pintu masuk terowongan di kompleks Isfahan dan memperkuat terowongan dekat Natanz.

Sementara itu, Washington berusaha menegosiasikan kesepakatan dengan Teheran mengenai program nuklirnya sambil mengancam tindakan militer jika pembicaraan gagal.

Pertemuan AS-Iran terakhir di Jenewa mencapai pemahaman prinsip utama, tapi belum tercapai terobosan.

Seiring jalannya diplomasi, kedua pihak meningkatkan tekanan militer. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggelar serangkaian latihan perang di Selat Hormuz, pada Senin dan Selasa pekan ini.

Pada Rabu, Teheran mengumumkan latihan militer laut gabungan baru dengan Rusia di Laut Oman. Sementara itu, AS menempatkan kapal induk USS Abraham Lincoln serta memerintahkan kapal induk kedua dikirim ke kawasan.

Pemerintahan Trump juga mengeluarkan ancaman baru terhadap Teheran.

"Iran akan sangat bijaksana untuk membuat kesepakatan dengan AS," ujar juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.

Trump menegaskan di media sosial jika Iran menolak kesepakatan, AS mungkin harus menggunakan pangkalan udara di Kepulauan Chagos untuk mencegah serangan dari rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya.

(rnp/dna)