Hizbullah Serukan 'Perlawanan' Satu-satunya Opsi Usai Kekejaman Israel
Kelompok Hizbullah memperingatkan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain selain terus bertempur setelah serangan udara Israel di Lebanon menewaskan delapan anggotanya, Sabtu (21/2).
Eskalasi ini terjadi di tengah upaya pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata kelompok pejuang tersebut.
Militer Israel mengonfirmasi telah menyerang pusat komando Hizbullah di wilayah timur Lebanon serta target yang terkait dengan Hamas di wilayah selatan pada Jumat kemarin. Israel berdalih serangan tersebut adalah hak untuk mempertahankan diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pejabat Hizbullah, Mahmud Qamati, mengutuk keras serangan di wilayah Bekaa tersebut dan menyebutnya sebagai "pembantaian baru".
"Pilihan apa lagi yang kita punya untuk membela diri dan negara kita? Apa pilihan selain perlawanan? Kami tidak lagi memiliki pilihan lain," tegas Qamati dalam pidato yang disiarkan jaringan Al-Manar, seperti dikutip AFP.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan total 12 orang tewas akibat serangan ini: 10 orang di wilayah timur dan dua orang di wilayah selatan. Di Baalbek, ratusan orang berkumpul mengibarkan bendera Hizbullah dalam prosesi pemakaman komandan Hussein Mohammad Yaghi.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyebut serangan ini sebagai "agresi terang-terangan" yang bertujuan menggagalkan upaya diplomatik.
Serangan terjadi hanya beberapa hari sebelum komite multilateral, yang diawasi Amerika Serikat, dijadwalkan bertemu untuk membahas stabilitas gencatan senjata yang disepakati sejak November 2024.
Ketegangan sendiri terjadi disebabkan antara lain, Pemerintah Lebanon sedang memulai fase kedua rencana pelucutan senjata Hizbullah, namun Israel menganggap progres tentara Lebanon tidak mencukupi.
Lalu, Koresponden melaporkan serangan Israel mengenai bangunan di area pemukiman di Bednayel dan jalur antara Riyak-Ali al-Nahri.
Parahnya, serangan Israel juga menghantam kamp pengungsi Palestina terbesar di selatan Lebanon. Israel mengklaim menargetkan Hamas, namun Hamas menyebut bangunan yang dihantam adalah kantor pasukan keamanan bersama di kamp tersebut.
Eskalasi di Lebanon ini bertepatan dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengancam akan melakukan tindakan militer terkait program nuklir Teheran.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, sebelumnya telah memperingatkan bahwa serangan apa pun terhadap Iran, akan dianggap sebagai serangan langsung terhadap Hizbullah.
(wiw)[Gambas:Video CNN]