Jakarta, CNN Indonesia --
Setiap memasuki bulan suci Ramadan, ribuan umat Islam di Yerusalem, Palestina, akan memadati Masjid Al Aqsa.
Sebuah situs Islam yang disucikan dan memiliki arti penting dalam perjalanan Nabi Muhammad. Namun, itu bukan berarti tanpa risiko keamanan. Sebab setiap Ramadan, otoritas Israel dipastikan membuat berbagai pembatasan terhadap jamaah bahkan hingga pelarangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ramadan tahun ini, Badan militer Israel COGAT pada Rabu (18/2) menyatakan warga Palestina yang ingin beribadah di Masjid Al Aqsa akan dibatasi jumlahnya jadi sebanyak 10.000 jemaah. bukan hanya itu, Para jemaah yang hendak memasuki kompleks diwajibkan mengantongi izin harian lebih dahulu apabila ingin melaksanakan salat Jumat.
Dikutip Middle East Monitor (MEMO), jemaah yang diizinkan masuk sendiri yakni pria berusia 55 tahun ke atas, perempuan 50 tahun ke atas, dan anak-anak hingga usia 12 tahun dengan syarat ditemani kerabat tingkat pertama.
Israel menangkap imam Masjid Al Aqsa
Menjelang Ramadan, Israel bahkan telah menangkap imam Masjid Al Aqsa, Syaikh Muhammad Ali Al Abbasi. Peristiwa itu terjadi di halaman Masjid Al Aqsa pada Senin (16/2) malam waktu setempat. Menurut laporan kantor berita WAFA, penangkapan terjadi tanpa alasan yang jelas.
Hal ini berlangsung di tengah meningkatnya tindakan brutal Israel terhadap Masjid Al Aqsa, termasuk pembatasan terhadap imam, penceramah, dan jemaah, serta meningkatnya serbuan kelompok pemukim ilegal di bawah perlindungan militer Israel.
Peristiwa ini memperpanjang daftar negeri zionis dalam melakukan pengetatan jamaah yang hadir. Tahun lalu misalnya, Israel melakukan pembatasan jamaah dengan melibatkan 3.000 polisi yang ditempatkan di sejumlah pos pemeriksaan.
Pos-pos itu tersebar di sepanjang jalan yang mengarah ke Yerusalem Timur dan Masjid Al Aqsa. Bahkan Israel memblokir warga Palestina yang baru dilepaskan negara itu untuk memasuki kawasan kompleks. Hal ini memicu kekecewaan dari jamaah.
Menurut Mustafa Barghouti, sekretaris jenderal Inisiatif Nasional Palestina, lebih dari 95 persen warga Palestina dilarang memasuki Masjid Al Aqsa.
"Bagian dari komunitas yang diizinkan masuk sangat kecil - orang-orang yang berusia di atas 55 tahun," katanya kepada Al Jazeera.
Itu pun dengan cara yang sulit. Pertama-tama, mereka harus mendapatkan kartu keamanan magnetik khusus dari Israel, yang membutuhkan waktu lama untuk mendapatkannya.
Apalagi larangan dan pembatasan itu juga diprovokasi oleh kaum Yahudi garis keras. Kelompok ultranasionalis Yahudi pernah menawarkan hadiah uang tunai kepada siapa pun yang mengorbankan seekor kambing di dalam Al-Aqsa, sebuah tindakan terlarang dan sangat provokatif.
Mereka seringkali mengganggu jamaah dan mendatangi Masjid untuk melakukan provokasi. Akibatnya, ketegangan dua kelompok meningkat dan menyebakan polisi Israel turun tangan. Namun aparat biasanya lebih banyak menangkap jemaah hingga melakukan penggerebekan.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Meski jemaah hanya datang untuk salat dan berdoa, namun aparat Israel selalu memiliki kecurigaan berlebih. Dikutip dari Jerussalempost, terletak di Kota Tua Yerusalem timur, kompleks Masjid Al-Aqsa, yang dikenal oleh umat Muslim sebagai Haram al-Sharif (Tempat Suci yang Mulia) dan oleh umat Yahudi sebagai Bukit Bait Suci, merupakan pusat pengabdian keagamaan dan identitas nasional.
Bagi umat Muslim, tempat ini adalah situs tersuci ketiga dalam Islam, sementara umat Yahudi menghormatinya sebagai lokasi dua kuil Yahudi kuno, menjadikannya situs tersuci dalam Yudaisme.
Namun kompleks ini telah dikelola sebagai wakaf, yaitu properti yang diperuntukkan bagi tujuan keagamaan atau amal Muslim, sejak Salahuddin merebut kembali Yerusalem dari Tentara Salib pada tahun 1187. Kompleks ini telah dikelola oleh Departemen Urusan Wakaf Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa yang ditunjuk oleh Yordania sejak tahun 1948.
Pengaturan ini berlanjut bahkan setelah Israel menaklukkan dan mencaplok Yerusalem timur pada tahun 1967, dan Israel mengontrol akses ke kompleks tersebut.
Karena itu, Israel kini tidak saja ingin mengontrol masjid ini dengan cara membatasi dan melarang jemaah memasukinya, tapi juga berniat menguasainya. Sebab bagi orang Yahudi, seperti dilansir dari Middle East Eye, penaklukan Al Aqsa yang mereka sebut Temple Mount sebagai simbol besar, yaitu tanda akhir zaman seperti dinubuatkan dalam kitab suci mereka.
Artinya, dengan merebut Al Aqsa dari tangan kaum muslimin, maka kaum Yahudi sama dengan mendeklarasikan kemenangan.
Bagi mereka, Temple Mount adalah situs tersuci dalam Yudaisme (agama Yahudi). Mereka meyakini pada zaman Romawi kuno, ada dua kuil yang menjadi pusat kerajaan Yahudi di situs tersebut. Masjid Al Aqsa yang dibangun di era kejayaan Islam diyakini kaum Yahudi berada di atas peninggalan kuil suci mereka.
Satu-satunya bagian yang tersisa dari The Second Temple, adalah Tembok Barat, yang menjadi tempat suci orang Yahudi untuk berdoa.
Atas dasar keyakinan itulah, bagi warga Yahudi, ada kepercayaan bahwa beribadah di dalam Temple Mount dan membangun kembali Kuil Ketiga di situs tersebut, sebagai tanda turunnya Mesias dan Hari Penghakiman.
Kemudian ada Kelompok Temple Movement yang menganjurkan penghancuran Al Aqsa dan menyerukan penyerbuan massal. Kelompok-kelompok garis keras Israel, berkoordinasi dengan pihak berwenang, telah lama melanggar kesepakatan yang rumit ini dan memfasilitasi penggerebekan situs tersebut serta melakukan doa dan ritual keagamaan.
Kelompok ultranasionalis Yahudi juga menawarkan hadiah uang tunai kepada siapa pun yang mengorbankan seekor kambing di dalam Al Aqsa, sebuah tindakan terlarang dan sangat provokatif. Sejak 2003, polisi Israel secara sepihak mengizinkan kelompok ekstremis Israel memasuki kompleks masjid, meski Departemen Wakaf Islam berulang kali menuntut penghentian tindakan itu.
Tidak heran media The New Arab menyebut kompleks Masjid al Aqsa sebagai "wilayah yang paling diperebutkan di dunia".
Banyak aspek sejarah situs ini, signifikansi keagamaan, dan status sosial-politiknya telah ada jauh sebelum berdirinya Israel dan terkait erat dengan status quo historis keseluruhan Kota Tua Yerusalem itu sendiri.
Pada tahun 1917, setelah mengalahkan Kekaisaran Ottoman, tentara Inggris menguasai Yerusalem. Setibanya di Gerbang Jaffa di Kota Tua, Jenderal Allenby turun dari kudanya dan masuk dengan berjalan kaki, yang saat itu dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap situs kuno tersebut. Hal itu menandakan bahwa otoritas Inggris bermaksud untuk mempertahankan status quo yang dipertahankan oleh Ottoman di kota itu selama empat ratus tahun.
Namun penguasaan Israel atas Yerusalem Timur yang diduduki, termasuk Kota Tua, telah melanggar beberapa prinsip hukum internasional yang menetapkan bahwa kekuatan pendudukan tidak memiliki kedaulatan di wilayah yang didudukinya dan tidak dapat melakukan perubahan permanen di sana.
"Israel tidak mau belajar dari sejarah, bahwa Al Aqsa adalah untuk Palestina dan untuk semua orang Arab dan Muslim, dan bahwa penyerbuan ke sana memicu revolusi melawan pendudukan," kata mantan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh.
Padahal, kedatangan jamaah ke masjid Al Aqsa hanya untuk sembahyang dan berdoa. Tidak pernah ada aksi kekerasan di dalam kompleks masjid itu, kecuali provokasi yang datang dari pihak Israel sendiri. Tahun lalu, laman media online Israel timeofisrael.com, menuliskan judul berita: "90.000 Umat Muslim Laksanakan Salat dengan Tenang Di Masjid Al Aqsa pada Jumat Pertama Ramadan". Isi berita menggambarkan kekhusuyukan umat Islam Palestina selama ramadan.
Situs ini juga menuliskan terjadinya bentrokan pada 2021 antara polisi Israel dan "umat Muslim yang taat di atas Bukit Bait Suci". Narasi "umat Muslim yang taat" untuk menggambarkan kondisi Islam Palestina yang sebenarnya hanya datang berdoa lalu pulang secara tertib.