PBB Sahkan Resolusi Gencatan Senjata Perang Ukraina, AS-RI Abstain
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan resolusi gencatan senjata terkait perang Rusia vs Ukraina melalui sesi khusus pada Selasa (24/2).
Resolusi dengan judul "Dukungan untuk Perdamaian Abadi di Ukraina" meraih dukungan 107 suara, abstain 51, dan menolak 12. Amerika Serikat, Arab Saudi, China, hingga Indonesia memilih abstain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Resolusi ini menyerukan "gencatan senjata segera, penuh, dan tanpa syarat" antara Rusia-Ukraina, menegaskan kembali dukungan untuk kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas Ukraina dalam batas yang diakui secara internasional.
Resolusi tersebut juga menyerukan perdamaian yang komprehensif, adil, dan abadi; pertukaran tawanan perang dan pemulangan warga sipil yang dipindahkan secara paksa, termasuk anak-anak.
Saat pemungutan suara, AS bahkan sempat meminta PBB melakukan pemungutan suara terpisah untuk paragraf-paragraf kunci yang menegaskan kembali kedaulatan Ukraina dan menyerukan perdamaian komprehensif sesuai hukum internasional.
Paragraf yang dimaksud yakni paragraf pembuka kedua dan paragraf operatif yang menegaskan kembali seruan perdamaian yang komprehensif, adil, dan abadi sesuai hukum internasional termasuk PBB.
Delegasi AS mengajukan permintaan itu dengan alasan bahwa jika paragraf-paragraf tersebut tetap dimasukkan dalam resolusi utama, akan "mengalihkan perhatian" serta upaya diplomatik AS saat untuk mengakhiri perang.
"Bahasa tertentu dalam resolusi tersebut cenderung mengalihkan perhatian dari negosiasi yang sedang berlangsung, alih-alih mendukung diskusi tentang berbagai jalur diplomatik yang dapat membuka jalan menuju perdamaian yang langgeng," kata salah satu delegasi AS.
Ukraina menentang langkah tersebut. Perwakilan Kyiv di PBB mengatakan langkah AS menghapus bahasa tertentu justru berbahaya.
"Melemahkan atau menghapus bahasa ini akan mengirim sinyal yang sangat berbahaya bahwa prinsip fundamental ini bisa dinegosiasikan," kata delegasi Ukraina.
Menanggapi resolusi tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Politik dan Perdamaian PBB Rosemary Dicarlo mengatakan perang Rusia-Ukraina tetap jadi noda dunia dan sudah saatnya gencatan senjata.
"Sudah saatnya gencatan senjata segera, penuh, dan tanpa syarat - langkah pertama menuju perdamaian yang adil, yang menyelamatkan nyawa dan mengakhiri penderitaan tak berkesudahan," jata Dicarlo, dikutip situs resmi PBB.
Dia lalu mengatakan perang telah menghancurkan kehidupan, meluluhlantakkan komunitas, dan memperdalam ketidakstabilan regional dan global.
Dicarlo juga menyoroti korban jiwa dengan lebih dari 15.000 warga sipil tewas, ratusan ribu terluka, dan jutaan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
"Seluruh generasi telah kehilangan tahun-tahun pendidikan karena sekolah-sekolah telah menjadi sasaran serangan," ujar dia lagi.
(isa/bac)[Gambas:Video CNN]


