Rubio Minta Warga AS Segera Tinggalkan Iran, Serangan Dimulai?

CNN Indonesia
Sabtu, 28 Feb 2026 05:40 WIB
Rubio memperingatkan agar tidak ada warga Amerika Serikat yang boleh bepergian ke Iran "dengan alasan apa pun".
Rubio memperingatkan agar tidak ada warga Amerika Serikat yang boleh bepergian ke Iran "dengan alasan apa pun". (FOTO:AFP/ALLISON ROBBERT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengumumkan bahwa pemerintah telah menetapkan Iran sebagai "negara pendukung penahanan semena-mena" atau state sponsor of wrongful detention pada Jumat (27/2).

"Rezim Iran harus berhenti menyandera dan segera membebaskan semua warga Amerika yang ditahan secara tidak adil di Iran. Langkah-langkah tersebut dapat mengakhiri penetapan status ini beserta tindakan-tindakan terkait lainnya," ujar Rubio dalam sebuah pernyataan.

Ia mengatakan bahwa ketika rezim Iran merebut kekuasaan 47 tahun lalu, Ayatollah Khomeini mengonsolidasikan kendali kekuasaannya dengan mendukung penyanderaan staf Kedutaan Besar AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama puluhan tahun, Iran terus menahan warga Amerika yang tidak bersalah secara kejam, serta warga negara lain, untuk digunakan sebagai daya tawar politik terhadap negara lain. Praktik menjijikkan ini harus diakhiri," tambahnya.

Rubio memperingatkan bahwa tidak ada warga Amerika yang boleh bepergian ke Iran "dengan alasan apa pun".

"Kami menegaskan kembali seruan kami bagi warga Amerika yang saat ini berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut," imbuhnya.

Sebelumnya pada Jumat (27/2), Departemen Luar Negeri juga telah mengizinkan personel pemerintah AS non-darurat dan anggota keluarga personel pemerintah Amerika untuk meninggalkan Israel karena adanya "risiko keselamatan."

AS dan Iran sedang dalam negosiasi terkait nuklir Teheran. Pembicaraan tersebut telah memasuki putaran ketiga pada Kamis (26/2), namun tanpa hasil berarti.

Meski begitu, menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ada kemajuan yang "baik" dalam negosiasi terbaru. Kedua pihak bahkan sepakat mengadakan "pembicaraan teknis" di Wina, Austria, pekan depan.

"Ini adalah pembicaraan yang paling serius dan paling lama," kata Araghchi.

Tim Iran, yang dipimpin Araghchi, telah menyerahkan proposal tertulis kepada Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi selaku mediator pada Rabu (25/2) malam.

Al Busaidi kemudian menyerahkannya kepada delegasi AS yang dipimpin utusan khusus Trump Steve Witkoff dan menantu Trump Jared Kushner pada Kamis.

Sejauh ini, tidak ada rincian mengenai hasil pembicaraan AS dan Iran pada Kamis ini.

[Gambas:Video CNN]

(ins)