Azerbaijan Klaim Diserang Drone Iran, Ancam Balas Dendam
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menuduh Iran melakukan serangan drone menargetkan bandara dan sekolah di wilayah perbatasan Azerbaijan pada Kamis (5/3). Aliyev mengancam akan membalas serangan drone tersebut.
Serangan siang hari itu diklaim melibatkan empat drone yang melintasi perbatasan dari Iran ke wilayah Nakhchivan, dengan satu drone menghantam bandara dan satu lagi meledak di dekat sekolah.
Rekaman video yang dipublikasikan oleh media Azerbaijan menunjukkan apa yang tampak seperti drone yang jatuh ke tanah dan meledak di dekat sekolah, diikuti oleh teriakan keras dari anak-anak di gedung tersebut. Namun, video tersebut belum dapat dikonfirmasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hari ini sebuah aksi teroris dilakukan dari pihak Iran terhadap wilayah Azerbaijan," kata Aliyev dalam pertemuan dewan keamanan, dikutip dari AFP.
"Militer Azerbaijan telah diinstruksikan untuk mempersiapkan dan melaksanakan tindakan balasan ... ditempatkan pada tingkat mobilisasi nomor satu, dan harus siap untuk melakukan operasi apa pun," katanya.
"Orang-orang yang tidak terhormat yang melakukan tindakan teroris ini terhadap kita akan menyesalinya. Jangan biarkan mereka menguji kekuatan kita... Noda ini tidak akan pernah terhapus dari wajah mereka yang kotor dan buruk rupa," tambahnya.
Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan telah mendeteksi empat drone yang diluncurkan oleh tentara Iran.
"Salah satunya dinonaktifkan oleh tentara Azerbaijan, sementara yang lain diarahkan ke infrastruktur sipil, termasuk gedung sekolah menengah selama jam pelajaran. Untungnya, drone yang menargetkan sekolah tidak mencapai sasarannya dan malah jatuh dan meledak di dekat sekolah," katanya.
Terminal Bandara Nakhichevan rusak, dengan video menunjukkan asap abu-abu mengepul di atas gedung setelah serangan itu.
"Empat orang dirawat di rumah sakit dengan cedera otak traumatis," kata Sahib Abuzarov, kepala layanan darurat di sebuah rumah sakit di Nakhichevan.
Azerbaijan memanggil duta besar Iran di Baku terkait insiden tersebut.
"Kami menuntut Republik Islam Iran untuk memberikan, dalam waktu sesingkat mungkin, penjelasan yang jelas mengenai kasus tersebut dan melakukan penyelidikan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Aykhan Hajizada.
Sementara itu Teheran membantah tuduhan tersebut dan menyalahkan Israel, sekutu Azerbaijan, karena mencoba melakukan provokasi.
Staf umum angkatan bersenjata Iran mengatakan tindakan Israel itu bertujuan mengganggu hubungan negara-negara Islam.
"Tindakan semacam itu oleh rezim Zionis, yang bertujuan untuk mengganggu hubungan antara negara-negara Muslim dengan berbagai cara, bukanlah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata mereka dalam sebuah pernyataan.
Para analis mengatakan bahwa jalur pipa minyak Baku-Tbilisi-Ceyhan Azerbaijan, yang melewati negara tetangga Georgia dan Turki dan mengangkut sekitar sepertiga impor minyak Israel, dapat menjadi target potensial bagi militer Iran.
Pada tahun 2024, Azerbaijan mengekspor 2,37 juta ton minyak ke Israel melalui jalur pipa tersebut, kata direktur Pusat Penelitian Minyak yang berbasis di Baku, Ilham Shaban.
"Jalur pipa tersebut terkubur di bawah tanah di sebagian besar rutenya, sehingga sulit untuk dinonaktifkan," katanya, menambahkan bahwa "fasilitas di atas tanah-seperti terminal dan stasiun pemompaan-masih rentan terhadap serangan drone Iran," ujarnya.
Iran telah lama menyatakan kekhawatiran bahwa Israel dapat menggunakan wilayah Azerbaijan untuk melancarkan serangan.
Namun, Azerbaijan meyakinkan Teheran bahwa mereka tidak akan mengizinkan penggunaan wilayahnya untuk tujuan tersebut setelah Israel melancarkan serangan skala besar terhadap target Iran.
Teheran secara historis waspada terhadap sentimen separatis di antara minoritas etnis Azerbaijan, yang berjumlah sekitar 10 juta dari 83 juta warga Iran.
(fra/afp/fra)[Gambas:Video CNN]

