Bangladesh Tutup Kampus Imbas Krisis BBM Buntut Perang di Timteng
Pihak berwenang Bangladesh menutup universitas, sekolah berbahasa inggris hingga pusat bimbingan belajar di seluruh negeri gara-gara krisis bahan bakar minyak dan listrik memburuk imbas perang Amerika Serikat-Israel versus Iran.
Kementerian Pendidikan Bangladesh mengeluarkan surat edaran yang mengarahkan kampus-kampus memulai libur Idul Fitri lebih awal dari jadwal biasanya. Ini secara efektif menutup seluruh universitas di dalam negeri. Penutupan tersebut mulai berlaku pada Senin (9/3).
"Keputusan ini diambil untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar dengan mempertimbangkan situasi global saat ini," demikian dalam surat edaran kementerian ke pihak universitas, dikutip Anadolu Agency.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak berwenang menyatakan langkah itu diambil untuk memangkas konsumsi listrik dan penggunaan bahan bakar karena pasar minyak global bergejolak.
Sejumlah pejabat juga mengatakan penutupan sementara ini akan membantu menurunkan penggunaan listrik di ruang kelas, laboratorium, asrama, dan gedung administrasi. Strategi itu juga bisa mengurangi konsumsi bahan bakar yang terkait dengan perjalanan siswa, guru, dan staf.
Sekolah-sekolah berbahasa Inggris dan pusat-pusat bimbingan belajar di seluruh Bangladesh juga akan ditutup mulai Senin.
Pihak berwenang menilai penangguhan kegiatan akademik selama periode ini akan secara signifikan mengurangi permintaan energi harian, terutama di daerah perkotaan.
Bersamaan dengan itu, pemerintah Bangladesh juga mengimbau lembaga dan kantor menggunakan listrik secara lebih efisien, termasuk memaksimalkan cahaya alami dan meminimalkan penerangan dan konsumsi daya yang tidak perlu.
Para pejabat meyakini penghematan listrik dan bahan bakar sangat penting guna menjaga pembangkit listrik yang stabil dan memastikan layanan penting tetap beroperasi.
Namun, pemerintah tak memberi rincian lebih lanjut berapa lama penutupan berlangsung. Mereka berharap jadwal akademik bisa berjalan normal usai Idulfitri.
Bangladesh sedang menghadapi tekanan terutama soal pasokan energi di tengah gejolak bahan bakar global menyusul konflik di Timur Tengah.
Menanggapi keputusan itu, para analis menilai langkah tersebut bisa memberikan bantuan jangka pendek. Namun, mereka mewanti-wanti gangguan terhadap kalender akademik yang berdampak ke pelajar jika krisis terus berlanjut.
Krisis BBM dan listrik di Bangladesh terjadi saat Amerika Serikat dan Israel membombardir Iran pada akhir Februari. Iran lalu meluncurkan serangan balasan ke Israel dan aset AS di Timur Tengah. Hingga kini, perang masih berlanjut.
(isa/dna)

