Benarkah Jenderal IRGC Esmail Qaani Mata-mata Mossad?
Jenderal Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Esmail Qaani jadi sorotan karena selalu lolos dari serangan Amerika Serikat dan Israel.
Operasi AS-Israel pada 28 Februari menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta beberapa anggota keluarga dan pejabat keamanan Iran meninggal dunia.
Qaani disebut-sebut justru selamat tanpa luka dalam serangan tersebut. Banyak kalangan menuduh Qaani agen mata-mata Israel jangka panjang di dalam internal Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu muncul laporan bahwa Qaani sedang diinterogasi oleh dinas keamanan internal IRGC. Hal ini memicu spekulasi publik bahwa Qaani merupakan mata-mata Israel (Mossad).
Spekulasi juga beredar luas di Timur Tengah bahwa saat ini Qaani menjadi tahanan rumah atau sudah dieksekusi. Sejak dilaporkan selamat, Qaani belum muncul di publik kembali.
Qaani menjadi komandan pasukan Quds, cabang IRGC, setelah Qasem Soleimani tewas dalam serangan AS pada 3 Januari 2020 di Bandar Udara Internasional Baghdad.
Sebagai kepala pasukan Quds, Qaani bertanggung jawab melatih dan mempersenjatai kelompok di luar Iran sejak 2020. Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman, adalah proksi Iran.
Lolos dari maut pada 28 Februari lalu bukanlah yang pertama bagi Qaani. Insiden serupa dialaminya saat AS dan Israel menggempur Iran pada Juni tahun lalu atau dikenal Perang 12 Hari.
Desas-desus itu kian panas usai Israel merilis daftar pejabat Iran dan pejabat terkait Iran yang ingin dilenyapkan. Dalam daftar 'lengkap' itu tidak ada nama Qaani di dalam list.
Isu serupa sempat dibahas akun X berbahasa Persia yang diyakini dikelola Mossad. Akun itu menyangkal bahwa Qaani adalah salah satu mata-mata dari pihak Iran.
Salah satu sumber Israel yang punya latar belakang di bidang intelijen juga mengatakan tak ada yang tahu pasti soal identitas atau peran yang dijalankan Qaani.
"Mungkin yang sebenarnya adalah dia memang seperti yang dia klaim, setia kepada rezim Iran, dan semua obrolan ini adalah bagian dari operasi melemahkan," kata sumber The Telegraph.
(isa/abs)