Kenapa Iran Lebih 'Mesra' ke China-Rusia Dibandingkan Negara Arab?

CNN Indonesia
Kamis, 19 Mar 2026 15:22 WIB
Iran disebut lebih akrab dengan Rusia dan China dibandingkan negara-negara Arab di kawasan Teluk.
Ilustrasi. Foto: iStock/Rainer Puster
Jakarta, CNN Indonesia --

Serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari lalu membuka banyak analisis terkait kawasan Timur tengah.

Israel dan AS adalah dua negara musuh Iran sejak 1979. Sementara Iran yang bertetangga dengan negara-negara Arab justru lebih "akrab" dengan China dan Rusia, dua negara yang menjadi penyeimbang kekuatan AS

Selama perang Ramadan kali ini, Iran disebut mendapat sokongan dari Rusia dan China, meski Beijing menyatakan bersikap netral. Sementara negara-negara Teluk yang berdekatan dengan Iran justru cenderung tidak membantu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Dr. Bichara Khader, Profesor Emeritus Université Catholique, Prancis yang mendalami masalah dunia Arab kontemporer, awalnya program nuklir Iran yang dilanjutkan pada awal tahun 1990-an yang kekurangan dana, tapi kurang mendapat dukungan negara-negara Barat.

"Saat itulah Iran beralih ke China, yang mulai sangat membutuhkan minyak dan gas Iran, dan terutama Rusia, yang dengan senang hati mengambil alih peran negara-negara Barat di negara yang sentralitas strategisnya tidak diragukan lagi," kata Bichara dalam laman european institute of mideterranean.

Kerja sama dengan Rusia menghasilkan penyelesaian unit pertama Pembangkit Listrik Bushehr, Iran. Kontrak tersebut ditandatangani pada tahun 1999. Perjanjian kerja sama dengan China, pada bagian lainnya, ditandatangani lebih awal, pada tahun 1990, untuk "transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir."

Kerjasama teknologi Iran dengan Rusia dan China ini, justru membangkitkan kemarahan AS yang memberlakukan serangkaian sanksi antara tahun 1995 dan 1996 terhadap perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran.

Sanksi tersebut membuat marah warga Iran dan memicu sentimen anti-Amerika yang hampir mendalam di kalangan mereka. Namun, sanksi itu juga sangat memukul kepentingan Eropa di Iran.

Memang, Iran mulai menjadi pasar yang menguntungkan bagi perusahaan minyak Eropa dan komunitas bisnis. Investasi penting telah dilakukan.

Dengan demikian, negara-negara Eropa menjadi sasaran langsung dari ekstrateritorialitas hukum Amerika, sebuah kekuasaan diskresioner yang memungkinkan AS untuk secara sepihak memutuskan untuk melarang negara lain berdagang dengan negara ketiga, seperti yang terjadi dengan Iran.

Dengan demikian, negara-negara Eropa melihat "kedaulatan" mereka terpengaruh, tetapi wajib mematuhi sanksi yang tidak mereka pilih dan yang bertentangan dengan kepentingan mereka.

Di sisi lain, Israel mulai mengancam, melancarkan kampanye untuk mengecam aktivitas nuklir Iran dan berteriak lantang bahwa mereka siap menghancurkan semua fasilitas nuklir Iran, mengklaim bahwa Iran merupakan ancaman "eksistensial" bagi Negara Yahudi.

Namun, meskipun benar bahwa Iran mungkin telah mensponsori beberapa serangan terhadap target Israel tapi Iran tidak pernah mengambil risiko konfrontasi langsung dengan negara Israel.

Dengan demikian, kata Bichara Khader, jelas bahwa isu nuklir Iran merupakan obsesi bagi AS dan Israel, yang kini dapat juga ditambahkan negara-negara Teluk, terutama Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Sebab bagi Arab Saudi, Iran yang memiliki teknologi nuklir akan lebih mengancam dan mendestabilisasi, serta akan menyebabkan proliferasi nuklir di kawasan tersebut.

Hal ini sebagian besar menjelaskan kesepakatan normalisasi baru-baru ini antara Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, berkat upaya Presiden Trump dan menantunya, Jared Kushner.

(imf/dna) Add as a preferred
source on Google