Kuba Tolak Negosiasi Jabatan Presiden dengan AS

CNN Indonesia
Sabtu, 21 Mar 2026 09:01 WIB
Menurut Kuba, sistem politik dan jabatan presiden tidak dapat dinegosiasikan dengan AS.
Menurut Kuba, sistem politik dan jabatan presiden tidak dapat dinegosiasikan dengan AS. (AFP/ADALBERTO ROQUE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kuba pada Jumat (20/3) menolak pendapat bahwa sistem politik atau masa jabatan presidennya menjadi subjek negosiasi dengan Amerika Serikat (AS). Hal ini merespons laporan bahwa AS berupaya menggulingkan Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel dari kekuasaan.

"Saya dapat secara tegas mengkonfirmasi bahwa ... sistem politik Kuba tidak dapat dinegosiasikan, dan tentu saja baik presiden maupun posisi pejabat mana pun di Kuba tidak dapat dinegosiasikan dengan Amerika Serikat," kata Wakil Menteri Luar Negeri Carlos Fernandez de Cossio dalam konferensi pers seperti diberitakan Reuters.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kuba mengatakan pekan lalu telah memulai pembicaraan dengan pemerintah AS yang memblokade minyak mereka hingga mendorong negara komunis ini semakin dalam ke dalam krisis ekonomi. Presiden AS Donald Trump juga sempat mengeluarkan komentar bahwa ia dapat melakukan "apa pun yang saya inginkan" dengan Kuba.

Diaz-Canel saat berbicara kepada sekelompok aktivis asing yang membawa bantuan kemanusiaan ke Kuba mengatakan Kuba sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan "agresi" AS.

"Kami tidak hanya berdiam diri. Pertama-tama, kami menyadari bahwa mungkin ada agresi terhadap Kuba," kata Diaz-Canel, yang belakangan ini menunjukkan sikap yang lebih menantang.

Ia mengatakan di media sosial pada Selasa bahwa "setiap agresor eksternal akan menghadapi perlawanan yang tak tertembus."

USA Today, mengutip dua sumber yang mengetahui rencana pemerintahan Trump, melaporkan bahwa Trump sedang mempersiapkan kesepakatan ekonomi dengan Kuba yang akan melonggarkan pembatasan perdagangan yang mencakup "jalan keluar" bagi Diaz-Canel.

The New York Times mengutip empat orang yang mengetahui pembicaraan tersebut, kemudian melaporkan bahwa pemerintahan Trump berupaya menggulingkan Diaz-Canel dari kekuasaan dengan sisa dua tahun masa jabatannya sebagai presiden dan lima tahun sebagai pemimpin Partai Komunis.

Kedua laporan tersebut mengatakan proposal AS akan membiarkan keluarga mantan presiden Fidel dan Raul Castro tetap tidak tersentuh.

Fidel Castro meninggal pada 2016, tetapi Raul Castro, 94 tahun, tetap sangat berpengaruh delapan tahun setelah menyerahkan jabatan presiden kepada Diaz-Canel.

Kesepakatan semacam itu akan menyerupai apa yang terjadi di Venezuela, di mana AS menggulingkan Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari.

Alih-alih mencoba memasang pemerintahan oposisi, AS telah bekerja sama dengan penjabat Presiden Delcy Rodriguez, mantan wakil presiden Maduro yang mengambil alih kekuasaan.

(fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]