20 Negara Nyatakan Siap Jaga Keamanan Lalu Lintas Selat Hormuz

CNN Indonesia
Minggu, 22 Mar 2026 06:00 WIB
Tahap awal, terdapat 6 negara menyatakan ingin berkontribusi memastikan keamanan Selat Hormuz, yakniInggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang.
Tahap awal, terdapat 6 negara menyatakan ingin berkontribusi memastikan keamanan Selat Hormuz, yakniInggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang. Ilustrasi (REUTERS/Dado Ruvic).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Inggris menyatakan ada 20 negara yang sudah menyatakan keinginan untuk berkontribusi memastikan keamanan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah.

Sebelumnya pada Kamis (19/3), enam negara pertama yaitu Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang mengeluarkan pernyataan bersama terkait hal tersebut.

"Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya," menurut pernyataan bersama, mengutip Antara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keenam negara itu menekankan bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional dan rantai pasok energi global "merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan global".

Negara-negara tersebut juga menyerukan supaya "moratorium yang komprehensif dan segera" diimplementasikan untuk mengakhiri serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk instalasi minyak dan gas.

Kemudian Sabtu (21/3) ini, pernyataan tersebut diperbarui dengan menambahkan 14 negara baru yang menyatakan kesediaannya bergabung mengamankan Selat Hormuz.

Negara-negara baru tersebut antara lain Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, Latvia, Slovenia, Estonia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Republik Ceko, dan Romania.

Sebelumnya pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk Teheran, sehingga menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa.

Iran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer AS di se-antero Timur Tengah.

Akibat ketegangan tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz, rute kunci untuk suplai minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global, berhenti total. Dampaknya, banyak negara mengalami kenaikan harga bahan bakar.

[Gambas:Video CNN]

(ins) Add as a preferred
source on Google